
Keesokan pagi nya Raka terbangun karena suara ponsel nya yang terus bunyi, Raka pun meraih ponsel di atas meja dengan setengah melek.
"Hallo, Ndre ada apa, gue hari ini ngga masuk dulu masih capek, lo juga kalau masih ngantuk dan capek jangan masuk dulu biar ntar gue yang bilang sama papah" kata Raka dengan mata yang masih terpejam.
"Raka sayang, ini mamah, kamu belum bangun udah siang gini, habis ngapain kamu semalam? Kamu mabuk lagi pasti, Raka Raka kamu itu sudah punya istri berubah kenapa? Tinggalkan kelakuan buruk mu itu sayang mamah mohon" cerocos bu Santi tanpa jeda.
"Mamah?? mamah jangan salah paham dulu, Raka belum bangun itu karena Raka baru tidur jam tiga pagi" jawab Raka yang setengah kaget.
"Nah kan kamu pulang pagi lagi? Ya ampun Raka, tolong nak kasihan sama mamah jangan buat istrimu menderita dengan sikap kamu, buka hati kamu untuk istri kamu sayang" bu Santi pun salah paham.
"Mah aku pulang pagi karena,,,,,,,," Ucapan Raka pun terhenti karena mendengar teriakan Ayu.
"Lepaskan, tolong lepaskan aku, Aby tolong Aby" teriak Ayu yang terdengar jelas oleh bu Santi
"Sayang iya ini Aby, kamu sudah selamat sayang, kita sudah di rumah, kamu yang tenang ya? Jawab Raka sambil memeluk istri dan mengusap lembut punggung Ayu hingga AYu kembali merasa tenang.
"Raka kenapa dengan Ayu ada apa sampai Ayu teriak ketakutan seperti itu" bu Santi pun panik.
"Bentar mah, Raka nenangin Ayu dulu, nanti kalau Ayu sudah tenang Raka telepon balik" jawab Raka lalu mematikan ponsel nya.
Raka pun terus memeluk dan mengelus Ayu sampai Ayu benar-benar tenang dan tertidur kembali.
*
*
*
Pagi itu Yulia terbangun karena perut nya yang mual, Yulia pun berlari ke kamar mandi memuntahkan cairan yang ada di dalam perut nya.
Yulia pun teringat akan tespack yang dia beli kemarin, lalu mengambil dan Yulia pun mengguna kan nya di kamar mandi.
Hampir lima belas menit Yulia berada di kamar mandi, sambil memejamkan matanya Yulia mengambil tespack yang iya masukan ke urine nya yang dia tampung di wadah kecil.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit Yulia membuka matanya dengan hati yang berdebar, hingga mata nya melotot melihat garis dua yang tertera di tespack yang ia gunakan.
"Positif???? Gumam Yulia sambil menatap nanar ke arah tespack.
"Ini buah cinta kita Fi? Rafi??? Yulia pun sontak teringat Rafi yang semalam di cari Raka dan Andre.
Yulia pun terus-terus san menghubungi no Rafi, tapi selalu saja jawaban nya di luar jangkauan.
"Apa pak Raka dan pak Andre tidak menemukan Ayu? Apa Rafi sudah membawa Ayu ke Ln?
Yulia pun langsung menghubungi no Raka untuk menanyakan nya, tapi sayang no ponsel Raka pun lagi sibuk.
"Ya sudah di kantor saja nanti aku tanyakan sama pak Raka atau pak Andre" gumam Yulia lalu melakukan ritual mandi pagi nya sebelum pergi ke kantor..
Sedangkan di kantor polisi Rafi sedang meringkuk di balik jeruji besi.
Masa depan Rafi hancur acara wisuda yang dia tunggu-tunggu pun tak terlaksana akibat kelakuan dan obsesi dia sendiri.
Orang tua Rafi pun terus menghubungi dia tapi tidak pernah tersambung.
