Nikah Paksa

Nikah Paksa
Memilih cincin buat lamaran.


__ADS_3

"Begitu lah pak cerita kehidupan saya, makanya saya tidak mau pacaran, tapi insya Allah saya sudah mantaf dan yakin kalau Nisa anak bapak adalah pendamping buat saya" Fadil pun menceritakan kisah hidup nya kepada calon mertua nya, mereka sekarang berbincang nya di ruang tamu karena sarapan nya sudah selesai.



"Baiklah kalau memang nak Fadil sudah yakin dengan anak saya dan juga tidak mengganggu kuliah nya Nisa bapak sih tidak keberatan, tapi bapak juga tidak bisa memutus kan nya" jawab pak Husain.



"Bagaimana nak? Apa kamu menerima nak Fadil nanti malam untuk melamar kamu atau tidak? Tanya pak Husain kepada Nisa.



Nisa pun diam memikirkan semua nya, Nisa melihat ke arah ayah dan ibu nya lalu melihat ke arah Fadil yang sedang tersenyum kepada Nisa.



"Nisa menunggu kak Fadil beserta keluarga datang kesini" jawab Nisa sambil menunduk, Fadil pun tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Nisa.



"Oke nak, kamu sudah mendengar kan apa yang barusan Nisa bilang" kata pak Husain.



"Baik, kalau begitu saya akan menghubungi keluarga saya dulu untuk mempersiapkan buat nanti malam" kata Fadil lalu meminta izin keluar buat menghubungi keluarga nya.



"Bu kalau begitu ibu masak yang banyak hari ini nanti malam, mau kedatangan keluarga nak Fadli" kata pak Husain kepada istri nya.



"Bapak hari ini ngga ke kantor? Tanya bu Raina.



"Bapak tadi sudah izin ngga masuk bu, lagian juga kan masa anak kita mau ada yang lamar bapak ngga mempersiapkan semua nya" jawab pak Husain.



"Kalau begitu ibu mau belanja dulu buat nanti malam pak" bu Raina pun meminta izin pada suami nya.



"Ya sudah ibu belanja nya ajak bi Irah, jangan sendirian apalagi belanja nya banyak" jawab pak Husain, bu Raina pun mengangguk lalu pergi ke kamar untuk siap-siap pergi ke pasar.



"Maaf pak saya mau minta izin mau ngajak Nisa keluar sebentar" kata Fadil yang baru masuk habis menghubungi keluarga nya.



"Boleh, silahkan tapi jangan terlalu sore pulang nya, kan dia juga harus siap-siap menyambut keluarga kamu" kata pak Husain.



"Insya Allah ngga pak, ayo Nis kamu ikut saya sebentar" ajak Fadil.



"Ya sudah kalau gitu aku ganti baju dulu ya kak? Jawab Nisa lalu pergi ke kamar nya.



"Nak Fadil kalau bapak boleh tahu nak Fadil ini kerjaan nya apa? Tanya pak Husain setelah kepergian Nisa.


__ADS_1


"Saya seorang polisi pak, tapi karena menikah di kepolisian itu banyak syarat dan aturan yang ngga memungkin kan seminggu selesai jadi saya dan keluarga ingin melaksanakan pernikahan biasa saja dulu, nanti kalau sudah siap baru kita akan melaksanakan pernikahan di kepolisian" jawab Fadil.



"Jadi nak Fadil ini seorang polisi? Tanya pak Husain kaget dan ngga menyangka kalau dia akan mempunyai menantu anggota polisi.



"Iya pak" jawab Fadil sambil tersenyum.



"Kak aku udah siap, apa kita berangkat sekarang? Tanya Nisa dengan pakaian sederhana nya.



"Ya sudah kalau begitu saya pamit untuk membawa Nisa dulu sebentar ya pak" kata Fadil.



"Nisa pergi dulu ya yah? Nisa pun pamit lalu mencium telapak tangan ayah nya.



"Ya sudah kalian hati-hati di jalan" jawab pak Husain.



