
"Maaf Bapak Mahendra saya sudah merusak acara makan besar mereka" ujar Nayuwan tanpa ekspresi , sudut bibir menyungging menyeringai layaknya seperti iblis pada Mahendra yang tentu makin meradang saat melihat tingkah Nayuwan.
"Kamu, berani sekali mengganggu semua rencana ku perempuan sialan !" umpat Mahendra, mereka berdua seolah tidak terganggu oleh orang-orang yang berlarian dengan panik karena api makin membesar meski para pelayan yang sigap sudah menggunakan APAR untuk memadamkan api tersebut. Situasi makin chaos. Nayuwan menyondongkan tubuhnya, dari sorot matanya sama sekali tersirat adanya ketakutan. Netranya justru makin terlihat lebih menyeramkan dari tatapannya sebelum Mahendra mengumpat kepadanya.
"Saya peringatkan pada anda bapak Mahendra, jangan coba usik orang-orang disekitar saya, jika anda ingin menggunakan mereka untuk menyerang saya sekarang, saya pastikan orang yang akan mati di sini bukanlah saya!" ucap Nayuwan terdengar seperti tanpa emosi namun nyatanya mampu membuat Mahendra tidak berkutik.
"Kamu pikir kamu bisa keluar dari tempat ini dengan selamat perempuan sial ?!!"teriak Mahendra makin geram. Nayuwan memalingkan wajahnya, seringai di sudut bibirnya makin meninggi saat mendengar ancaman Mahendra. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya lantas berjalan ke arah Mahendra yang terlihat geram sekaligus gelisah. Nayuwan berjalan perlahan, ujung jari menyentuh permukaan meja hingga berjarak sekitar setengah meter saja dari tempat Mahendra duduk.
Raut wajahnya terlihat sangat datar, tatapannya menyipit seperti seorang psykopat yang sedang bermain-main dengan korbannya. Nayuwan kembali menyondongkan tubuhnya ke arah Mahendra yang kini jelas merasa sangat terintimidasi oleh Nayuwan.
"Anda pikir api itu tidak bisa padam karena siapa?" sekilas Mahendra melihat para pelayan masih berusaha mematikan api yang tidak juga kunjung padam. Ia nampak berpikir sejenak sebelum ia kembali menatap tatapan mata Nayuwan. Manik mata perempuan itu terlihat hitam pekat, binar mata awal berkenalan tadi seolah lenyap berganti dengan tatapan yang menebarkan aura yang sangat mengerikan.
"Bapak Mahendra, saya tahu dunia bisnis itu sangat jahat, kelam, mengerikan, tapi biasanya pengusaha besar seperti anda akan beraliansi dengan dunia hitam para mafia, gengster atau semacamnya. Sedang anda.. hhh?? " Nayuwan kembali memamerkan seringainya pada Mahendra yang kini lidahnya terasa kelu.
"Pantas saja sejak memasuki area Hotel ini tubuh saya seolah enggan untuk datang kemari, ternyata saya akan dijadikan salah satu tumbal pesugihan anda pckckck!!"
" Dan kalian " Nayuwan mengalihkan tatapan tajamnya kesekelilingnya"
" Masih berusaha ingin menjadikan aku bagian ritual tumbal, kalian ingin aku bakar sekalian atau bagaimana Hah ??!!" pekik Nayuwan.
"Kalian pikir dengan mengaburkan diri kalian aku tidak akan tau keberadaan kalian laknat?!!" umpat Nayuwan makin geram. Satu persatu makhluk bunian yang menjadi pesugihan Mahendra muncul tanpa berani mendekati Nayuwan yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Ampuni kami Diajeng Ayu" Mahendra yang mendengar suara kasat mata tersebut sontak membuatnya merinding sekujur tubuh, tenggorokannya terasa tercekat seperti tercekik sesuatu.
"Kali ini aku maafkan kalian semua. Tapi aku peringatkan pada kalian. Jangan pernah usik orang-orang yang berada di dalam aula ini tadi, satu orang saja kalian jadikan tumbal ritual, aku pastikan kalian semua akan hangus saat itu juga!" setelah Nayuawan berkata demikian perlahan api mulai bisa dipadamkan oleh petugas kebakaran yang beberapa menit lalu baru saja tiba. Nayuwan kembali beralih pada Mahendra terlihat gemetar punggungnya sudah basah oleh keringat dingin, beberapa tetes keringat menetes dari wajahnya. Nayuwan menghela nafas, meredam emosinya yang tadi sempat meluap.
"Bapak Mahendra, lain kali jika ingin bermain hal semacam ini, pastikan bahwa target anda bukan seseorang macam saya."
"Siapa kamu sebenarnya?" Mahendra akhirnya bisa membuka mulutnya yang tadin terasa kelu.
"Saya? Saya cuma orang biasa. Sama seperti anda. Tapi jika anda penasaran silahkan tanyakan pada orang anda, siapa itu "Diajeng Ayu", saya yakin mereka tau " ujar Nayuwan dengan tatapan kembali mengintimidasi Mahendra.
