
Jari jemari Nayuwan dengan lihai menata kerudung andalannya pasmina berbahan ceruty baby doll, lalu mengambil sepatu model kitten heels yang memiliki hak hanya sekitar 5 cm saja agar kakinya tidak cepat lelah saat perjamuan nanti. Nayuwan nampak berkelas meski hanya mengenakan blush clasik dipadu celana katun, dan aksesoris sederhana jam tangan dan cincin saja, simple but elegant. Seperti itulah gambaran tampilan Nayuwan malam ini, ia sengaja mengenakan outfit demikian karena memang ini kali pertama ia mengikuti perjamuan semacam itu jadi cari aman saja pikirnya.
"Ibu yakin tidak usah saya temani?"
"Iya ngga usah,"Gina masih memang raut muka kurang nyaman, Nayuwan memutar tubuhnya 90 derajat ke arah Gina yang nampak gusar.
"Udah santai aja, lagian kan aku di sana nanti ngga sendirian, ada si Gavin ini"
" Kalo pak Gavin ke sana, Bang Satria juga pasti ikut ke sana bu, jadi biarin saya nemenin ibu ya" pinta Gina dengan wajah memelas.
"Halah halah,, bilang aja kamu pengen ketemu asistennya si Gavin." ucap Nayuwan mencibir Gina yang terlihat memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena niat terselubungnya ketahuan oleh atasannya itu.
"Tapi kan tugas saya itu salah satunya ya nemenin ibu kemana pun ibu pergi" Gina masih berusaha berkelit dari tuduhan Nayuwan.
"Ya kalo emang kamu kekeh pengen ikut ya cepet bersiap lah, minimal pake bedak kek tipis-tipis" Gina segera melonjak berhambur ke kamarnya untuk bersiap setelah Nayuwan mengizinkannya untuk ikut, Nayuwan menghela nafas menggeleng kepala melihat tingkah asistennya itu.
Selang 15 menit, Gavin sudah berada di depan pintu apartement Nayuwan dengan tampilan casual semi formal, Nayuwan menghela nafas lega merasa bersyukur karena sudah memilih outfit semiformal juga jadi tidak salah kostum.
"Sudah siap?" Gavin memperhatikan tampilan Nayuwan yang tetap terlihat sempurna meski memakai outfit clasik.
"Lho Gina juga ikut?" tanya Gavin memiringkan kepalanya begitu melihat Gina seperti terburu-buru memakai flatshoesnya. Nayuwan hanya menghendikan bahu sambil memutar tubuhnya lalu mengulum senyum melihat tingkah Gina.
"Udah lah ngga usah peduliin dia" hardik Nayuwan mengibaskan tangannya agar Gavin tidak terlalu memperdulikan Gina.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran apartement Satria sudah bersiap berdiri di samping mobil untuk membukakan dan mempersilahkan Nayuwan naik ke mobil tersebut. Keningnya nampak berkerut ketika melihat Gina ternyata ikut bersama Nayuwan ke perjamuan malam ini.
"Lho kamu ikut juga Na?" tanya Satria agak heran.
"Kenapa ? Kan memang tugasku itu ya ngintilin si ibu"
"Iya sih," Satria menggaruk pelipisnya dengan ujung jari telunjuknya setelah menyadari pertanyaan bodohnya. Ia hampir lupa jika Gina adalah asisten pribadi Nayuwan yang tentu saja memiliki jobdesk yang hampir sama dengan dirinya, salah satunya mengawal atau menemani atasannya ke perjamuan atau meeting bersama klien.
Sepanjang perjalanan mereka tak banyak berinteraksi, tak dapat dipungkiri Nayuwan memang sedikit merasa gugup, meski sudah sering kali dirinya menghadiri pertemuan atau perjamuan semacam ini namun entah kenapa ia merasa akan ada sesuatu yang berbeda malam ini.
Gavin keluar terlebih dahulu lalu berjalan memutar lantas membukakan pintu mobil untuk Nayuwan. Tersirat dari raut wajah perempuan itu sepertinya ia tengah mengkhawatirkan sesuatu.
"Kamu baik-baik saja Queen?" selidik Gavin.
"Aku baik-baik aja kok Tuan," Nayuwan berusaha menyembunyikan ketegangan dirinya, namun tentu saja sia-sia belaka, ketika Gavin meraih tangannya yang sudah basah oleh keringat dingin.
"Entahlah Tuan, sepertinya ada sesuatu di sana" Ucapa Nayuwan sembari mengedarkan tatapannya ke sekelilingnya. Sekelebat Nayuwan melihat bayang hitam masuk ke dalam lobi hotel.
