
Akhirnya Andre dan pak Purnama pun sampai ke Rumah Sakit Bunda Kasih, Tasya langsung berlari membawa brankar dan memanggil suster.
Raka pun turun dengan menggendong Ayu dengan tangan Ayu memegang erat tengkuk Raka.
Ayu pun langsung di bawa masuk ke dalam ruangan hanya di temani Raka seorang, yang lain nya menunggu dengan perasaan gelisah di luar.
"Mah kasih tahu keluarga nya Ayu, kalau Ayu mau lahiran" kata pak Purnama sambil terus mondar mandir seperti setrikaan.
Di dalam ruangan Raka merasa tersiksa dengan cakaran dan remasan dari istri nya.
"By, sakit banget" teriak Ayu sambil menjambak rambut Raka, Raka hanya pasrah dan meringis dengan kelakuan Ayu.
Para suster dan dokter tersenyum melihat pemandangan yang ada di depan mereka ini, menurut mereka lucu dengan pasangan ini.
"Dok tolong istri saya, dia lagi kesakitan malah tersenyum" teriak Raka pada dokter.
"Sabar pak, anak nya lagi mencari jalan dulu untuk keluar nya" jawab dokter sambil memakai kan sarung tangan nya.
"Paling juga sekitar lima belas menit lagi, anak bapak menemukan jalan keluar nya" lanjut dokter.
"Terus selama lima belas menit itu istri saya harus menahan rasa sakit? Raka pun ngga tega melihat istri nya yang terus-terusan berteriak kesakitan.
"Sabar lo pak, kan buat nya juga pasti dengan penuh kesabaran hingga menghasilkan seperti ini" jawaban dokter membuat Raka pun terdiam dan terus meringis karena Ayu terus-terusan menjambak dan mencakar tangan nya bahkan leher raka pun penuh dengan bekas cakaran dari kuku Ayu.
*
*
Sementara SIska dan Dewi sekarang ada di rumah Siska, mereka pun membahas apa yang mereka lihat tadi di lampu merah.
"Wi, siapa ya perempuan tadi yang bersama kak Andre" tanya Siska.
__ADS_1
"Mana ku tahu Sis, tapi apa mungkin perempuan itu selingkuhan kak Andre? Atau mungkin juga perempuan itu adalah saudara nya? Dewi pun mengira-ngira.
"Kak Andre ngga punya saudara Wi, dia sebatang kara dan tinggal bersama keluarga pak Purnama" jawab Siska dengan mata berkaca-kaca karena membayangkan jika perempuan itu benar selingkuhan nya.
"Apa karena aku yang terlalu lama memberi kepastian ke kak Andre ya? Gumam Siska yang masih bisa di dengar oleh Dewi.
"Hubungan kalian kan udah pasti SIs, terus kepastian mana lagi? Tanya Dewi sambil menatap wajah sedih SIska.
"Kak Andre sering melamar aku di kala kita lagi berdua, tapi aku selalu menjawab nya dengan jawaban yang sama,yaitu aku belum siap" jawab Siska.
"Nah itu salah lo sendiri, kenapa lo ngga mau di lamar dan di jadikan istri oleh kak Andre? Tanya Dewi.
"Aku tuh selalu takut Wi, takut kak Andre cuma mempermainkan aku, terus aku kan ingin menyelesaikan kuliah dulu" jawab Siska.
"Eh Sis, justru kamu itu seharusnya takut kalau kak Andre menikahi wanita lain, dan masalah kuliah, kamu kan bisa masih melanjutkan kuliah meskipun sudah menikah" jawab Dewi.
"Dengerin aku, kuliah itu kapan pun kamu bisa melanjutkan, ngga harus sekarang juga, terus aku tanya setelah kuliah selesai terus kamu menikah dan kamu hamil, terus kamu fokus sama kehamilan kamu, terus apa guna nya kuliah selama ini? fine, ijazah kuliah bisa kamu pakai untuk bekerja di kala kamu sudah melahirkan, tapi apa kamu rela membiarkan pria yang kamu cintai dan kamu sayangi menikahi perempuan lain? Dewi pun menjeda omongan nya dia menarik nafas perlahan lalu melanjutkan bicara nya lagi.
"Kamu pikir Sis, kamu dilamar saat kamu kuliah, kamu akan hidup bersama orang yang kamu cintai, dan udah gitu kak Andre juga sudah mapan dan sudah layak berumah tangga, aku yakin kak Andre juga ngga akan menghambat kuliah kamu, meski kamu lama untuk lulus dari kuliah nya, kebahagian kamu banyak nanti nya, selain kamu hidup dengan orang yang kamu cintai, kamu juga akan memiliki buah hati dan lambat laun kamu juga akan mendapatkan ijazah, pikirkan omongan aku" kata Dewi lalu menyeruput jus yang di sajikan oleh Siska.
SIska pun terdiam mendengar omongan dari sahabat nya.
"Satu lagi, seumuran kak Andre itu bukan mencari pacar buat senang-senang saja dan merubah status jomblo, tapi kak Andre mencari seorang pasangan yang nanti nya akan menjadi pendamping dia sampai tua, sampai maut memisah kan nya, usia kak Andre bukan usia yang mau main-main, tapi kembali pada diri kamu sendiri, kamu mau nya gimana, pikir kan masak-masak jangan salah ngambil keputusan" Dewi pun mengakhiri pembicaraan dengan Siska yang harus memutus kan.
Selagi Siska diam, Dewi pun mengetik sebuah pesan dan di kirim kan nya kepada Faisal.
Siska hanya terdiam sambil sesekali mengusap air mata nya yang jatuh di pipi mulus nya.
__ADS_1
"Ya sudah seperti nya kamu lagi butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua nya, jadi aku pulang ya? Kata Dewi sambil berdiri.
"Kamu ngga nginep di sini Wi? Ku kira kamu bakalan nginep" tanya Siska.
"Ngga, kapan-kapan saja aku nginep, lagian saat ini kamu butuh sendiri untuk memikirkan semuanya" jawab Dewi sambil mengambil tas yang dia simpan di samping nya.
Sebuah motor masuk ke pekarangan rumah Siska dengan membunyikan klakson nya.
"Tuh Faisal udah jemput aku, aku pulang ya? Kata Dewi sambil mencium pipi kiri dan pipi kanan nya Siska.
Siska pun mengantarkan Dewi sampai depan sampai Dewi naik motor nya Faisal.
"Hati-hati ya? Jangan ngebut Sal, kasihan Dewi masih perawan" teriak Siska, Faisal cuma mengangguk sambil tersenyum, walaupun senyuman Faisal ngga akan terlihat oleh SIska karena dia memakai helm Full Face.
"Kamu juga, pikirkan semua yang aku omongin tadi, jangan salah ngambil keputusan" teriak Dewi.
Faisal pun melajukan motor nya dengan kecepatan sedang, Siska pun masuk ke dalam setelah motor Faisal yang membawa Dewi sudah ngga kelihatan lagi.
Siska kini berada di dalam kamar nya, dia berbaring sambil memikirkan omongan Dewi.
Terlintas lagi di benak nya seorang perempuan cantik yang berada di samping nya Andre.
"Siapa wanita yang bersama kamu kak? Apa benar wanita itu selingkuhan kamu? Aku ngga akan biarkan wanita mana pun merebut kamu dari ku kak" gumam Siska.
Siska pun mengambil ponsel ya lalu menghubungi Andre.
Beberapa kali Siska menghubungi Andre tapi tetap tidak ada jawaban, Siska mulai resah dan gelisah, karena ngga biasa nya Andre mengabaikan telepon nya.
__ADS_1