
Setelah membayar bill restoran Moya dan Ardilla kemudian memutuskan ke Beauty House yang katanya sudah di renovasi. Turun dari eskalator Moya memandang outlett baru BeautyHouse yang ada di depannya. Matanya terpaku untuk sesaat, seolah telah mengagumi outlett yang kini berwajah baru itu. Ini pertama kalinya dia melihat perubahan drastis BeatyHouse yang signifikan. Menenangkan adalah julukan pertama yang ia sematkan pada beautyhouse yang sekarang, dekorasinya tertata lebih epik, jika kemarin bernuasa romantis dengan domasi lilac dan lavender, kini lebih nuasa ke biru muda yang lebih kalem dan lembut.
"Tempatnya terasa jadi luas dan lebih fresh, suka gue...," celetuk Moya pada Nayuwan yang tengah asyik sendiri memeriksa beberapa file di laptopnya. Senyumnya tersungging dari kedua sudut bibirnya, "kayaknya gue bakal sering-sering main ke sini, deh" Moya menoleh ke arah Ardilla, kemudian kembali tersenyum. Nayuwan yang mendengarnya menggeleng sedikit heran ada gerangan apa yang membuat Moya mau sering main ke beautyhouse.
"Tumben ?? Ada angin apa, lo mau sering main ke sini?" tanya Nayuwan sedikit heran.
"Biasalah bu, dia ada mangsa baru, dan kayanya dia kerja di gedung atas" seloroh Ardilla menjelaskan sedang Moya nampak acuh tak acuh dengan wajah yang berseri. Nayuwan menautkan kedua alisnya ketika membicarakan orang atas, yang tentu saja pasti orang-orang FJC.
"Orang atas? Siapa?" Nayuwan makin penasaran.
"Hmm,, nah bener tuh Moy, si ibu pasti cowok yang lu tabrak tadi" ucap Ardilla sambil menggoyangkan telunjuknya ke arah Moya.
"Oia napa gue sampe lupa, sama Presdir Gavin aja kenal akrab.. Hmm lo kenal Rendra ngga bu?" tanya Moya dengan mata berbinar.
"Hh??" Nayuwan seolah menajamkan pendengaran.
"Rendra, duh tapi gue lupa nama belakangnya" ucap Moya seketika mengerucutkan bibirnya. Belum Nayuwan menjawab terdengar suara bariton dari depan menyebutkan namanya sendiri.
"Rendra Chaerul Tanjung" ucap pria yang kini berdiri tepat di belakang Moya, sontak membuat Moya membeku saat itu juga, bulu romanya meremang, darahnya terasa mengalir lebih deras hingga membuat wajah dan telinganya terasa sedikit lebih panas.
"Hai sweety" sapa Rendra menyapa Nayuwan.
"Hai Ren, panjang umur kamu" jawab Nayuwan.
"Sweety? Kok dia manggil ibu "sweety"? Kalian pacaran? yah layu sebelum berkembang dong" celetuk Ardilla sengaja membuat Moya kesal. Dan benar saja raut wajah Moya yang tadi sumbringah seakan mendapat lotre kini berubah muram. Senyumnya hilang entah kemana. Sepertinya benar dia mungkin sudah jatuh cinta pada Rendra sejak pandangan pertama, tapi mana mungkin dia mau bersaing dengan Nayuwan yang notabennya adalah sahabatnya sendiri.
"Saya memang sejak lama memanggil Nayuwan dengan panggilan sweety, soalnya dia manis banget kalo senyum" ujar Rendra begitu saja menggoda Nayuwan, reflek tangannya memukul lengan Rendra, mereka seakan tidak peka pada Moya yang patah hati.
"Pak Rendra jangan usil begitu, berabe kalo kalo kedengeran Pak Gavin," celetuk Gina dari arah belakang sambil membawa beberapa sample makeup dan skin care merk baru yang nantinya akan dipajang di Beauty House.
__ADS_1
"Ngga lah, Nayuwan itu udah saya anggap kayak ade sendiri, lagian saya udah ada wanita yang saya suka" ujar Rendra tersenyum lebar sembari memasukan satu tangannya ke saku celananya, seraya menatap ke arah Moya yang masih terdiam terpaku.
"Playboy mau tobat nih ceritanya?" Nayuwan mencibir Rendra yang masih menatap ke arah Moya yang masih tertegun mencerna arah pembicaraan Rendra.
"Entahlah"ujar Rendra mengambang, bahunya bergedik kemudian menyugar rambutnya yang ikal.
"Kalo kamu main-main sama sahabatku aku laporin kamu ke Gavin" ancam Nayuwan terang-terangan menjadikan Gavin menjadi tamengnya, Rendra hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pucuk kepala Nayuwan yang tertutup hijab . Moya yang mendengarnya perlahan kembali cerah. Bibir bawahnya ia gigit tipis, kembali seulas senyuman terkembang dibibirnya, dan pipinya kembali merona.
