
Hari ini Raka tidak masuk kantor karena menemani Ayu di dan Byan, walaupun mereka gantian menunggu nya tapi Raka tidak mau jauh-jauh dulu dari anak nya.
Andre ke kantor hanya untuk menyelesaikan pekerjaan Raka yang memang harus selesai hari ini juga.
"Pak Andre maaf, pak Raka nya ngga masuk ya? Tanya Laura.
"Hari ini pak Raka belum bisa masuk dulu, mungkin besok dia akan masuk, jadi untuk berkas yang memang harus selesai hari ini akan saya handle dulu" jawab Andre.
"Oh gitu ya pak, baiklah pak Andre dan ini berkas yang memang harus selesai siang ini juga" jawab Laura lalu pergi meninggalkan Andre di ruangan Raka.
"Sia-sia aku sudah dandan habis-habis san, pak Raka nya juga ngga masuk, tapi tenang Laura masih ada hari esok" gumam bathin Laura sambil duduk di kursi kerja nya.
"
"
"Wi, pulang nanti kita mampir dulu ke Rumah Sakit ya? Kita lihat baby nya Ayu" ajak Siska.
"Oke Sis, bentar aku ajak Faisal dulu" jawab Dewi.
"Jangan ajak Faisal Wi" Siska pun menahan tangan Dewi yang mau menghubungi Faisal.
"Lo, kenapa Sis? Kan kamu juga pergi nya sama kak Andre? Tanya Dewi.
"Ngga Wi, dari kemarin kak Andre ngga bisa di hubungi" jawab Siska dengan raut muka sedih.
"Ngga biasa nya lo kak Andre seperti ini, apa yang kemarin kita lihat itu beneran ya? Kata Dewi dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Siska.
"Entahlah Wi" jawab SIska sambil menunduk memainkan ponsel nya.
"Terus sudah kamu pikir kan apa yang telah aku saran kan? Tanya Dewi.
"Aku bingung Wi" Siska pun sudah ngga kuat lagi dan air mata nya lolos terjun di pipi mulus nya.
"Sudah lah jangan nangis, ikuti saja kata hati kamu, kalau memang kamu masih dengan pendirian kamu, kalian sebaik nya berpisah, jangan sampai terlalu jauh kalian saling menyakiti" kata Dewi sambil mengelus lembut punggung Siska.
"Tapi aku sangat mencintai kak Andre Wi? Kata Siska dalam isak tangisan nya.
"Kalau kamu mencintai kak Andre, terima dong lamaran dia, aku juga kalau jadi kak Andre pasti memilih pergi dari orang yang ngga bisa diajak serius" jawab Dewi yang sedikit kesal dengan sikap Siska.
Siska pun diam dengan jawaban Dewi, dia menumpahkan semua kegelisahan hati nya dalam pelukan Dewi dan tangisan.
__ADS_1
Hanya Dewi sekarang yang bisa menenang kan nya, maka dari itu dia akan melakukan apa yang telah Dewi sarankan.
Lambat laun tangisan nya mereda dan menyisakan sisa air mata dan sedikit sembab.
"Baiklah aku akan menerima lamaran nya kak Andre" kata Siska sambil melepaskan pelukan nya dan membersihkan sisa air mata yang masih menetes.
"Nah gitu dong? Kenapa ngga dari kemarin-kemarin aja sih" cerocos Dewi.
"Ya sudah ayo cuci dulu muka nya, habis itu kita masuk sebentar lagi ada pelajaran pak Beni" ajak Dewi.
^
^
Tasya pun sudah cantik dan fresh, dia pun mau pergi ke Rumah Sakit menemui keponakan nya yang lucu.
"Mah aku mau ke Rumah Sakit lagi ya? Mamah kapan mau menemui Byan lagi? Tanya Tasya.
"Mamah nanti saja sama papah" jawab bu Santi sambil merajut.
"Lagi merajut apa sih mah khusuk banget sampai-sampai aku yang udah cantik saja ngga di lirik nya" jawab Tasya sambil duduk di samping bu Santi.
"Ini mamah lagi buat sepatu buat Byan" jawab bu Santi.
"Wah mamah pintar ternyata buat sepatu bayi" Tasya pun kagum dengan keahlian bu Santi.
"Wah beneran mah? nanti kalau aku sudah punya anak mamah buatin juga ya? Tanya Tasya.
Bu Santi pun mengangguk," kamu mau pergi sama siapa Sya? Tanya bu Santi.
"Aku mau pergi sama kak Andre mah, tapi ko belum pulang juga ya? Kata Tasya.
"Mungkin sebentar lagi, kamu tunggu saja" jawab bu Santi.
Tidak berapa lama sebuah mobil pun masuk ke halaman rumah pak Purnama.
"Nah itu mobil Andre Sya" kata bu Santi sambil melihat ke arah mobil.
"Sudah siap belum Sya? Tanya Andre yang sudah turun dari mobil nya.
"Sudah dari tadi kak, kakak yang lama" jawab Tasya.
__ADS_1
"Biasa Sya macet, ya sudah ayo kita berangkat sekarang" ajak Andre.
Andre dan Tasya pun pamit sama bu Santi lalu pergi menuju Rumah Sakit Bunda Kasih.
"Kak kita mampir di mini market dulu ya? Aku mau beli cemilan" kata Tasya.
"Oke adek kakak yang cantik, memang ya kebiasaan kamu dari dulu ngga pernah hilang, selalu saja ngemil, untung tuh badan ngga lebar" kata Andre sambil menepikan mobil nya di depan mini market.
"Bagus dong berarti, walaupun banyak makanan yang masuk tapi tidak membuat ku seperti gajah" jawab Tasya lalu turun dari mobil.
Andre menunggu Tasaya dengan sabar, sambil melihat-lihat lagi ponsel nya.
"Sengaja aku ngga ngabarin kamu, tapi ternyata kamu ngga perduli sama aku, apa kamu memang bukan di takdirkan untuk aku" gumam Andre sambil menatap poto Siska yang ada di ponsel nya.
"Udah jangan di pikirin, kalau pun sudah jodoh ngga akan kemana tuh cewek" teriak Tasya sambil masuk dan duduk kembali di samping Andre.
Andre pun hanya melirik dan menyimpan kembali ponsel nya lalu melajukan kembali mobil nya menuju Rumah Sakit.
Karena jarak yang memang tidak terlalu jauh, mereka pun sampai dan langsung menuju ke ruangan Ayu.
"Siang kak, gimana kabar nya ank ku yang tampan ini" kata Tasya yang baru masuk di ikuti oleh Andre.
"Enak saja anak kamu, ini anak aku dan istri ku yang cantik jelita" jawab Raka sambil menggendong Byan.
Ayu hanya tersenyum melihat kelakuan mereka, Ayu sudah langsung memahami karakter Tasya.
Andre pun duduk di sofa sambil menyimpan segala cemilan dan minuman di meja.
"Wah,, anak ku tampan sekali, ini mamah mu ya nak? Maafin mamah belum gendong kamu, mamah takut soalnya kamu masih terlalu kecil" kata Tasya.
"Udah sana kamu duduk saja di sofa, pakai ngaku-ngaku lagi" gerutu Raka.
Tasya pun mencubit pipi Raka" Uhhhh gemez nya baby Byan" teriak Tasya lalu pergi ke arah sofa dan duduk di samping Andre.
"Yang, lihat aku di cubit" rengek Raka yang hanya mendapatkan senyuman dan gelengan kepala dari Ayu dengan tingkah mereka.
"Kak ini enak lo coba deh" kata Tasya sambil menyuapi Andre.
__ADS_1
"Kak Andre" gumam Siska.