Merpati Hitam

Merpati Hitam
Piktor


__ADS_3

Terlihat pria yang mungkin lebih tua dari Ayahnya Nayuwan itu menundukan kepalanya makin dalam. Beberapa kali ia menghela nafas yang terdengar pasrah dengan keadaan ini.


"Baiklah pada intinya saya hanya ingin mencoba menolong keluarga anda terlepas dari jeratan makhluk itu tapi tentunya ada harga yang harus dibayar"


"Apa anda akan meminta tumbal seperti makhluk itu?" tanya Gusman.


"Anda pikir saya ini ajudan kanjeng ibu, Nyi Blorong?" Gusman seolah tercekat, bola matanya membeliak saat mendengar Nayuwan dengan entengnya meremehkan Nyi Blorong yang terkenal juga dengan kesaktiannya.


"Apa anda..?"


"Sudah, tidak usah bersilsilah bisa-bisa ngga tamat-tamat ini novel" hardik Nayuwan, membuat Gusman melengos muka sembarang sekaligus mendengkus melece saat mendengar penuturan Nayuwan yang ia pikir ada benarnya juga,


"Baik saya akan to the point saja. Syaratnya saya hanya meminta kalian untuk kehilangan seluruh aset kekayaan yang berasal dari makhluk itu, apapun kalian harus merelakan dan mengikhlaskannya."


"Hanya itu?" tanya Gusman heran.


"Ya hanya itu, dan tentu saja harus dengan pertobatan kalian kepada Tuhan"


" Anda yakin?" Gusman bertanya untuk lebih meyakinkan dirinya.


"Tapi bagaimana dengan orang-orang yang bekerja di perusahaan konstruksi, dan restoran kami"


"Saya memiliki perusahaan konstruksi yang belum beroperasi optimal karena memang baru sekitar bulan lalu gedungnya jadi, jika anda bersedia saya bisa memberikan perusahaan itu pada anda secara cuma-cuma" Ucap Gavin menjegal Nayuwan saat akan berbicara soal kompensari penawaran kepada Keluarga Mahendra, begitu mendengar penuturan Mahendra yang terdengar mengkhawatirkan para pekerja jika mereka bangkrut.


"Anda jangan bercanda pak Presdir"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Apalagi situasi anda saat ini bukan waktunya saya untuk bermain-main bukan? Dan saya yakin penawaran saya jauh akan lebih baik dari pada pewaran yang akan diajukan istri saya, benarkan sayang? " tekan Gavin, Nayuwan melirik sinis pada Gavin yang main asal serobot saja.


"Benar yang dikatakan Tuan barusan, saya tadi memang akan menawarkan uang sejumlah 2 Miliar, agar para pekerja tetap bisa dibayarkan pesangonnya sisanya mungkin bisa digunakan untuk modal memulai usaha baru. Tapi sepertinya penarawan Tuan Gavin lebih masuk baik dari pada penawaran yang akan saya tawarkan"


"Tapi sayangnya perusahaan itu ada di Kalimantan"


"Kami setuju dengan penawan yang pak Presdir Gavin ajukan" ucap Gusman seolah tanpa berpikir panjang. Tapi sesungguhnya alasan ia langsung merimanya karena daerah di sebut Gavin adalah kalimantan, tempat dengan perlindungan magisnya masih sa


ngat kuat, dengan pertimbangan itu artinya keluarganya akan benar-benar bisa memulai kehidupan barunya tanpa merasa takut dengan bayang-bayang teror Kanjeng Gusti.


"Baiklah jika memang begitu, tolong cap darah anda di sini" kata Nayuwan sembari menyodorkan kembali 2 gulungan tadi. Dengan cepat Gusman menusukan paku jarum pada ibu jarinya, lantas di ikuti oleh yang lainnya. Nayuwan tersenyum puas.


"Untuk soal perusahaan silahkan nanti Pak Mahendra datang ke kantor saya" Mahendra hanya mengangguk saja tanpa banyak bertanya lagi.


"Tidak perlu khawatir, semua sudah tersedia di sini. tapi sayangnya itu hanya di luar gerbang rumah ini hanya replika supaya kalian tidak bosan. Karena akses internet juga di sini tidak terkoneksi, saya sudah menyediakan beberapa disk film, buku-buku Novel madsn majalah alat rajut dan sulam, juga PS. yang tidak ada hanya alat perdukunan sebagai gantinya saya memberikan ini untuk paman." Nayuwan menyerahkan sejadah, Quran berukuran sedang, kopiah, sarung, serta tasbih. Tiba-tiba saja paman berlutut dihadapan Nayuwan sembari memeluk erat apa-apa yang baru saja Nayuwan berikan kepadanya. Ia menangis sejadi-jadinya, namun tidak terasa adanya kesedihan dalam tangisnya. justru terasa ada perasaan hangat, lega, haru, dan rasa syukur seolah ia baru saja terbebas dari kurungan penjara selama bertahun-tahun. Begitupun dengan ayah Mahendra yang memeluk iba tubuh adiknya itu.


