Merpati Hitam

Merpati Hitam
White Jade


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir mereka berlibur, dan sudah pasti hari ini akan mereka memutuskan akan habiskan sisa hari mereka untuk berburu oleh-oleh di daerah Myeongdong. Menurutt rekomendasi Kent dan Hansa Myeongdong adalah daerah yang tepat untuk mereka berbelanja sepuasnya.


Berhubung Myeongdong merupakan jantung dari distrik perbelanjaan Seoul, tempat itu dapat menjadi sangat padat. Jadi mereka memuruskan berangkat lebih awal supaya bisa menikmati belanja dan menghindari keramaian yang terlalu padat.


Nampak Nayuwan mengenakan blouse berwarna turquoise dipadu celana, pashmina berwarna beige dan slingbag serta sepatu adidas berwarna trandwind setingkat lebih gelap dengan blouse yang ia kenakan sebagai pemanis, menjadikan dirinya terlihat lebih segar menyejukan mata, dia memang tidak pernah gagal untuk soal penampilan.


Di lobby hotel, Satria dan Gavin sudah menunggu rombongan Nayuwan sejak 10 menit yang lalu. Gavin beranjak dari tempat duduknya lalu menatap Nayuwan dari atas sampai bawah, ternyata bukan hanya dirinya yang menyadari jika mereka mengenakan outfitt senada, hanya saja Gavin mengebakan polo berwarna silk blue, celana chinos berwarna beige dan sepatu adidas senada dengan atasan yang ia kenakan, menjadikan dirinya terlihat lebih muda dari umurnya yang sudah hampir kepala empat. Gavin mengulum senyumnya melihat kesamaan yang tanpa direncanakannya ini, lalu diapun melangkah menuju ke rombongan Nayuwan lalu berhenti tepat di hadapan ke dua putri Nayuwan.


"Anak-anak boleh Om ikut kalian, Om jarang punya waktu buat jalan-jalan sama keluarga, berhubung kalian ada di sini, boleh kan Om ikut gabung bersama kalian?" ungkap Gavin tanpa memperdulikan ekpspresi ketidaksukaan Nayuwan, mungkin dia masih marah karena kejadian semalam.


"Boleh tapi ganti om yang teraktir kita semua belanja ya" sahut Alea cepat.


"Beres,, tapi berhubung Om cuma bawa 4 kartu kredit berlimit,, jadi Om bagi jadi 4 kelompok dan jangan mencar belanjanya biar gampang pas belanjanya" ujar Gavin sambil mengambil 4 buat kartu kredit berlimit dari dompetnya, kemudian menyerahkan kartu tersebut kepada Alea dan Nadia, lantas Nadia menyerahkan satu kartunya pada Ardilla dan satunya lagi pada Gina, dua sisa kartunya mereka pegang masing-masing oleh Alea dan Nadia.


Kent menghampiri mereka semu lalu menyilahkan ke mobil minibus yang akan mengantar mereka ke Myeongdong, Nayuwan melangkah begitu saja melewati Gavin tanpa menyapanya. Alea kemudian menghampiri Gavin yang terlihat sedikit kecewa karena Nayuwan belum mau memaafkannya padahal semalam Nayuwan sudah menendang "benda keramat"nya dengan cukup keras, hingga saat di waktu fajarpun ketika panggilan alam rasa ngilu di area terlarang itu masih ia rasakan.


"Om berantem ya?"

__ADS_1


" Ngga apa-apa, Om emang salah kok, nanti om akan coba buat minta maaf lagi" Alea dan Nadia saling menoleh bersamaan mengangkat bahu mereka.


Di Myeongdong mereka serasa berada di surganya para Shopaholic, bagaimana tidak di sana ada banyak toko-toko yang menjual merek pakaian atau produk kecantikan yang sama di daerah tersebut dan semua memiliki diskon dan stoknya sendiri. Mulai dari merek pakaian populer, toko kosmetik, produk lokal, dan tentu saja toko-toko dengan berbagai diskon dan harga miring. Karena mereka datang lebih awal jadi mereka dipersilakan berkeliling terlebih dahulu untuk mencari harga terbaik dan yang terpenting, siapkan tenaga untuk berjalan menyusuri area tersebut.