"Maafkan aku Yu, aku khilaf aku hanya tidak rela kamu menjadi milik orang lain" gumam batin Rafi sambil menahan rasa ngilu di badan nya.
Sekarang yang Rafi rasakan hanya penyesalan yang amat sangat, andai waktu bisa di ulang Rafi pasti ngga akan melakukan hal yang sangat bodoh itu.
Ibarat kata "Nasi sudah menjadi bubur ngga bakalan kembali menjadi nasi" itulah yang Rafi rasakan sekarang.
Sekarang Rafi harus mendekam di balik jeruji besi entah berapa lama, Rafi hanya bisa berharap Ayu memaafkan segala kesalahan yang pernah dia lakukan, dia rela di penjara asal Ayu memaafkan dirinya.
*
*
*
__ADS_1
Setelah Ayu tenang Raka pun turun dari ranjang dan mengambil ponsel nya, Raka sedikit menjauh dari ranjang karena takut mengganggu istirahat Ayu.
Raka pun langsung menghubungi mamah nya yang lagi di Paris, setelah terhubung Raka langsung di cecar pertanyaan sama BU Carlota.
"Gimana Ayu nak? Sebenar nya ada apa? Kamu ngga apa-apain dia kan nak? Awas saja kalau kamu apa-apa in dia mamah pecat kamu jadi anak mamah"
"Satu satu dong mah nanya nya? Raka kan jadi bingung harus jawab yang mana dulu" jawab Raka.
"Pokok nya kamu ceritain dari awal sampai akhir ngga boleh ada yang kamu tutup-tutupin lagi" bu Carlota pun sudah ngga sabar mendengar cerita dari anak nya.
"Begini mah, kemarin dari pagi Ayu di kantor Raka lalu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,," Raka pun menjelaskan semua nya kepada mamah nya, ngga ada yang Raka tutup-tutupi lagi, sampai Raka yang sudah menerima Ayu pun dia ceritakan kepada sang mamah"
"Nah begitu cerita nya mah" kata Raka setelah menceritakan semua nya.
"Kalau begitu mamah hari ini juga langsung pulang, mamah ngga mau kondisi menantu mamah tambah parah lagi, kalau misalkan sampai sore dia terus seperti itu, kamu harus bawa dia ke psikiater" jawab bu Carlota.
"Emang kerjaan papah sudah selesai? Tanya Raka.
"Selesai ngga selesai pokok nya mamah mau pulang sekarang juga, kalau papah ngga bisa mamah pulang sendiri saja, ya sudah mamah tutup telepon nya mau packing dulu" kata bu Carlota lalu memutus kan sambungan telepon nya.
Perjalanan Paris ke indonesia membutuhkan waktu sekitar hampir 18 jam, maka nya bu Carlota pengen berangkat sekarang juga biar keesokan hari nya bisa sampai di indonesia, dia sudah ngga sabar pengen melihat kondisi menantu nya.
Raka pun menyimpan ponsel nya di meja lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan buat istri nya.
"Den gimana keadaan non Ayu? Tanya bi Asih yang ikut khawatir dengan keadaan Ayu.
"Masih ketakutan bi, tapi sekarang lagi tidur" jawab Raka.
"Den apa ngga sebaik nya keluarga non Ayu dikasih tahu? Biar non Ayu banyak yang menghibur dan bisa dengan cepat melupakan kejadian penculikan" Bi Asih pun memberikan saran.
"Tapi ibu nya kan masih sakit bi, takut nya nanti ibu kepikiran Ayu dan akhir nya drop lagi kondisi nya" jawab Raka sambil menuangkan air minum.
"Pelan-pelan aja ngasih tahu nya den, atau jemput mereka kesini, mereka juga kan belum pernah mampir keisini?
__ADS_1
"Benar juga kata bibi, ya udah nanti aku suruh pak Asep jemput mereka" Raka pun menyetujui usulan bi Asih.