
Setiap hari seperti biasa mereka melakukan rutinitas nya, Ayu yang selalu di sibukan sama Byan dan Raka, bu Carlota yang selalu rebutan Byan sama suaminya, apalagi sekarang Byan sudah berusia dua bulan lebih, Byan lagi lucu-lucu nya, Byan sering tersenyum dan tertawa di kala di ajak bicara.
Dan Laura di sibuk kan setiap hari nya untuk menggoda Raka, berbagai cara Laura lakukan, hingga ada perkembangan Raka semakin dekat dengan Laura.
Seperti biasa pagi ini di kantor Laura selalu menggoda Raka lewat nada bicara, lewat gaya dan juga lewat penampilan nya.
Laura sudah berdiri di depan pintu ruangan Raka, dia pura-pura lagi mengetuk pintu, padahal dia tahu kalau Raka lagi berjalan menuju ruangan nya.
Laura pun membuka pintu lalu pura-pura mencari Raka.
"Pak Raka, Pak, apa pak Raka belum datang ya? Kata Laura yang sedang pura-pura.
Pas Raka masuk Laura sengaja membalik kan badan nya dan pura-pura kaget hingga mau terjatuh.
"Awww,,," jerit Laura sambil pura-pura mau jatuh, Raka yang melihat Laura mau jatuh pun langsung memeluk pinggang Laura dengan tangan kekar nya
Raka mencium wangi menggoda dari Laura ditambah Raka melihat ke arah dua gunung milik nya Laura dengan jelas, karena seperti biasa Laura sengaja membuka kancing kemeja bagian atas nya untuk menggoda Raka.
Laura pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, tangan Laura membelai lembut dada bidang Raka.
Raka yang memang sudah hampir tiga bulan tidak mendapatkan nya dari Ayu pun merasa terbuai dan menikmati sentuhan dari Laura.
Tangan Laura pun naik dan menyentuh leher hingga tengkuk Raka, lambat laun Laura mengarahkan kepala nya Raka untuk dekat dengan wajah nya, hingga nafas mereka menyentuh kulit lawan nya, bibir mereka pun bertemu.
Bibir Laura pun kini sudah nempel di bibir nya Raka dengan manis, Raka merasakan hangat nya bibir Laura di bibir nya dan membuat seluruh tubuh nya me re mang.
Raka yang lagi puasa dan lagi haus akan sentuhan pun terlena dengan apa yang di lakukan oleh Laura pada dirinya.
Laura yang merasakan kalau Raka tidak menolak nya pun terus melancarkan aksi nya.
Semakin lama mereka pun semakin terbawa suasana hingga Raka pun membalas ciuman dari Laura dan melupakan Ayu dan Byan.
__ADS_1
Laura terus menggencarkan aksi nya, sengaja bukit kembar nya Laura ia gesekan ke dada nya Raka hingga membuat Raka ingin sekali membenamkan wajah nya di sana..
Laura terus merasakan bibir Raka dengan tangan di kepala Raka agar Raka mem per dalam lagi ciuman nya.
Sedangkan tangan Raka sudah berada di bukit kembar nay Laura dan siap untuk menjelajah nya.
Ponsel Raka yang dia simpan di saku celana pun berdering dengan begitu nyaring nya hingga membuat ke duanya menghentikan adegan panas nya di pagi hari ini.
"Maaf pak saya terbawa suasana" Laura pun pura-pura minta maaf sambil merapih kan baju nya kembali.
"Oke ngga apa-apa, aku juga salah, aku juga sudah terbawa suasana, ya sudah kamu kembali ke ruangan kamu, saya mau terima telepon dulu" jawab Raka dengan menahan junior nya yang sudah tegang.
Laura pun keluar dari ruangan Raka dengan bibir tersenyum bahagia.
"Kena kamu pak Raka, akhir nya pagi ini aku merasakan bibir mu yang sexy itu, ah sial gara-gara ada yang telepon jadi aku belum bisa merasakan tubuh nya pak Raka, tapi ngga apa-apa ini awal yang baik buat aku, aku akan selalu sabar menunggu berada di bawah nya pak Raka" gumam bathin Laura sambil terus menyungging kan senyuman di bibir nya.
*
*
Ayu pun sudah bingung harus bagaimana membuat Byan berhenti menangis.
"Oeekkk,,,,oekkk,,,ooeekkk" Byan terus-terusan menangis.
"Kamu ini kenapa sih naK? Tanya Ayu sambil terus menggendong Byan.
Pak Purnama dan bu Santi yang lagi duduk di ruang keluarga pun kaget mendengar Byan yang terus-terusan menangis.
"Coba kamu lihat ke kamar Ayu mah, kenapa dengan Byan sampai-sampai nangis nya kencang begitu" kata Pak Purnama.
"Ya sudah mamah lihat dulu ya pah" jawab bu Santi lalu pergi ke kamar nya Ayu.
"Kenapa dengan Byan sayang? Tanya bu Santi sambil menghampiri Ayu yang lagi menggendong Byan.
__ADS_1
"Ngga tahu mah dari tadi nangis terus, padahal juga udah kenyang" jawab Ayu dengan wajah bingung nya.
"Sama nenek yuk sayang, kita main sama kakek" kata bu Santi sambil membawa Byan dari gendongan Ayu.
"Ayu juga heran mah dengan Byan pagi ini padahal tadi baik-baik saja, tapi kenapa sekarang seperti ini" kata Ayu.
"Oeekkk,,,ooeekkkk,,,,oeekkkk" Byan terus saja menangis walaupun lagi di gendong bu Santi.
"Kita ke kakek ya nak? Kita main sama kakek" bu Santi pun terus mengajak Byan bicara, tapi Byan tetap menangis kencang.
"Cucu kakek kenapa? Aduh sayang nya kakek, cup cup cup" Pak Purnama pun ikut menenangkan Byan, tapi Byan tetap saja menangis.
Ayu pun turun dan menghampiri ke dua mertua nya yang lagi menenangkan Byan.
"Belum berhenti juga ya mah, apa mau sama mamah lagi sayang? Tanya Ayu sambil menatap dengan rasa iba sama Byan.
Saking lama nya Byan menangis wajah Byan pun memerah, terlihat Byan pun sudah lelah tapi di terus saja menangis.
"Kenapa den Byan nya non? Kedengaran nya dari tadi tidak berhenti menangis? Tanya bi Asih.
"Entah lah bi aku pun heran dan bingung, di kasih ASI ngga mau karena udah kenyang, diajak becanda ngga mau, aku kasihan melihat dia terus-terusan menangis seperti ini" jawab Ayu dengan wajah sedih nya.
"Apa terjadi sesuatu dengan den Raka ya? Biasa nya kalau anak nya yang terus-terusan nangis pasti terjadi sesuatu sama orang tua nya" Gumam bathin bi Asih.
"Nyonya, tuan,, dan non Ayu maaf kalau bibi sudah lancang ikut campur, gimana kalau non telepon den Raka, siapa tahu den Byan berhenti menangis nya setelah mendengar suara den Raka, mungkin den Byan kangen sama papah nya" kata bi Asih dengan hati-hati karena takut menyinggung mereka.
"Benar kata bi Asih nak, ayo coba kamu telepon Raka sekarang" kata pak Purnama.
"Iya nak, coba kamu telepon Raka sekarang, kasihan Byan capek nangis terus" kata bu Santi
Ayu pun langsung menghubungi Raka dengan harapan Byan bisa tenang seperti yang di katakan bi Asih.
__ADS_1