Puas berbelanja di Myeongdong perjalanan mereka lanjutkan ke kawasan Insadong, kali ini Nayuwan terlihat lebih excited dibanding sewaktu di kawasan Myeongdong, mungkin karena di kawasan ini dia bisa berburu barang-barang antik. Jalan utamanya bernama Insadong Gil, dipenuhi beragam toko antik dan pernak pernik. Daerah ini juga cukup luas dan merupakan jalan terbuka, jadi merekapun bisa lebih bebas melihat beragam kebudayaan antik dan seni yang ada di sana. Netra Nayuwan makin berbinar ketika melihat ada banyak galeri di pinggir jalan termasuk juga kedai buku tua, rumah teh, dan kerajinan lainnya. Jalan utamanya menghubungkan ke banyak cabang lorong. Beberapa seniman nampak ikut memamerkan hasil karyanya. Bahkan terkadang ada yang melukis, atau mengukir di pojok toko mereka. Dan menurut sejarahnya kawasan ini dulunya merupakan kompleks untuk pedagang, dan para birokrat berkediaman. Beberapa di antaranya diperuntukkan bagi mereka yang telah menyelesaikan tugas istana dengan baik lalu pensiun.


Kawasan ini nuga diapit oleh Istana Utama Gyeongbokgung, Istana Chandokgung dan Istana Unhyeongung, membuat tempat khas dengan pemandangan apik, masa lalu dan kekinian.


"Osowayeo, Oenni (Silakan masuk, Kakak)"sapa perempuan paruh baya ramah kepada Nayuwan yang sedang melihat pajangan toko. Nayuwan mengangguk tersenyum ramah pada penjaga toko tersebut. Berjalan beberapa langkah memasuki toko tersebut netra Nayuwan teralihkan pada sepasang cincin giok berwarna putih, Nayuwan memperhatikannya lekat-lekat. Wanita penjaga toko itupun tersenyum dan menghampiri Nayuwan yang tengah asyik sendiri dengan sepasang cincin giok putih itu.


"Pilihan yang bagus Nona" ungkap perempuan itu, sontak membuat Nayuwan terperanjat kaget.


"Terima kasih" ungkap Nayuwan, jantungnya masih berdebar tak karuan saat menatap Gavin dan barusan ia sempat mencium wangi parfume yang segar dan maskulin dari tubuh Gavin.


Nayuwan sudah berdiri tegap namun Gavin masih merangkul bahu Nayuwan dengan protektif, Nayuwan sedikit menggeserkan tubuhnya dari Gavin karena mereka kurang nyaman.


Gavin mengerti kode tersebut lalu tangannya berpindah menggenggam tangan Nayuwan yang lebih mungil dari tangannya. Nayuwan mencoba melepaskannya namun Gavin malah makin menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


"Sstt,, sstt,, eh Dill, Va,, coba deh kalian liat mereka bener ngga anggep kita semua ada di sini," ujar Moya pada dua sahabatnya yang sedang melihat-lihat beberapa kerajianan di toko tersebut.


"Gue baru tahu, kalo seorang Gavin yang terkenal angker bisa bucin, bucin sama gunung es malahan" gibah Ardilla, Moya dan Reva.


"Cincin itu bisa di beli satuan?" tanya Nayuwan kepada ibu penjaga toko itu.


"Jika nona dan suami, memiliki keyakinan yang kuat dan berjodoh dengan cincin ini, saya akan memberikannya secara cuma-cuma" jawabnya tersenyum ramah.


"Tapi dia bukan.."


"Kalo begitu saya dan istri akan mencobanya" potong Gavin tersenyum pada perempuan paruh baya penjaga toko tersebut. Meski sedikit bingung, akhirnya Nayuwan hanya diam saja. Kemudian Gavin mengambil satu cincinnya lantas menyematkan pada jari manis Nayuwan yang ramping, air mukanya murung karena ukuran cincin giok tersebut ternyata agak kebesaran di jari manisnya.


Semua orang di ruangan itu menatap ke arah Gavin dan Nayuwan, seakan-akan mereka tengah melangsungkan pertunangan. Tangan Nayuwan gemetar saat mengambil cincin untuk disematkan di jari manis Gavin, kembali semua kegetiran bayangan masa lalunya terlintas di pikirannya dan tergambar jelas seperti roll film yang di putar cepat. Sampai di masa dia bertemu kembali dengan Gavin, hingga sebuah sentuhan lembut di pipinya membuat dirinya menyadarkan lamunan.


sarangheo..


😍😍😍

__ADS_1


**********


__ADS_2