
Para orang tua pun selesai temu kangen nya dan mereka siap-siap mau kembali ke rumah masing-masing. pak Hasan hampir sama dengan pak Purnama yang suka sering bolak balik ke luar negeri, tapi kekayaan nya jauh di bawah pak Purnama.
"Oh iya Dod masalah Rafi gimana? Apa bisa di bawa pulang sekarang? Tanya pak Hasan.
"Ya kalian bisa bawa dia pulang tapi dia harus lapor dua minggu sekali selama dua tahun dan dia di cekal ke luar negeri selamanya" jawab pak Dodi.
"Berarti Rafi tidak di izinkan untuk pergi ke luar negeri? tanya bu Carla sambil menatap suami nya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sudah ngga apa-apa, itu resiko yang harus dia tanggung sendiri" jawab pak Hasan sambil mengelus pundak istri nya.
"Tapi wisuda nya gimana yah? gimana masa depan Rafi? akhir nya bu Carla menangis lagi.
"Sudah biar dia urus cafe nya saja, dari cafe juga lumayan pemasukan nya asalkan di kelola dengan baik dan benar" jawab pak Hasan meyakinkan istri nya.Bu Carla pun akhirnya tenang tidak menangis lagi.
"Pak tolong panggilkan Saudara Rafi ke ruangan saya" teriak pak Dodi pada polisi yang bertugas.
"Ayu ngga harus di hadirkan lagi kan Dod? Aku takut trauma nya kembali kambuh" tanya bu Santi.
"Ngga usah cukup kalian saja yang menjadi saksi, dan ini ada beberapa yang harus Rafi dan kalian tanda tangani" jawab pak Dodi sambil menyimpan berkas di atas meja.
Rafi pun datang dan di kawal oleh petugas kepolisian yang bertugas.
"Silahkan duduk saudara Rafi" pak Dodi pun menyuruh Rafi duduk dan memberikan nya beberapa berkas yang isinya tentang pembebasan bersyarat.
Rafi pun membaca nya dengan teliti, dalam hati Rafi terus mengutuk dirinya yang telah berbuat kesalahan yang fatal.
Dan Rafi pun harus membuat per janjian secara tulisan yang di sertakan tanda tangan dirinya dan ke dua orang tua nya di atas materai, dalam isi perjanjian tersebut Rafi menuliskan jikalau dia melanggar perjanjian yang telah dia buat maka dia akan dengan rela di hukum masuk penjara seumur hidup nya.
"Oke,, kamu sudah mengerti kan ke depan nya harus bagaimana? Tanya pak Dodi.
__ADS_1
"Saya mengerti pak" jawab Rafi pelan karena luka di bibir nya yang masih menyisakan darah.
"Baik kalau begitu silahkan bawa pulang anak nya pak bu, dan pastikan kejadian ini tidak terjadi lagi, dan kasus ini saya tutup" kata pak Dodi sambil menutup berkas yang sudah di tanda tangani oleh mereka.
"Makasih pak Dodi, kalau begitu kami pulang nanti saya akan mengundang bapak di acara pernikahan anak kami" kata pak Purnama sambil menjabat tangan pak Dodi.
Mereka tahu dan paham ini ada di area kantor polisi dan di situ ada anggota polisi lain nya yang sedang bertugas, jadi mereka bicara formal, beda kalau mereka sudah kumpul seperti tadi.
Mereka pun berjalan keluar dengan membawa Rafi, Bu Carla menggandeng tangan Rafi dengan sesekali mengusap air mata nya, Rafi yang melihat ibu nya sedih seperti itu merasa teriris hati nya dan dia berjanji di dalam hati yang terdalam bahwa dia akan menebus semua kesedihan ibu nya dengan kebahagiaan dan Rafi berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodoh nya lagi.
"Maafkan bapak tadi sudah memukul mu dengan keras" kata pak Purnama sambil menyentuh bahu Rafi.
"Tidak ada apa-apa pak bahkan lebih dari itu pun saya pantas mendapat kan nya" jawab Rafi sambil menahan sakit di bibir nya.
*
*
*
"Hati-hati kamu jangan ngebut, terus jangan pulang terlalu malam, ngga enak sama keluarga kakak ipar mu" jawab bu Yanti.
"Iya bu adek janji ngga lama ko, kalau udah selesai urusan nya langsung pulang lagi" jawab Rama lalu mencium tangan kedua orang tua nya.
Begitu Rama mencium tangan bapak nya, pak Ramdan membisik kan sesuatu.
"Kalau ketemu sama penculik kaka mu bapak titip satu pukulan ya? Tapi jangan sampai parah" bisik pak Ramdan.
Rama pun mengangguk dan tersenyum, "Ya udah, Rama berangkat, Assalamualaikum? Kata Rama lalu pergi meninggalkan pak Ramdan dan bu Yanti.
"Bapak membisik kan apa sama Rama? tanya bu Yanti dengan tatapan curiga nya.
__ADS_1
"Bapak cuma bilang hati-hati di jalan kalau ada cewek yang butuh tumpangan ajak aja, kan kasihan bu kalau cewek cantik jalan kaki ntar cantik nya luntur sama keringat" pak Ramdan pun memberikan alasan.
"Oh jadi bapak kalau lagi di jalan suka ngajak-ngajak cewek cantik, mentang-mentang ibu sudah ngga cantik lagi" bu Yanti pun cemberut.
"Bagi bapak ibu yang paling cantik diantara semua perempuan di dunia ini" jurus merayu pak Ramdan pun keluar.
"Gombal" jawab bu Yanti lalu pergi dan di susul dari belakang oleh pak Ramdan.
"Pak kapan kita pulang? Ibu ngga enak tinggal di sini terus, apalagi pak Purnama dan istrinya sekarang pulang dari Paris" kata bu Yanti.
"Besok kita pulang bu,kalau sekarang kan ngga enak, masa nak Raka dan Ayu ngga ada di rumah terus kita pulang, kan ngga sopan" jawab pak Ramdan, bu Yanti pun mengangguk mengerti.
*
*
*
"Ya ampun Hubby, aku sudah lama meninggalkan ibu, pasti ibu nyariin Aku, kalau bi Asih cerita gimana? Ayu pun khawatir dengan ibu nya.
"Tenang dong Yang, mereka ngga bakalan ada yang bilang, percaya deh sama Aby" jawab Raka.
"Ya sudah urusan kita udah selesai kan? Kalau gitu kita balik" ajak Nisa.
"Kak Andre yang cakep antar pilang kita ya? Kalau ngga Siska nya ngga bakalan aku kasih buat kak Andre" kata Dewi sambil tersenyum.
"Kasih,,kasih,, emang aku makanan main kasih aja" cerocos Siska sambil manyun.
"Manyun gitu aja cantik apalagi tersenyum, ah hati abang meleleh" kata Andre sambil menatap ke arah Siska, yang di tatap pun menunduk malu.
Para orang tua mereka pun sekarang sudah berada di depan kantor polisi, tiba-tiba datang sebuah motor dan berhenti tepat di samping mobil pak Hasan.
Rama yang sudah mengenali wajah Pak Purnama pun menghampiri nya, dia mencium tangan pak Purnama dan yang lain nya, giliran melihat Rafi Rama sedikit bingung sambil menatap ke arah pak Purnama.
__ADS_1
"Kenapa dengan kakak ini pak? Tanya Rama, "Dia yang sudah membuat kakak mu trauma, tapi,,,,,," belum juga pak Purnama selesai menjelaskan Rama sudah melayangkan tangan nya ke wajah Rafi.
"BUGHHHH"