
Seharian ini Yulia ngga bisa fokus sama kerjaan nya, hanya ada Rafi di pikiran nya. Rafi yang ngga bisa di hubungi membuat Yulia menjadi khawatir.
"Kamu sebenar nya di mana Fi? Aku dan anak kita saat ini membutuhkan kamu" gumam hati Yulia sambil berkaca-kaca.
Mengingat dirinya yang sedang mengandung buah cinta nya dengan Rafi, dan di saat dia membutuhkan sosok seorang laki-laki di samping nya, Rafi malah menghilang.
Yulia memang hidup sebatang kara dari kecil, dia di besarkan di sebuah panti asuhan setelah dia masuk kuliah dia memilih hidup sendiri, karena panti asuhan dan kampus tempat dia menuntut ilmu jarak nya jauh.
Yulia kuliah sambil bekerja, dia berusaha semampu dia buat bertahan hidup dan bisa menyelesaikan kuliah nya.
Disaat seperti ini lah Yulia mengharapkan seseorang yang bisa di jadikan nya sandaran, di saat-saat seperti ini lah Yulia selalu menangis menahan rindu pada orang tua nya yang ngga tahu siapa dan dimana mereka berada.
Di hati nya ingin sekali merasakan pelukan seorang ibu, yang mana setiap anak merasa nyaman dengan pelukan seorang ibu nya.
Tak terasa air mata pun lolos di pipi mulus nya, saat ini Yulia rapuh, orang yang sangat dia cintai dari dulu malah memilih wanita lain sampai-samapi melakukan hal yang sangat bodoh.
Dia tidak melihat cinta dan sayang yang tulus dari Yulia, seakan-akan hati nya tertutup rapat sama Ayu.
Berkali-kali Yulia pun menghubungi Raka dan hasil nya sama sekali nol, Raka ngga menjawab telepon nya sama sekali.
"Apa aku pergi ke rumah pak Raka saja ya? Buat mastiin semua nya" gumam Yulia sambil membereskan meja kerja nya.
"Ya sudah aku ke rumah nya pak Raka saja, untung aku pernah ke rumah nya nganterin berkas jadi tahu" gumam Yulia, lalu melangkah menuju lift.
Yulia pun akhirnya memutuskan pergi ke rumah Raka dengan naik mobil online dan dengan perasaan yang sangat ngga karuan.
*
*
*
__ADS_1
Di taman duduk lah empat orang pria dengan berbeda generasi, Raka berniat ngasih tahu semuanya kepada ayah mertua dan adik ipar nya.
Setelah bi Asih menata minuman dan cemilan di meja yang ada di taman, bi Asih pun kembali ke ruangan favorite nya yaitu dapur.
"Begini pak, saya sengaja menyuruh pak Asep untuk menjemput bapak kesini biar Ayu bisa melupakan kejadian kemarin yang menimpa Ayu hingga membuat Ayu dalam keadaan trauma, tapi untung nya trauma nya tidak berkepanjangan, tapi saya takut nya suatu waktu rasa takut nya itu muncul kembali, makanya saya sengaja hadirkan orang-orang dekat Ayu biar dia bisa melupakan nya" kata Raka sambil menghembuskan nafas nya dengan pelan.
"Emang ada apa dengan Ayu" tanya pak Ramdan kaget.
"Ada apa sama kak Ayu kak Raka? Rama pun ikut kaget.
"Kemarin kakak ipar di culik, dan alhamdulilah semalam kita berhasil meringkus penculik dan menolong kakak ipar, tapi kakak ipar masih selalu ketakutan dan badan nya gemetar" jawab Andre, karena Raka ngga sanggup untuk menceritakan mengingat kejadian yang menimpa istri nya semalam.
"Breng sek siapa yang berani menculik kakak? Katakan kak, biar aku bunuh dia" Rama pun emosi mendengar cerita Andre, apalagi Ayu adalah kakak yang sangat ia sayangi.
"Sudah tenang nak? Yang penting kakak mu sudah selamat, serahkan semuanya sama kakak ipar mu, kakak ipar mu juga ngga bakalan diam saja melihat kakak mu seperti itu" kata Pak Ramdan sambil mengelus punggung Rama. Pak Ramdan juga sebenar nya emosi tapi dia bisa menahan nya.
"Siapa yang menculik kak Ayu kak? Apa kakak tahu? Tanya Rama kembali.
"Kata saksi yang memberitahu namanya Rafi dia mantan nya kakak mu" jawab Raka.
"Kamu kenal nak, Sama yang menculik nya? Tanya Pak Ramdan sama Rama.
"Ngga sih pak, cuman kak Ayu sering cerita tentang orang itu, oh ya kak sekarang dimana dia aku ingin menemui nya" kata Rama.
" Dia sudah meringkuk di penjara, semalam kita langsung membawa nya ke kantor polisi, kamu tenang Ram kak Andre sudah menghajar dia sampai terkapar" kata Andre sambil memperagakan tangan nya.
"Kenapa kakak ngga membunuh nya sekalian" tanya Rama yang masih di liput rasa amarah nya.
__ADS_1
"Kakak juga hampir membunuh nya, tapi kakak di sadarkan oleh orang yang kakak sayang" jawab Andre sambil tersenyum mengingat dirinya di cegah oleh Siska.
"Makasih nak, kalian berdua sudah menolong Ayu" kata bapak sambil melihat ke arah Raka dan Andre.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai suami nya pak, oh ya pak, maafkan sikap saya yang dulu kepada keluarga bapak yang mungkin membuat keluarga bapak sakit hati dengan sikap saya"
"Ngga apa-apa nak, bapak juga ngerti dengan posisi kamu dan Ayu, disini yang harus nya minta maaf adalah bapak, bapak yang telah mengorbankan masa depan Ayu" jawab pak Ramdan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bapak jangan bicara seperti itu, itu membuat saya juga merasa bersalah, bapak tenang saja, saya berjanji akan selalu membahagiakan Ayu dan akan menuruti ke mau an dia tapi untuk jadi seorang dokter saya tidak mengizinkan nya" jawab Raka.
"Kenapa kakak ipar ngga mengizinkan kak Ayu menjadi dokter? Itu kan cita-cita kak Ayu dari dulu" tanya Rama sambil menatap tajam ke arah Raka.
"Dia sudah bucin sama kakak ipar Ram" jawab Andre dan mendapatkan lemparan tisu dari Raka.
Pak Ramdan pun tersenyum mendengar nya, dan hati nya bahagia mendengar raka sekarang sangat menyayangi anak nya.
Pak Asep menghampiri mereka memberikan kabar bahwa ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Raka.
"Maaf saya mengganggu, maaf den di depan ada seorang wanita mau ketemu sama den Raka" kata pak Asep.
Raka dan Andre pun saling menatap dan bertanya-tanya"
"Siapa pak? Tanya Raka dan Andre bersamaan.
Sementara pak Ramdan dan Rama saling menatap penuh dengan tanda tanya.
"Jangan bilang cewek nya atau mantan kak Raka yang datang, kalau benar lihat saja apa yang akan aku lakukan sama kamu kak Raka" gumam batin Rama sambil menatap curiga sama Raka.
__ADS_1
Raka pun yang di tatap seperti itu sama Rama hanya bisa diam.