Merpati Hitam

Merpati Hitam
Tragedi


__ADS_3

Siang itu Gavin menjemput Freya dari toko bunga milik ibu Freya untuk makan siang bersama. Rencananya selepas makan siang mereka akan hunting pernak pernik kebutuhan pernikahan mereka yang akan di gelar 2 bulan lagi, mereka sengaja menyiapkan sendiri, bagi Freya ini adalah moment sekali seumurnya dan dia ingin menyiapkan segala sesuatu sesuai keinginannya dengan detail, beruntung Gavin yang bucin selalu menuruti apapun yang menjadi keinginan Freya, apapun yang penting baginya adalah kebahagiaan Freya, gadis yang paling dicintainya saat ini.


Freya menyambut kedatangan Gavin dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibir gadis itu, selalu Freya menyambutnya dengan hangat dan mencium tangan Gavin dengan takzim sungguh mereka adalah couple goals yang membuat iri siapapun yang melihat kemersaan mereka. Berbincang sebentar, kemudian merekapun berpamitan pada ibu Freya. Ada kelegaan luar biasa tengah dirasakan Ibunya Freya, beliau begitu bersyukur, karena gadis kecil kesayangannya kini telah menemukan pendamping yang tepat untuk menjadi pasangan hingga akhir hayatnya kelak. Tanpa terasa air mata haru penuh kebahagian meleleh di pipi ibunya yang meski sudah berumur namun tetap terlihat cantik awet muda, pantas jika Freya memiliki kecantikan alami yang mungkin sudah turunan dari orang tuanya.


Freya nampak begitu bersemangat saat memasangkan sittbelt pada tubuhnya.


"Jadi kita kemana dulu sayang?" tanya Gavin menyandarkan satu tangannya pada stir mobil.


"Hari ini kita ketemu Virda, dia yang nanti bikinin souvenier pernikahan kita, abis itu baru kita fitting buat prewedding." cicit Freya bersemangat.


"Hmm,, memang temen kamu buka usaha souvenir?"


"Iya mas, baru rintisan, ya sekalian bantu up marketing temen" Gavin mengusap kepala Freya yang tertutup hijab dengan gemas. Kemudian segera menyalakan mobilnya menuju alamat yang sedang diarahkan oleh Freya.


"Oia, Mas udah bilang kan sama Mas Satria buat atur jadwal mas kanbiar pas pemotretan nanti ngga bentrok" tanya Freya saat mereka tengah berhenti di perempatan lampu merah.


"Udah kok, Sabtu depan kan?" lirik Gavin


"Iya, sabtu depan, kalo bisa mas datang setengah jam lebih awal ya, biar bisa lebih prepare lagi" cicit Freya sembari lagi-lagi menyunggingkan senyuman manis pada Gavin.


Hampir satu jam mereka berkendara menuju kediaman Virda yang sekaligus menjadi studio tempatnya bekerja. Nampak Virda membawakan teh manis dan beberapa cemilan sebagai pendampingnya. Mereka berbincang sebentar membicarakan souvenir seperti apa yang diinginkan oleh Freya, Gavin terlihat santai melihat keriweuh dua gadis di depannya. Sesekali Gavin mengangguk dan ikut berkomentar saat dimintai pendapat,


"Gimana mas?" tanya Freya


"Mas sih ngga ada masalah ketiga contoh desainnya sama bagus, simple tapi alangkah lebih baik jika souvenir pernikahan kita bisa digunakan sehari-hari, jadi lebih bermanfaat" saran Gavin sembari meletakan gelas teh yang ada di tangannya. Freya menggangguk memahami maksud Gavin begitupun dengan Virda yang secara tiba-tiba menyarankan bibir bunga, sayuran, dan buahan, sebagai simbol kemakmuran, sebuah sajadah, al quran, dan tasbih sebagai simbol ketaatan, dan logam mulia sebagai keberkahan, kemudian nanti di tata apik dalam sebuah hampers berwarna dominan hitam request Gavin, berornamen tinta emas, dengan bertuliskan nama Gavin dan Freya tentunya.


Tak terasa 3 jam berlalu begitu saja, akhirnya merekapun merasa puas dengan hasil akhir goseran desain Virda pada secarik kertas.


