Merpati Hitam

Merpati Hitam
tidak perlu Honeymoon


__ADS_3

Gavin mengulum senyum saat menyimak perdebatan kedua perempuan cantik yang ada dihadapannya.


"Ciiih, berasa jadi Arjuna banget ya Tuan ini, sampe-sampe jadi bahan debat kami berdua, seneng ya Tuan jadi bahan rebutan para wanita??" cibir Nayuwan saat melihat Gavin yang seolah menikmati perdebatan antara dirinya dan Terre. Gavin segera menelan salivanya menetralkan raut wajahnya begitu mendengar sindiran Nayuwan yang jika ia tetap bersikap seperti itu, kemungkinan pernikahannya bisa dibatalkan dan Gavin sadar betul Nayuwan adalah perempuan yang sanggup melakukan hal itu meski persiapan pernikahan mereka sudah hampir 60%.


"Vin, kamu lebih belain perempuan pelakor ini ?!" ujar Terresia merajuk.


"Pelakor? Duh Kalo saya jadi pelakor mah ngga akan saya jadi ownernya IC grup, udah aja nadah minta jatah sama suami, terus kalo laki saya minta jatah ya tinggal ngangk*ng selangk*ngan, dapet deh duit, atau jangan-jangan mbaknya suka begitu ya..??"


"Heh !! Jaga mulut mu ya!" bentak Terre


"Sudah sudah sudah.. Sayang minta maaf," ujar Gavin mencoba melerai mereka. Karena jika diteruskan maka akan terjadi huru hara besar dikantornya. Terlebih ia tahu sifat Terre dan Nayuwan mereka sama-sama keras kepala. Nayuwan membuang nafasnya sebelum ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Terre.


"Ciih !! Aku ngga sudi berjabat tangan dengan orang rendahan macam dia Vin!!" tolak Terre. Nayuwan terlihat mengerucutkan bibirnya ke dalam menunjukan ia sedang berusaha menahan emosinya, serta mengepalkan tangannya sebelum ia menarik kembali uluran tangan tanda perdamaiannya.q


"Terre !! Kamu tidak berhak berbicara seperti itu pada calon istriku ! Dengar satu hal, kamu memang sahabat ku tapi dia itu calon istri ku, seharusnya kamu bisa menghargainya !!" ucap Gavin terdengar sedikit menaikan nada bicaranya. Terre terdiam, manik matanya bergetar dan air matanya mulai menganak di pelupuk kelopaknya matanya. Tanpa menyahuti Terre segera mengambil tasnya dengan kasar kemudian dengan langkah tergesa-gesa ia menuju pintu keluar, ia berhenti sesaat dan menatap ke arah Gavin dengan tatapan kecewa lalu beralih pada Nayuwan tatapannya seolah berkata "akan aku buat kalian menyesal" lantas ia menarik handle pintu dan membantingnya dengan kencang saat ia meninggalkan Gavin dan Nayuwan di ruangan tersebut.


"Tuan ini file berkas mengenai Adiyaksa,"ucap Nayuwan ketus disertai wajah yang kaku dan dingin.


"Queen, orang-orang mengenalku sebagai manusia es, tapi kamu"


"Ya dan Gunung everest," ujar Nayuwan kemudian berbalik menuju pintu hendak keluar dari ruangan Gabin yang sudah mulai membuatnya sesak. Namun baru akan melangkah pinggang Nayuwan segera diraih Gavin dan iapun memeluk Nayuwan dari belakang. Gavin terdiam saat merangkul tubuh Nayuwan, ia menikmati wangi parfume Nayuwan yang beraroma ceri namun juga ada sedikit aroma campuran mint dan cytrus yang membuatnya makin segar.


"Kamu pake merk parfume apa, wanginya bikin betah"namun Nayuwan diam seribu bahasa.


"Queen, kamu marah karena Terre?" Nayuwan tetap diam.

__ADS_1


"Queen dia itu cuma sahabatku" Nayuwan menghela nafas perlahan.


"Tuan tolong lepaskan, saya tidak mau jadi bahan gossip di kantor ini." ucap Nayuwan ketus, tapi Gavin malah mendusel di bahunya


"Tuan.." Gavin menggeleng, Nayuwan merasakan bahu terasa hangat dan basah ia tahu pria itu tengah ketakutan kalau sampai ia marah padanya hingga membuat pria hampir separuj abad itu menangis.