Ia memang sempat menyalahkan Nayuwan karena menganggap telah mencelakai putranya, namun sekarang ia bersyukur karena dengan kejadian itu seolah menjadi pembuka jalan atas apa yang selama ini menjadi harapannya kepada Tuhan agar bisa terbebas dari makhluk sesat itu. Melihat semuanya sepertinya akan berakhir baik, Nayuwan yakin dengan keputusannya kali ini untuk ikut campur dalam masalah ini. Meski awalnya ia enggan untuk melakukan hal itu, jika saja saat itu ia tanpa sengaja mendengarkan ucapan jin yang bergibah didekatnya. Makanya ia sempat mengumpulkan teman-temannya sampai menyuruh Haidar berpuasa itu hanya option lain kalau-kalau keluarga Mahendra menolak cara damai yang ditawarkannya. Namun sepertinya intuisi Nayuwan terlalu jauh mengenai level ketamakan seseorang, terbukti keluarga Mahendra malah seolah menyambut gembira dengan tangan terbuka uluran tangan yang ia berikan pada mereka. Ibarat seseorang sedang di dalam lubang sebuah sumur yang dalam, jika ia sendiri tidak mau meraih tali dari seseorang yang berada di atas sumur itu maka akan sia-sia saja. Kemudian Nayuwan dan yang lainnya pun undur diri meninggalkan keluarga Mahendra di rumah itu, mereka kembali ke restoran semula tempat mereka tadi sedang makan malam. Gavin melirik jam tangannya.


"Hmmm ternyata belum ada 5 menit berlalu di dunia manusia." gumam Gavin. Lalu ia memanggil seorang pelayan untuk meminta bill pembayaran agar mereka segera pulang.


"Yusuf apa kamu akan terus bermain-main? cepat kembali ke dunia paralel, keluarga Mahendra sudah aku tempatkan di tempat yang aman" batin Nayuwan.


Yusuf yang tengah menikmati pertarungannya dengan makhluk itu sedikit merasa kesal dengan penuturan Nayuwan, karena harus menyudahi permainannya.


"Baik saya mengerti Diajeng" sahutnya.

__ADS_1


"Heh makhluk jelek, kali ini kamu selamat, tapi jika masih berusaha untuk menikahi Diajeng, kau akan berhadapan dengan ku," ancam Yusuf sembari menekan leher makhluk pada sebuah batang pohon. Selanjutnya ia pergi menghilang begitu saja tanpa peduli dengan makhluk itu.


"RRRHHH AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRGGHHHHHH" siapapapun orang yang mendengar suara geraman makhluk itu parti akan bergedik ngeri ketakutan. Bahkan Nayuwan pun bisa merasakan aura kemarahan yang begitu kuat membuat bulu kuduknya meremang hingga merasa mual dibuatnya.


"Hoek ,, !! " Nayuwan memuntahkan kembali seluruh isi perutnya.


"Queen are you oke?" Gavin terlihat panik seraya mengambil beberapa lembar tissu.


"I'm fine Sir, but you car.." Nayuwan terlihat merasa bersalah karena telah mengotori mobil Gavin.


"This is absolutely not important for you to worry about, the most important thing now, are you sure you're ok?" Gavin menepuk nepuk punggung Nayuwan sembari meraih freshc*re dan air mineral yang diberikan Gina kepadanya. Nayuwan mengangguk dengan wajah yang terlihat pucat pasi,


"Pak pijat tengkuk ibu, biasanya itu efektif untuk meredakan mual" ujar Satria yang memperhatikan dari spion depan mobil. Gavinpun yang tadi hanya mengusap dan menepuk-nepuk pelan punggung Nayuwan pun mengikuti saran Satria memijat tengkuk Nayuwan dengan perlahan.


"Stop it Sir !!" hardik Nayuwan ketus namun terlihat bergidik geli, namun Gavin yang melihat respon semacam itu dari Nayuwan malah tersenyum tipis.


"Aah itu daerah sentitifnya, awas kau ya saat kita sudah menikah akan ku buat kau tidak berdaya" lalu ia menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran kotornya karena muncul disaat yang tidak tepat.


*****************


sarangheo


͡° ͜ʖ ͡°


__ADS_1


__ADS_2