"Eh perawan tua, ngapain lo senyum-senyum sendiri, kesurupan lo?" ujar Ardilla sembari melempar sample masker mask ke arah Moya yang mencebik, namun makin terlihat salah tingkah. Ardilla memutar bola matanya, tapi ikut tersenyum geli melihat tingkah Moya seperti abege yang baru ketemu cinta monyetnya. Gina yang bingungpun melirik ke semua orang. Nayuwan terkekeh melihat tingkah Moya yang sepertinya memang benar-benar jatuh cinta pada Rendra serta ekspresi kebingungan Gina asistennya.
Sementara Gina yang masih belum memahami situasinya pun bertanya tanpa suara pada Ardilla. Namun Ardilla hanya menanggapinya dengan memutar telunjuknya di samping pelipisnya, sembari melirik ke arah Moya dan Rendra. Yang bisa diartikan Moya sedang tidak waras karena Rendra.
***********
Ardilla turun dari mobil Rendra dengan membawa tas belanjaanya. Rendra memurunkan kaca pintu mobilnya ketika Ardilla membungkukan tubuhnya ke arah mobil.
"Pak Rendra tolong anterin sahabat saya ini ya, tapi jangan dibikin lecet lho" ujar Ardilla melirik sahabatnya yang memberi isyarat pada sahabatnya untuk jangan banyak bicara lagi.
"Wah KDRT dong itu namanya pak" Ardilla mengerucutkan bibirnya. Sedetik kemudian dia menengok Moya yang sedang melamun " wah otaknya traveling kemana lagi ni tante" gumam Ardilla dalam hati tersenyum miring.
"Woiii ngelamun aja lo, belum apa-apa lo udah traveling aja, apalagi kalo udah sah" teriakan Ardilla sontak membuat Moya terkejut sekaligus membuyarkan pikiran kotornya beberapa saat lalu.
"Apaan si lu, bikin kaget aja" ujar Moya ketus. Rendra kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Lagian matahari masih nyorot aja lu udah traveling kemana-mana, bahaya.. bahaya,, " ceroscos Ardilla mengomel pada Moya yang kadang otak mesumnya hinggap ngga tahu sikon. Kembali Moya hanya mencebik menaikan bibir atasnya dengan dongkol.
"Ya udah saya anterin Moya dulu ya,, ntar keburu malem makin bahaya takutnya malah terjadi hal-hal yang diinginkan"
"Yah beneran ini mah Buaya ketemu pawang" Ardilla bersedekap lalu menggelengkan kepalanya. Rendra hanya tersenyum tak menjawab lagi, setelah menyalakan mesin mobil kemudian Rendra dan Moya pun melambai tangan kepada Ardilla yang sudah berdiri di pintu gerbang rumahnya.
__ADS_1
Tinggalah Ardilla sendirian menatap belakang mobil yang mulai melaju meninggalkan Ardilla yang masih melambaikan tangannya. Perlahan Ardilla menurunkan tangan dengan perlahan setelah mobil Rendra benar-benar menghilang di ujung belokan jalan. Dengan gontai ia mendorong pintu gerbang rumahnya, namun belum berapa langkah ia kemudian berjongkok dengan menelungkupkan wajahnya lalu menangis histeris sejadi-jadinya.
Ardilla selalu seperti itu setelah putus dari Johan, menyembunyikan tangis dan luka hatinya dari para sahabatnya. Terkadang dia merasa iri pada para sahabatnya yang satu persatu menemukan jalan kebahagiaannya.
"I just wanna live in this moment forever
'Cause I'm afraid that living couldn't get any better
Started giving up on the word "forever"
Until you gave up heaven so we could be together.." Ardilla menghentikan tangisnya sesaat saat mendengar ponselnya berdering. Matanya menyipit saat membaca no tak dikenal tertera dilayar ponselnya.
"You're my angel
Angel baby, angel.." ia membuang ingusnya dulu sebelum dengan tissue lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sebelum ia kemudian mengangkat telephonenya yang terus berdering.
"You're my angel, baby
Baby, you're my angel
Angel bab..."
"Hallo,, assalamualaikum, siapa ya?" dengan suara masih agak serak Ardilla akhirnya mengangkat ponsel karena penasaran. Matanya pun menyisakan rembesan air matanya yang belum mengering sepenuhnya
"Ini aku. kamu habis nangis Dilla?" jawab suara di ujung ponsel. Mata Ardilla melotot saat mendengar suara seorang lelaki, ia kembali memerikasa layar ponselnya kening Ardilla mengernyit menandakan Ardilla tak pernah mendengar dan tak pernah kenal dengan intonasi maupun suara lelaki di ujung sana.
************
sarangheo
__ADS_1
😉😉😉😉