
Yusuf dan yang lainnya duduk bersila dengan Gavin yang menjadi pusatnya. Masing dari mereka memfokuskan pikiraannya pada Nayuwan yang kini sedang berada di Napak Salapan Caringin. Beberapa menit berlalu Gavin kini sudah beralih tempat, suasana mistik menyeruak sedikit menciutkan nyali Gavin yang hanya manusia biasa. Padahal tadi Yusuf sudah menawarkan diri agar dirinya yang pergi namun gavin menolaknya mentah-mentah.
Diantara cahaya yang meremang samar Gavin bisa melihat berbagai sosok hanya menjadi cerita takhay belaka. Tapi saat ini Gavin seolah sedang terjebak bersama mereka. Gavin ingat Nayuwan pernah berkata jika ia merasa takut akan hal gaib, ia harus membaca ayat kursi minimal 3x, lalu doa sulaiman, sembari menempel daun bidara di atas langit rongga mulutnya. Ajaib! Setelah Gavin melakukan apa yang pernah Nayuwan katakan para makhluk itu seolah masuk kembali ke bagian hutan yang lainnya. Tubuh Gavin terasa sedikit menggigil karena hawa yang menerma tubuhnya, yang menurut pemikiran Gavin ini bukanlah dingin karena angin tapi mungkin karena atmosfir gaib yang menyelimuti tempat tersebut.
Setelah ia bisa mengendalikan adrelinnya, kemudian iapun kembali meneruskan perjalanannya mencari Nayuwan. Sudah Hampir satu jam Gavin berjalan dan ia mulai menyadari bahwa tempat itu adalah tempat yang sama yang sudah ia jejaki sebanyak 3 kali, Gavin yang kesal membaca kembali ayat kursi, dan surat-surat pendek lainnya dengan lantang. Kembali Gavin dibuat terperangah karena sebenarnya ia sudah berada di dekat posisi Nayuwan tengah bertarung sengit.
Ekor mata Nayuwan menangkap pergerakan seorang manusia, ia menyadari Gavinlah yang datang kesana menjemoputnya, bibirnya mengulas senyum dengan tersipu-sipu,
"Calon suami ku sudah datang, apa kau masih tidak ingin melepaskan perjanjian dengan Keluarga Mahendra, aku hanya meminita keluarga Mahendra" ucap Nayuwan sambil memainkan lidi harupat dengan jari-jari lentiknya. Ia berjongkok dengan bertumpu pada salah satu kakinya. Tatapannya datar kembali fokus pada makhluk yang sudah kepayahan berubah pada wujud aslinya seperti saat bertarung dengan Yusuf.
"Kau pikir aku akan kalah begitu saja hah?!" makhluk itu menggeram, netranya menyalang menatap Gavin yang tengah setengah berlari menuju ke arah mereka.
"Tuan , stop di sana!!" cegah Nayuwan berteriak pada Gavin sontak membuat pria itu langsung menghenti gerak kakinya.
"Akan ku bunuh dia.. AAAAAAAAARRRGGGGHHHH !!" namun sebelum makhluk itu menuju Gavin, Nayuwan sudah terlebih dahulu melayangkan lidi harupatnya pada perut makhluk itu.
"Aku sudah sangat baik dengan memberikanmu sebuah penawaran, tapi kau ternyata memang keras kepala dengan memilih musnah di tanganku " seringai Nayuwan sembari bersiap akan menancapkan harupat yang sudah ia lapisis dengan daun bidara.
"Ampun.. Ampuunn aku menyerah Diajeng" akhirnya makhluk itu menyerah. Rasa terbakar efek dari lidi harupat yang dilapisi daun bidara benar-benar membuatnya harus bertekuk lutut, akan lebih beresiko jika ia musnah dari dunia fana sebelum hari kebangkitan tiba. Mendengar hal itu Nayuuwan lalu menyerahkan gulungan perjanjian keluarga Mahendra..
"Namun meskipun aku akan membebaskan keluarga Mahendra berserta seluruh keturannya di masa depan, aku tetap tidak bisa membebaskan keturunannya daeu masa lalu" ujar makhluk itu setelah kembali ke wujud seperti manusia. Di tubuhnya mengalir darah berwarna hitam pekat, karena sejatinya ia masih setengah siluman.
"Tidak masalah, selama kau tidak mengganggu mereka di masa depan , toh orang-orang dari masa lalu memang harus menerima akibat dari keserakahan mereka." ujar Nayuwan acuh seraya berdiri mengistirahatkan tubuh sambil memangku tangannya di depan dad*nya.
__ADS_1
"1 hal lagi, bersamaan dengan berakhirnya gulungan ini anak yang sekarang berada dalam kandungan istri Mahendra juga akan lenyap mungkin ia akan terlihat seperti keguguran namun sejatinya anak hanya kembali padaku, karena bayi itu milik ku"
"Dasar makhluk cabul."