"Virda jika kamu bosan, perusahaan saya dengan senang hati bisa merekrutmu menjadi desainer handal lho" cicit Gavin.

__ADS_1


"Masya Allah, Al hamdulillah, artinya bakat saya yang tidak seberapa bagus ini nanti bisa diterima masyarakat luas" jawab Virda tersenyum bangga.


"Saya serius lho" Gavin berusaha meyakinkan setelah melihat ada potensi besar dalam diri Virda yang sudah sepatutnya bisa lebih dikembangkan lagi.


"Saya benar-benar tersanjung sekali, Pak Gavin sudi merekrut saya di perusahaan bapak, bukan saya menolak rejeki dari Allah melalui tangan bapak tapi saya ini cuma lulusan SMA pak, lagipula kalo saya bekerja di perusahaan bapak, nanti tidak ada yang membantu ibu saya di sini, saya sudah sangat senang sekali bapak dan Freya mau mambantu kami dengan mengambil jasa kami, artinya beberapa karyawan di sini bisa menambah pundi-pundi rupiah yang bisa mereka bawa pulang ke rumah." mendengar penuturan alasan Virda yang langsung menolak penawarannya untuk bekerja di perusahaan miliknya Gavin sama sekali tidak tersinggung, justru ia malah merasa tersentuh dengan kebijakan yang dimiliki gadis itu, begitu tulus tanpa pamrih membantu orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggalnya.


" Saya ini ngga pernah di tolak lho" goda Gavin


"Maaf pak, kalo saya lancang, dan sudah berani menolak niat baik bapak," balas Virda balik meledek Gavin. Setelah rampung diselingi obralan ngalor kidul sampai Virdapun akhirnya tidak menolak tawaran Gavin untuk bekerjasama sebagai partner, yang artinya Gavin akan berinvestasi untuk pengembangan usaha rumahan milik keluarga Virda.


Waktu sudah semakin senja, Gavin dan Freya pun akhirnya berpamitan, karena mereka masih harus ke boutiq untuk fitting pakaian yang akan mereka gunakan untuk fotoshoot prewedding mereka di minggu depan.


Beruntung jalanan nampak lengang, jadi mereka bisa sampai lebih cepat dari perkiraan. Kedatangan mereka langsung di sambut sang pemilik Boutiq dengan antusias, segera beberapa karyawati membantu Freya menyiapkan diri, begitu pun Gavin. Tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan urusan mereka di Boutiq tersenyum, karena semua sudah sesuai, meski harus ada perbaikan untuk gaun Freya yang harus kembali dikecilkan ukurannya agar lebih pas di tubuh gadis itu.


"Kamu senang sayang?" tanya Gavin sambil menyetir mobilnya.


"Al hamdulillah kalo begitu Mas lega dengernya"


"Hh?? Kok Mas bilang gitu, kayak yang kepaksa?"tanya Freya langsung menghentikan kegiatan yang tengah membalas chat dari Faldo keponakannya.


"Bukan begitu sayang, ngga mau kamu kecapean karena mengurusi semuanya sendiri"


"Kata siapa sendiri, kan ada Mas" Freya kemudian bergelayut mesra dilengan Kiri Gavin yang tengah mengemudi. Gavin senang saja dengan perlakuan Freya.


"Mas berenti, aku mau beli rujak buah itu dulu, kaya seger banget" seru Freya sambil menunjuk abang rujak di sebrang jalan yang terlihat sedang sibuk melayani pelanggannya. Gavin segera menepikan mobilnya, dan Freya melepaskan Sittbelt yang melilit tubuhnya.


"Mas tunggu di sini ya, ribet kalo mesti putar arah dulu mah, nanti malah si abangnya ke buru pergi" seru Freya setelah melepaskan Sitbeltnya.


"Ya udah, ati-ati nyebrangnya" ucap Gavin mengingatkan Freya seperti pada anak kecil. Freya menganggukinya seraya tersenyum pada Gavin. Freya pun keluar dari mobil Gavin, terlihat dia menengok kanan kiri sambil melambai memberi kode agar pengendara lain bisa mengurangi kecepatannya karena di sana hanya jalan besar tidak ada rambu lalu lintas ataupun zebrocross untuk menyebrang, sedikit berbahaya tapi sudah lazim dan bukan hal yang aneh.