"Tuan, jika sudah di dalam nanti bisakah Tuan jangan jauh-jauh dari saya" pinta Nayuwan yang tentu saja tanpa dimintapun Gavin akan tetap protektif terhadap dirinya. Gavin menyentuh ubun-ubun Nayuwan, lalu mencium kening Nayuwan agar Nayuwan merasa lebih aman dan tenang. Meski tahu ini salah namun dalam keadaan seperti ini Nayuwan lebih memilih agar emosinya terkontrol hingga membiarkan Gavin melakukan hal semuanya. Lantas Nayuwan mengambil ponselnya lalu menyetel murotal Ayat kursi, solawat, dzikir dan lantunan surat lainnya.
"Wah si ibu kayanya ada yang "ngusik" nih" gumam Gina dalam hati saat menyadari gelagat tak biasa dari diri atasaanya itu. Ia tahu jika Nayuwan mata bathin dan intuisi Nayuwan itu sangat tajam dan peka dengan hal-hal di luar nalar manusia.
Setelah semua dirasa kondusif dan Nayuwan juga sudah terlihat lebih tenang mereka pun bergegas menuju aula perjamuan makan malam. Begitu memasuki ruangan Nayuwan merasakan mual yang sangat luar biasa, keringat dingin kembali membanjiri tubuhnya, bahkan ia menggenggam jari jemari Gavin dengan cukup kuat. Jelas Gavin merasa bingung dan terheran dengan kondisi Nayuwan saat itu, terlebih wajah Nayuwan yang terlihat lebih pucat meski dibawah pencahayaan tema klasik yang agak temaram.
__ADS_1
Semakin memasuki ruang perjamuan beberapa kolega yang mengenal Nayuwan dan Gavin segera menyambut dan menyalami mereka berdua. Yang tak Gavin sangka adalah kehadiran Teressia di acara tersebut yang ternyata datang bersama Mahendra seorang CEO muda yang sukses yang sangat berambisi untuk bersaing dengan Gavin dengan segala cara termasuk jalan klenik sekalipun.
Nayuwan sudah terlihat lebih segar, dia nampak sudah bisa mengusai dirinya. telapak tangannya juga sudah tidak terasa seperti es.
"Hallo Vin," sapa Teressia berhambur memberi pelukan dan mencium pipi kiri kanan Gavin tanpa memperdulikan Nayuwan yang ada disampingnya. Meski begitu Nayuwan memakluminya toh hal demikian memang sudah biasa terjadi terlebih jika mereka sudah saling mengenal. Nayuwan menatap Mahendra dengan tatapan seolah Mahendra adalah musuhnya, namun yang sebenarnya terjadi adalah Nayuwan tengah berkontak bathin dengan seseorang yang tengah berdiri disamping Mahendra. Perempuan itu lalu membuang mukanya dengan senyum tipis yang menyungging dari sudut bibirnya.
"Bang, kamu percaya hal Gaib ngga?"celetuk Gina tiba-tiba dengan suara lirih pada Satria. Pria jangkung yang berdiri disamping sontak menatap heran pada Gina yang tak melepaskan tatapannya dari sosok Nayuwan.
"Hmmm percaya ngga percaya sih, Kenapa gitu?" Satria balik bertanya pada Gina yang terlihat fokus memperhatikan atasannya.
"ehhh ngga apa-apa cuma nanya aja" ucap Gina melempar senyum yang dipaksakan pada Satria.
Kembali pada Nayuwan dan Gavin yang sedang bercengkrama dengan Mahendra yang ternyata adalah orang yang mengundang Nayuwan ke perjamuan malam ini.
"Senang sekali akhirnya saya bisa berkenalan dan bertemu secara langsung dengan Ibu Nayuwan, seorang wanita yang hebat dan sukses membangun IC Grup dari Nol" ungkap Mahendra berbasa basi.
"Dan suatu kehormatan juga bagi saya mendapat undangan dari perusahaan besar kompetitor FJC Bamantara Grup" ujar Nayuwan.
"Ah ibu bisa saja, perusahaan kami belum ada apa-apanya, masih kalah jauh dengan FJC Bamantara Grup. Oia saya dengar perusahaan ibu juga sangat berkembang pesat, bahkan sampai memiliki saham di perusahaan sekelas FJC," Mahendra melempar umpan pada Nayuwan.
"ahhahahha Bisa saja bapak Mahendra ini, perusahaan saya masih merangkak, masih perlu banyak belajar dan bimbingan misal dari Bapak jika berkenan berbagi ilmu dengan saya" Mahendra hanya tersenyum tipis dari sudut sambil meminum redwine di gelasnya mendengar jawaban Nayuwan yang merendah.
********
__ADS_1
sarangheo
*********