"Seluruh harta kekayaan keluarga Mahendra juga akan lenyap sebagai tanpa perjanjian kami sudah berkakhir." ujar makhluk itu bersila.
"Ada lagi?" tanya Nayuwan ketus.
"Tolong lepaskan harupat ini dari tubuhku."
"Untuk yang satu itu aku tak bisa melakukannya. Tapi setelah 40 hari waktu di dunia manusia harupat itu akan hilang dengan sendirinya."
"Tapi ini sangat menyakitkan Diajeng Aarrgghh" erang makhluk itu. Terlihat Gavin sudah berada di samping Nayuwan sekarang. Nayuwan menghela nafas saja saat melihat Gavin sudah ada disampingnya.
"Oia harupat itu akan semakin menyiksamu jika kamu tidak segera membatalkan perjanjian dengan keluarga Mahendra, dan semakin akan menusukmu jika kau berusaha menyerang keluarga ku, jadi jangan macam-macam" ancam Nayuwan.
Tatapan perempuan itu kini beralih pada Gavin yang membandel atas perintahnya untuk tidak mendekati mereka.
"Tuan, bukankah tadi kan sudah aku bilang jangan mendekat"
"Membiarkan mu berduaan dengam lelaki seperti dia? Yang bahkan dari sorot matanya nya dia seperti kelaparan ingin memakanmu" mendengar jawab Gavin yang sedang cemburu ia hanya menghela nafas memutar matanya jengah.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Gavin saat melihat sosok dihadapannya tak berdaya akibat 6 dari 7 lidi harupat yang Nayuwan tusukan di 7 cakra makhluk itu. Jika manusia biasa pasti ia akan mati seketika ketika 7 cakranya ditusuk seperti itu.
__ADS_1
"Apalagi? Ya kita pulang"
"Keluarga Mahendra?"
"Tinggal kita lihat dalam 40 hari ke depan?" ujar Nayuwan menyeringai tipis serta menaikan kedua alisnya saat menoleh pada sosok yang tengah berusaha agar tubuhnya bisa duduk menyandar pada sebuah batu yang cukup besar bisa menahan dirinya.
"Suruh anak buahmu mendekat, aku tak akan membunuh mereka. Ingat waktumu hanya 40 hari, setelah waktunya habis aku tak akan segan-segan meluluhlantakan semuanya. Kau faham??" ancam Nayuwan, tatapannya begitu dingin seolah tak memiliki perasaan didalammya, Seketika Gavin merinding di sekujur tubuhnya, ia berusaha menelan salivanya dengan susah payah betapa mengerikannya sosok Nayuwan ketika sedang benar-benar bertarung apalagi dengan para makhluk yang dia sendiri tak kan mampu menghadapinya. Nayuwan menangkap ketakutan Gavin, yang bisa menyebabkan masalah bagi mereka berdua.
"Sudahlah nanti aku jelaskan ketika kita sudah bertemu keluarga Mahendra."ucap Nayuwan dengan nada lebih lembuat pada pria yang sedang berdiri disampingnya, Gavin nampak berpikir sejenak melihat perubahan sikap Nayuwan yang tiba-tiba menjadi hangat padanya, kemudian Nayuwan meraih tangan Gavin, kemudian menyatukan jari jemari mereka.
"Semua sudah selesai, hmmm setelah Tuan tau aku seperti ini? Apa tuan masih mau menikah dengan wanita aneh seperti ku..?" tanya Nayuwan menggigit bibir bawarnya lantas menunduk tersipu malu. Gavin yang mendengar ajakan Nayuwan tersenyum lebar mengangguk lantas menarik tangan Nayuwan lalu memeluk Nayuwan dengan erat. Kali ini Nayuwan tidak menolaknya karena bersamaan dengan itu Nayuwan tanpa disadari oleh Gavin sudah menteleportasi mereka ke dunia paralel.
Terbawa oleh suasana Gavin meraih dagu Nayuwan dengan lembut ia ingin mencium bibir wanita yang kini dalam dekapannya. Namun "EKKHEEEMMM!!!" suara deheman cukup keras membuyarkan niat Gavin untuk mencium bibir Nayuwan. Ekor matanya menangkap sosok bayangan seorang pria, kemudian iapun menoleh ke arah sumber suara yang ternyata itu adalah Haidar bersedeakap tengah menatap mereka dengan tatapan penuh kekesalan.
"Dia kenapa telanjang dada begitu?" tanya Nayuwan mengulum tawanya.
"Ah itu,, tadi saat Yusuf menarik kami ke sini dia baru akan mandi makannya cuma pakai boxer doang begitu" sahut Ardilla terkekeh. Haidar hanya mengdengus kasar mendengar penuturan Ardilla.
************
**********
__ADS_1
sarangheo..
********