Setelah Fadil, Nisa dan istri nya pergi pak Husain pun menghubungi anak-anak dan juga kerabat nya, mengabarkan kalau malam ini Nisa anak bungsu nya akan ada yang melamar.


*


*


"Wi pulang kuliah kita langsung ke rumah nya Nisa kan? Tanya Siska.



"Kamu mau bareng Faisal apa ma aku? Tanya Siska.



"Faisal lagi ada tugas jadi ngga ikut" jawab Dewi.



"Ya sudah kalau begitu kita berangkat berdua saja" kata Siska.



"Emang nya kak Andre ngga jemput kamu Sis? Tanya Dewi.



"Katanya nanti sore kak Andre ada meeting jadi ngga bisa jemput" jawab Siska.



"Sip lah kalau begitu, ngga nyangka ya? Kita yang punya pasangan duluan, eh Nisa yang pertama di lamar" jawab Dewi.



"Oh iya, Ayu ikut ke rumah Nisa ngga kata nya? Tanya Dewi.



"Katanya sih dia mau ikut rombongan Fadil, soalnya pak Purnama di ajak secara khusus dan resmi oleh pak Dodi untuk mengikuti acara lamaran nya Fadil" jawab Siska.

__ADS_1



"Oh berarti nanti malam kita bertemu sama Ayu, ya sudah yuk kita masuk masih satu pelajaran lagi kan? Habis ini kita langsung ke rumah nya Nisa" ajak Dewi, mereka berdua pun masuk ke kelas nya.


*


*


Fadil ngajak Nisa ke toko perhiasan untuk membeli sepasang cincin buat acara nanti malam.


"Kamu pilih saja yang menurut kamu bagus dan cocok" kata Fadil sambil menunjuk ke deretan perhiasan yang ada di toko itu.



"Ada yang bisa kami bantu mas, mbak? Tanya seorang pelayan.



"Kita lagi mencari sepasang cincin buat acara lamaran mbak"kata Fadil.



"Bagaimana kalau yang ini mas, mbak, ini keluaran terbaru" jawab pelayan itu lalu memperlihatkan sepasang cincin dengan nuansa berlian yang indah.



"Tapi kalau kita mesan yang terbaru pasti harus pesan dulu dong mbak? Tanya Nisa.



"Iya betul mbak, soalnya kan kadang contoh ini ada yang muat kadang juga ngga di jari pembeli" jawab pelayan nya.



"Berarti kita ngga bisa pakai yang ini, soalnya acara nya nanti malam mbak" jawab Nisa, padahal Nisa kepingin banget sama cincin yang di perlihatkan pelayan itu.



"Wah nanti malam ya mbak? Tapi bagaimana kalau mas dan mbak nya coba dulu yang ini, kali aja cincin nya pas di tangan mbak dan mas nya" kata pelayan itu sambil membuka kotak perhiasan nya.



"Ya sudah kita coba saja dulu, siapa tahu pas kan? Tanya Fadil sambil mengambil cincin dan memakai kan nya di jari manis Nisa.



Mereka berdua dan pelayan itu pun tersenyum karena cincin yang di coba sama mereka ternyata pas ukuran nya di jari Fadil dan jari Nisa.



"Pas kan? Berarti mas dan mbak nya memang berjodoh, dan bisa memiliki cincin ini sekarang juga"kata pelayan toko emas itu sambil tersenyum.



Nisa dan Fadil pun tersenyum bahagia, apalagi Fadil yang merasa di mudah kan segala nya, dari pertemuan terus minta restu calon mertua dan bahkan sekarang cincin pun dengan mudah nya ia dapat kan, tanpa susah-susah mencari dan tanpa harus berdebat dengan pasangan.



"Gimana kamu suka ngga model yang ini? Tanya Fadil.



"Suka kak, tapi itu pasti mahal ya kak? Kalau mahal cari yang lain saja kak? Jawab Nisa.



Fadil cuma tersenyum lalu memberikan black card nya kepada pelayan toko perhiasaan itu.

__ADS_1


__ADS_2