
Akhirnya mereka pun sampai di kediaman pak Hardian, mereka sudah sepakat tidak akan membahas masalah penculikan di depan Ayu, demi menghilangkan rasa trauma Ayu.
Mereka pun langsung masuk setelah Andre mengajak nya, Andre sudah biasa keluar masuk rumah orang tua angkat nya jadi ngga perlu pencet bel lagi, bahkan kalau pintu nya di kunci dia mempunyai kunci cadangan nya.
Begitu masuk terlihat art yang bagian bersih-bersih lewat mau pergi ke belakang.
"Eh den Andre, den Raka lagi di dapur sama non Ayu lagi bikin kue" kata Bi Nani. Bi Nani ini khusus buat bersih-bersih semua ruangan sedangkan Bi Asih khusus di dapur sekaligus kepercayaan bu Santi.
"Makasih bi, ayo kita langsung aja ke dapur kita kejutkan mereka" ajak Andre kepada ketiga sahabat nya Ayu.
Sedangkan Raka di dapur terus mengganggu Ayu yang lagi membuat adonan kue.
"Hubby, please jangan ganggu mendingan Aby bantuin biar cepet selesai" kata Ayu.
"Ya sudah sini Aby bantu" jawab Raka sambil mengambil tepung lalu menempelkan nya di pipi Ayu.
"Aby,,,,,is nakal ya? Ayu pun membalas menempelkan tepung di pipi Raka dan terjadi lah perang tepung di antara mereka, hingga akhirnya Raka memeluk Ayu.
Mereka pun saling menatap dengan wajah penuh dengan tepung, begitu Raka mendekat kan bibir nya dan bibir nya hampir mendarat di bibir istri nya tiba-tiba terdengar suara para sahabat nya.
"Kalau mau bikin anak di kamar dong jangan di dapur kan mata suci kita ikut ternoda" teriak Dewi dan mengagetkan mereka berdua.
Raka spontan melepaskan pelukan dan menjauh kan bibir nya dari bibir istri nya.
Begitu mereka melihat wajah kedua nya penuh dengan tepung mereka berempat pun tertawa terbahak-bahak.
"Wah wajah kalian berdua lucu sekali" teriak Nisa sambil tertawa.
"Kalian ini ganggu saja" kata Raka lalu pergi ke toilet untuk membersihkan muka nya.
"Mata kalian dari kemarin juga sudah ternoda, so so an masih suci" cerocos Ayu.
"Sini kita bantuin buat kue nya" kata Siska lalu menghampiri Ayu yang lagi membuat adonan.
"Aku ke ruangan tengah dulu ya? Kata Andre sama Siska, yang lain nya cuma saling melirik memberi kode.
"Cieeee yang lagi pede kate, ayo dong jadikan biar ngga di embat orang" Dewi pun mulai jadi kompor.
__ADS_1
"Tenang saja nanti kita jadian ko, iya kan Sis? kata Andre sambil menatap penuh damba Siska.
Siska yang malu hanya menunduk, muka nya sudah memerah.
"Ya sudah kakak ke sana dulu biar bidadari mu kita yang jaga" Nisa pun ngusir Andre.
"Iya,,,iya aku pergi" Andre pun pergi dari dapur dan tinggal lah ke empat wanita yang mulai membuat kue.
"Emang kalian bisa buat kue? Tanya Ayu, "Yang bisa cuma Siska, kita berdua bisa nya cobain doang" kelakar Dewi.
Ayu pun tersenyum dan itu membuat mereka bertiga bahagia, karena Ayu tidak terpuruk terus-terusan.
*
*
*
Keluarga pak Ramdan pun siap-siap ikut dengan pak Asep, lagian ini pertama kali juga buat mereka berkunjung ke rumah keluarga pak Purnama.
Di dalam perjalanan pak Ramdan kembali bertanya sama Pak Asep.
"Pak apakah Ayu baik-baik saja di rumah pak Purnama? Tanya pak Ramdan.
Pak Ramdan, bu Yanti dan Rama pun tersenyum bahagia mendengar nya.
Mereka tidak menginginkan apa-apa, yang mereka harapkan Ayu selalu bahagia menjalani rumah tangga nya walau di awal pernikahan mereka tidak ada rasa cinta.
Jika seandai nya Ayu menjalani rumah tangga tidak bahagia bahkan membuat Ayu tersiksa lahir dan bathin, maka yang sangat amat bersalah di sini adalah pak Ramdan, karena di awal dia lah yang memaksa Ayu untuk menerima pernikahan ini.
Tak terasa mereka pun sampai di halaman rumah megah nya pak Purnama.
"Wah ini sih bukan rumah tapi sebuah istana" Rama pun berdecak kagum.
"Semoga kakak selalu mendapat kan kebahagiaan di rumah ini" gumam Rama sambil terus melihat ke rumah megah nya pak Punama.
"Besar banget ya pak rumah nya? Gimana bersihin nya rumah sebesar gini" kata bu Yanti yang sudah di gandeng pak Ramdan.
"Mereka pasti punya banyak pekerja bu" jawab pak Ramdan.
__ADS_1
"Mari pak" pak Asep pun membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah tepat nya di ruang keluarga mereka sedang berkumpul sambil menikmati kue buatan mereka, tepat nya buatan Ayu.Sambil bercanda dan di selingi tertawa mereka menikmati kue dan minuman yang di sajikan bi Asih.
"Assalamualaikum? Sapa ke tiga orang bersamaan membuat yang ada di ruang keluarga menoleh.
"Wa\*alaikum salam" serempak mereka sambil menoleh ke arah suara yang memberi salam.
"Ibu,,,,,,," teriak Ayu lalu berlari menghampiri dan memeluk ibu nya.
"Ayu kangen ibu" kata AYu sambil menitik kan air mata nya, dia kembali teringat di saat dia di sekap oleh Rafi.
"Jangan nangis, kalau nangis ibu balik lagi" kata bu Yanti.
Mereka yang melihat Ayu seperti mengingat kembali masa-masa dia di sekap pun langsung pada menghibur nya.
"Ya ampun Yu, kamu ini udah sering buat anak tapi nangis kaya anak-anak" teriak Dewi dan berhasil membuat Ayu tersenyum kesal.
"Wi kamu ini ya? Dah lah bu abaikan ucapan dia, mari duduk bu,, pak,, Dek" ajak Ayu setelah mencium tangan orang tua nya dan memeluk Rama.
Raka dan semua yang ada di ruangan keluarga pun mencium tangan kedua orang tua Ayu, dan tangan mereka di cium oleh Rama.
"Ini adek kamu Yu? Wah seandai nya dia kakak kamu, aku mau deh sama dia tapi sayang dia adek kamu bukan kakak kamu" cerocos Dewi dan membuat semua nya tersenyum, sedangkan Rama yang di goda menadi salah tingkah.
"Udah jangan gangguin adek ku dia masih kecil, masih harus banyak belajar" jawab Ayu yang tidak mau jauh dari ibu nya.
"Naik apa kesini tadi bu? Tanya AYu.
"Kami di jemput sama pak Asep, katanya di suruh nak Raka" jawab pak Ramdan.
"Beneran By? Tanya Ayu sambil menatap suami nya yang lagi duduk di samping nya, Raka pun mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih ya By? Aby selalu ngerti perasaan aku" kata Ayu sambil menggenggam jari nya Raka, Raka pun hanya mengangguk.
"Kalau gitu kita para pria duduk nya pindah di taman saja gimana? ajak Raka.
Raka cuma ingin menyampaikan maslah yang Ayu alami hanya kepada Ayah dan adik nya AYu saja.
__ADS_1