__ADS_1


Sesampainya di abang-abang penjual rujak, tak butuh waktu lama untuk mengantri karena ketika sampai pelanggan sebelumnya sudah selesai dilayani. Beberapa menit kemudian Freya pun sudah menenteng 2 buah plastik berwarna merah yang didalamnya terdapat 5 mika berisikan potongan buah-buahan segar, yang satu lagi bumbu rujak yang cukup banyak.


Ketika hendak menyebrang Freya melihat Gavin keluar dari dalam mobilnya, dan tersenyum begitu nentra mereka saling beradu. Melihat Freya yang sudah akan kembali menyebrang Gavin menyenderkan punggungkan pada mobil sambil bernyilang tangan di d**anya, terlihat begitu tampan yang membuat Freya tersenyum penuh kebanggaan karena bisa memiliki pria itu. Freya mulai berjalan menyebrang jalan menuju Gavin sambil terus menatap Gavin yang tengah menunggunya di sebrang sana.


"BRAAKKK !! cekiiittt !! Brug!!"


sebuah mobil tiba-tiba menabrak Freya dengan kencang hingga tubuh Freya melayang lalu terpental beberapa meter akhirnya tergeletak di aspal.


Di sisa kesadarannya Freya masih bisa melihat Gavin berlari ke arahnya dengan wajah penuh kepanikan yang berlari ke arahnya. Gavin berhambur mendapati tubuh gadis yang dicintainya yang mulai bersimbah darah yang mengalir dari kepala gadis itu. Gavin berteriak histeris memanggil nama Freya dan memeluk tubuh Freya yang mulai kehilangan kesadarannya. Tangan Freya berusah meraih wajah Gavin yang tengah meraung menangisi dirinya, dia sadar ini adalah akhir perjalannya kisahnya dengan sisa kekuatan yang ada Freya masih berusaha mengucap syahadat dan berkata dengan lirih pada Gavin


"Aku beruntung bisa menjadi bagian hidupmu ... Mas,," tangan Freya terkulai begitu saja dari wajah Gavin.


"Fre,, bangun sayang, bangun Fre,, bentar lagi ambulan datang Fre, bangun Fre,, kamu ngga boleh ninggalin aku kaya gini Fre, Freyaaa bangun Freyaa!!!" Gavin mengguncangkan tubuh Freya yang sudah tak bernyawa dengan frustasi. Tangisnya makin menjadi karena Freya tak juga memberi respon.


"Hikks,, aku mohon Fre.. Bangun Fre hiiks .. kamu ngga boleh pergi sekarang sayang.. hiiks, gimana pernikahan kita Fre.. hikss hikks Siapa yang nanti jadi pengantinku Fre.." raung Gavin putus asa. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut seperti ikut merasakan kepedihan Gavin saat itu. Terlihat beberapa dari merekapun ikut menitikan air matanya saat melihat Gavin yang terlihat begitu hancur memeluk jasad kekasihnya.


Ambulance baru datang 10 menit setelah kejadian, beberapa tim medi segera memeriksa tubuh Freya yang masih berasa dalam pelukan Gavin, makin meraung ketika tim medis menyatakan Freya sudah benar-benar tidak tertolong lagi.


"FREYAAAA !! Aarrrrgghh ! hiikss! Aku mohon kembali sayang,, " Gavin berteriak histeris dengan diiringi tangis pilu seperti orang gila, dirinya benar-benar merasa hancur hingga akhirnya dengan sangat terpaksa tim medis memberinya suntikan penenang agar bisa segera mengevakusi jenazah Freya dan dirinya, serta segera mengurai kemacetan di jalan itu.


"""""""


sarangheo ( ˘ ³˘)❤


mohon tinggalkan jejak like, koment dan share pada teman yang lainnya supaaya author makin semangat belajar menulisnya.


Emkoisay lei _~(^з^)-♡~(^з^)-♡


#########

__ADS_1


__ADS_2