"Oya, saya minta tolong pada Bapak, jangan usik orang-orang disekitar saya, atau saya akan hancur bapak hingga tanpa bersisa, biarkan saya menjalani hidup normal saya, atau saya akan membuat anda memohon untuk kematian anda sendiri kepada saya, saya sudah terlalu lama berada di sini, mari saya bantu bapak keluar menuju tempat yang aman, kaki anda kan terluka, saya tidak mungkin membiarkan anda di sini sendirian, mari saya bantu papah hingga ke lobi" ajak Nayuwan, dan benar saja kaki Mahendra terlihat terluka mengalirkan darah segar seolah kakinya telah tertimpa sesuatu. Mahendra menatap lekat wajah Nayuwan yang terlihat tengah menyeringai mengerikan padanya.
Di lobi Gavin sudah tidak bisa lagi menunggu Nayuwan dengan tenang keluar dari aula, bahkan beberapa petugas keamanan berusaha mati-matian menahannya agar tidak menerobos ke dalam aula yang sedang terjadi kebakaran.
"Tolong tenang pak, para petugas sedang berusaha mengevakuasi orang-orang yang masih terjebak di dalam pak, lebih baik bapak bantu doa agar semua bisa terselamatkan tanpa ada korban jiwa" ujar petugas berbadan tegap kepada Gavin yang terus meronta sambil menangis histeris.
Gina pun tak kalah panik dengan dengan Gavin, hingga matanya menangkap sosok seorang yang ia kenal tengah memapah seseorang yang terluka di bagian kakinya.
"Pak Gavin itu itu.. itu ibu Nayuwan!" teriak Gina sembari menunjuk dan melonjak-lonjak, bola mata Gavin membulat sempurna, kemudian mendorong tubuh petugas yang menghalanginya sekuat tenaga lalu berlari menghampiri Nayuwan yang sedang membantu Mahendra yang sedang terluka. Nayuwan kemudian segera melepaskan tangan Mahendra dari bahunya lalu menyerahkannya kepada petugas.
"Tuan, kamu.." ucapan Nayuwan terpotong begitu saja saat Gavin memeluk Nayuwan, ia menangis karena Nayuwan keluar dari aula yang terbakar dengan selamat.
__ADS_1
"Tuan, tuan tolong lepasin, saya engap, ngga bisa nafas ini ohok ohokk" Nayuwan berusaha melepaskan pelukan Gavin yang makin erat memeluk dirinya.
"Maaf maaf, kamu ngga ada yang luka kan Queen? Harusnya tadi aku ngga ngebiarin kamu masuk lagi buat pamitan sama si b*****k ini" umpatnya pada Mahendra yang sedang menerima pengobatan dari team medis.
"Tuan, Tuan.." pekik Nayuwan sedikit membentak Gavin yang tak bisa tenang. Gavin seketika terdiam menunduk dengan puppy eyes "Cih !" Mahendra mendecih mencibir melihat tingkah Gavin seperti tingkah anak anjing yang tengah di hukum majikannya.
"Tuan lihatkan aku ngga apa-apa, lebih baik kita pulang yuk, aku lelah" ajak Nayuwan sembari mengangkat wajah Gavin dengan kedua tangannya.
"Boleh peluk sekali lagi" pinta Gavin dengan wajah memelas yang nampak menggemaskan, Nayuwan tersenyum lalu mengangguk, mengizinkan Gavin memeluknya agar Gavin menjadi lebih tenang. Gina dan Satria sama-sama menghela nafas melihat hal itu, masing-masing dari mereka sama-sama mengucap syukur karena Nayuwan berhasil keluar dan selamat dari kebakaran tersebut. Gina menyadari beberapa wartawan sudah mulai berdatangan, Gina segera menghampiri Gavin yang masih memeluk tubuh Nayuwan.
"Maaf pak, bu, saya tidak bermaksud merusak moment" Nayuwan dan Gavin segera melepaskan pelukannya dengan salah tingkah,
"Tapi baiknya kita segera pergi dari sini, beberapa wartawan sepertinya sudah mulai berdatangan" Gavin dan Nayuwan mengangguk hampir bersamaan, Gavin dengan sigap menggenggam tangan Nayuwan dan berlari menuju tempat mobil mereka terparkir yang di dalamnya sudah ada Satria yang sudah menyalakan mesin mobil agar mereka bisa segera meninggalkan Hotel tersebut.
Tanpa mereka sadari sepasang sedari tadi sudah mengawasi mereka dengan tatapan yang dipenuhi dengan sorot mata kecemburuan yang berapi-api.
"Kamu itu milik ku Vin, jika bukan aku yang menjadi pendampaingmu, maka perempuan itu pun tidak akan pernah menjadi istrimu" ucap perempuan itu dengan penuh kemarahan.
********
sarangheo
__ADS_1
********