
Kini Ayu dan Tasya sudah berada dalam mobil, tumpah lah semua air mata Ayu yang sejak tadi dia tahan dan dia pendam, Tasya pun memeluk Ayu memberikan ketenangan.
"Luapkan saja semua nya, aku akan selalu ada buat kakak ipar" kata Tasya sambil mengelus lembut punggung Ayu.
Lama Ayu menangis dalam pelukan Tasya, dan Tasya dengan sabar menunggu Ayu tenang.
Sakit pasti, hati wanita mana yang tidak sakit melihat suami bersama wanita lain, walau pun hanya sekedar saling pandang.
Ayu yang pas berangkat semangat dan penuh dengan senyuman di bibir nya, kini senyuman itu hilang dan musnah semenjak dia melihat seorang wanita duduk di pangkuan suami nya.
"Sya bisa kah kamu membantu ku? Tanya Ayu sambil melepas kan pelukan nya setelah merasa tenang.
"Membantu apa kak? Tasya pun balik bertanya pada Ayu.
"Bantu kakak pergi dari sini, please Sya, bantu kakak" Ayu pun memohon.
"Tapi bagai mana dengan bang Raka kak? Tanya Tasya.
"Aku hanya ingin memberi mas Raka sedikit pelajaran saja, ayolah Sya, please? Ayu pun terus memohon kepada Tasya.
"Baiklah kalau begitu besok pagi-pagi buta kakak pergi ke Paris, di sana nanti ada sahabat ku yang akan membantu kakak" kata Tasya.
"Tapi Sya, mas Raka pasti mencari nya ke bandara dan melihat data keberangkatan bersama data penumpang nya? Ayu pun khawatir.
"Kakak tenang saja, aku akan menghubungi Axel, dia pasti bisa membantu untuk mengurus semua nya" jawab Tasya.
"Makasih Sya, tapi aku mohon jangan sampai ada yang tahu" kata Ayu.
Mereka memang di dalam mobil, tapi sopir nya pak Purnama di suruh keluar dulu sama Tasya karena Tasya tahu kalau Ayu butuh teman bicara dan privasi.
"Kakak tenang saja, tapi kakak hati-hati ya? Nanti aku nyusul ke Paris setelah mencari alasan yang tepat buat pergi" jawab Tasya lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi Axel.
*
__ADS_1
*
"Jadi lo membalas ci uman wanita itu? Lo benar-benar bang sat emang, gue ngga suka sama pria yang menyakiti wanita apalagi wanita itu adalah istri nya, dan gue ngga akan memaafkan lo jika kakak ipar terpuruk dan trauma kembali" kata Andre lalu pergi meninggalkan Raka sendirian dengan rasa penyesalan nya.
"Breng sek, gue memang breng sek, ba ji ngan, apa susah nya bersabar sedikit saja? Teriak Raka sambil melempar bantal sofa.
Mata Raka pun melihat ke arah tupper ware yang berada di atas meja lalu membuka nya.
"Maaf kan aku Yang, kamu udah mau susah-susah masak dan membawa nya ke sini tapi aku malah membuat mu sakit hati dan kecewa" gumam Raka sambil menatap ke arah makanan yang di bawa Ayu tadi.
"Sudah pergi kamu rupanya wanita breng sek, andai aku tadi yang melihat mereka berdua lagi ci uman sudah ku pastikan kalian ku habisi" gumam Andre.
Seorang office boy pun masuk untuk membersihkan ruangan.
"Kamu, tolong panggilkan bu Lastri yang bagian staf ahli kesini sekarang" perintah Andre.
"Baik pak" jawab office boy itu lalu pergi mencari Lastri.
*
*
"Gimana Sya? Axel bisa ngga membantu aku? Tanya Ayu penuh harap.
"Beneran Sya? Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang" ajak Ayu.
"Ngga jadi ke mall kak? Tanya Tasya.
Ayu sebenar nya ngga mau pergi kemana-mana apalagi kondisi badmood seperti inii, tapi Ayu ngga mau membuat Tasya kecewa, apalagi dia mau membantu nya pergi dari sini.
"Oh iya lupa, ya sudah kita ke mall, pak Asep nya panggil Sya, kita pergi sekarang" kata Ayu.
Mereka pun akhir nya pergi ke mall dan membeli beberapa barang yang di butuh kan nya.
Ayu membeli sebuah koper yang agak besar untuk besok pergi dengan Byan.
Di dompet Ayu masih tersimpan uang cash yang dulu di kasih Raka untuk nya dan masih utuh.
__ADS_1
"Biar aku yang bayar semua nya" kata Ayu sambil mengeluarkan dompet nya.
"Ngga apa-apa kak aku juga ada, uang kakak simpan saja buat bekal di Paris besok" jawab Tasya.
"Ngga apa-apa Sya ini banyak kok" jawab Ayu sambil membayar semua belanjaan nya.
"Ada lagi yang mau di beli ngga? Tanya Ayu.
"Ngga kak sudah cukup, sekarang kita pulang saja, kakak kan harus siap-siap buat besok pagi" kata Tasya.
*
*
"Maaf pak, apa bapak memanggil saya? Tanya Lastri dengan hati berdebar, perasaan dirinya ngga punya salah, tapi dia di panggil langsung oleh orang no tiga di perusahaan ini.
Lastri sudah mencari tahu orang-orang penting di perusahaan ini, karena Lastri ngga mau mendapat masalah, karena dia sangat membutuh kan pekerjaan untuk menghidupi diri nya sendiri bersama ke dua adik nya.
"Lastri saya sudah melihat dan membaca artikel kamu, kamu punya talenta di bidang sekertaris, dan mulai sekarang kamu saya angkat jadi sekertaris perusahaan ini, sekertaris nya Raka, pindahkan semua barang-barang kamu kesini sekarang juga" kata Andre yang membuat Lastri kaget dan tidak percaya dengan semua ini.
"Maksud bapak saya menjadi sekertaris pak Raka? Tapi kan sudah ada bu Laura yang menjadi sekertaris pak? kata Lastri yang belum tahu kalau Laura sudah di pecat.
"Laura sudah saya pecat dengan tidak hormat, karena dia menggoda pak Raka dan membuat kakak ipar sakit hati dan marah" jawab Andre yang keceplosan bicara.
"Ya ampun jadi dia beneran melakukan nya? Gumam Lastri yang masih bisa di dengar oleh Andre.
"Apa kamu mengetahui rencana Laura sebelum nya? Tanya Andre sambil menatap tajam ke arah Lastri.
"Saya,,,saya,,,," Lastri pun mengutuk dirinya dalam hati karena telah bicara di depan Andre.
"Aduh padahal aku ngomong nya pelan, kok pak Andre bisa mendengar nya sih" gumam bathin Lastri.
"Katakan dengan jujur, apa yang di rencanakan Laura kepada pak Raka, saya ngga suka pembohong" kata Raka mengintimidasi.
Dengan terpaksa Lastri pun menceritakan di awal dia bertemu dengan Laura pada saat mereka melamar kerja, hingga Laura mau mendekati pak Raka dengan cara apapun dan dia ngga akan perduli walau pun pak Raka sudah punya pacar atau pun istri.
__ADS_1
Semua nya Lastri cerita kan kepada Andre, bukan maksud apa-apa, tapi Lastri tidak mau diri nya pun di pecat dari perusahaan no satu ini.