"Tuan, kalo anda terus seperti ini, saya akan perintahkan Gina dan Satria menghentikan persiapam pernikahan kita" Gavin terdiam, perlahan dia mulai melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang perempuan yang sudah mencairkan hatinya hingga selumer es krim. Lantas Nayuwan berputar 180° menghadap Gavin yang terlihat tertunduk cemas lanyaknya anak kecil yang sudah melakukan kesalahan dan siap menerima hukuman. Nayuwan mendongak seraya meraih wajah pria yang sudah resmi ia akui sebagai kekasihnya itu sejak beberapa bulan lalu menengadahkannya ke wajahnya hingga mereka saling bertatapan


"Tuan," giliran Gavin yang diam.


"Dengar satu hal, saya hanya memberi satu kesempatan saja. Jika tuan menyia-nyiakannya, saya tidak segan untuk pergi, sekalipun semua keluarga sudah menyetujui kita namun jika tuan tetap tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Sahabat tuan itu, maka pernikahan kita saya pastikan tidak akan pernah berlangsung, Tuan Faham?" ucap Nayuwan menatap tajam manik mata pria yang ada dihadapannya. Gavin terdiam sembari menelisik jauh ke dalam manik mata Nayuwan yang sedikitpun tanpa riak. Nayuwan lantas berbalik melangkah menuju pintu keluar tepat saat di depan pintu Nayuwan berbalik lalu membungkuk seperti sedang melakukan ruku, berdiri kembali lalu menarik tuas pintu lalu menghilang dibalik pintu yang tertutup. Gavin yang terperangah baru tersadar saat suara pinti dibanding agak keras oleh Nayuwan.


Gavin melempar file yang masih ditangannya berkacak pinggang lalu mengacak-ngacak rambutnya.


"Kalo apa??" Nayuwan memunculkan kepalanya dari pintu dengan posisi miring. Tenggorokan Gavin terasa tercekat begitu mengetahui Nayuwan belum benar-benar pergi.


"Kalo ngga... kalo ngga apa-apa sayang.hehehe" Gavin mencoba berkelit meski ia tau akan sia-sia. Nayuwan menatap Gavin makin dingin.


"Queen, hari ini kita fitting baju pengantin kan?"


"Tadinya memang sengaja ke sini biar bisa ke boutiq bareng, tapi moodnya udah ilang" ucap Nayuwan mencemooh karena masih kesal pada Gavin.


"Sayang, jangan gitu dong, aku janji, masalah Terre aku akan selesaikan secepatnya, lagi pula aku memang menganggap dia hanya sahabat" Nayuwan melipat kembali tangannya, bersedekap menatap Gavin dengan wajah tidak bersahabat.


"Hmm .. Gini aja setelah fitting baju, aku turutin satu permintaan mu, apa aja?" rayu Gavin.

__ADS_1


"Yakin?" Nayuwan mengulas senyum di sudut bibirnya.


"Ya..kin" jawab Gavin mulai merasa menyesal. Gavin baru ingat jika Nayuwan adalah perempuan yang berbeda dari wanita kebanyakan, yang pastinya ia tidak akan minta emas, permata, berlian, atau mobil sport keluaran terbaru karena ia mampu membelinya sendiri.


"Yakin ngga?" Nayuwan bertanya sekali lagi, dan kali ini Gavin harus melonggarkan membuka kancing atas serta melonggarkan lingkar dasinya. Satria dan Gina yang baru saja datang ke ruangan tersebut saling bertanya melalui kontak mata, namun mereka sama-sama menggelengkan kepalanya, karena memang tidak tahu apa-apa tentang perdebatan calon suami istri itu.


"Ok,.. Aku mau .."


"Mau apa?" selidik Gavin


"Aku mau,, biaya perjalanan untuk honeymoon kita, kita gunakan sumbangan ke kampung-kampung."


"Maksudnya?"


"Ia nanti aku mau kita gathering gitu, setiap kita ketemu seseorang yang benar-benar layak kita bantu sesuai kebutuhannya. Misal kita ketemu orang yang butuh makan, kita beri mereka modal untuk usaha. kita ketemu anak yang putus sekolah tapi mau tetap sekolah kita beri mereka biaya pendidikan bersyarat, kaya gitu-gitulah"


"Kamu yakin?" kali ini Gavin yang balik bertanya pada Nayuwan.


"Sayang-sayang uangnya kalo cuma buat liburan begitu, padahal kapan aja kita bisa, lumayan lho tuan cuti kita 1 minggu, mending kita isi hal positif, iya kan?" jelas Nayuwan.


*******


sarangheo...


__ADS_1


__ADS_2