Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 100 Season 3 Chap 4 Hamil?


__ADS_3

Dua bulan berlalu di negara M, Erland begitu menikmati persembunyiannya.Lambat laun dia mulai melupakan kejadian yang telah lalu. Saat ini pria itu tampak bersantai dan memilih tak memikirkan wanita.


Sachi hanya menggeleng melihat kelakuan majikannya. "Putus cinta dan di tipu membuat seseorang frustrasi dan hampir gila. " gumam Sachi dalam hati.


Gadis itu memilih kembali ke dapur. Dia tak ambil pusing mengenai kelakuan Erland. Erland bangkit, dia pergi ke dapur dan menemui Sachi.


"Chichi, nanti sore ikut aku. Kita akan kembali ke negara X secepatnya. " ujar Erland.


Sachi menoleh dan tentu saja terkejut dengan keputusan majikannya. Gadis itu mengangguk setuju, memilih pasrah dan enggan mengajak Erland berdebat.


Erland pergi dari sana, Sachi menghembuskan nafas berat. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya nanti di kota.


Sore harinya, Erland dan Sachi dalam perjalanan menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka.


Mereka sampai di negara X pada pukul tujuh malam, karena ada sedikit kendala dalam perjalanan. Setibanya mereka di penthouse, keduanya lekas berisitirahat di dalam kamar masing masing.


Keesokan harinya, usai sarapan. Sachi mengerjakan pekerjaannya di dapur. Setelah selesai dia ke luar dari pengukus Erland. Tanpa sengaja, dia melihat seorang wanita hamil tampak kesusahan. Sachi lekas mendekati wanita hamil itu. Gadis itu berjalan beberapa meter dari penthouse Erland.


"Maaf ayo saya bantu Mbak. " ucap Sachi dengan sopan.


Saskia menoleh, menerima bantuan dari gadis di depannya. Sachi memapahnya hingga ke dalam menuju ruang tamu.


"Terimakasih ya, kamu telah membantu aku. " ucap Saskia.


"Sama sama mbak, memangnya suami mbak ke mana? " tanya Sachi.


"Kami sudah bercerai. " ungkap Saskia. Sachi langsung meminta maaf padanya, Saskia tak tersinggung sama sekali. Dia juga menawarkan diri, memijat kaki Sachi.


Saskia awalnya menolak namun lambat laun mengangguk. Wanita hamil itu merasa telah menyusahkan tetangganya itu. Keduanya mengobrol ringan membahas dan saling mengenal satu sama lain.


"Meski kamu dari kampung, kamu masih memiliki sopan santun Sachi. " puji Saskia.


"Mbak Saskia bisa saja. Lagipula semua manusia tampak sama, untuk mbak Saskia pasti telah berubah setelah apa yang terjadi dalam hidup mbak. " ceplos Sachi.


"Lebih baik mbak fokus saja pada calon anak mbak dalam perut mbak Saskia. "


Saskia merasa setuju dengan apa yang di ucapkan Sachi barusan. Setelah cukup lama di sana, Sachi langsung pamit pulang. Diapun menolak uang sebagai upah pijat kaki Saskia.

__ADS_1


Sachi telah kembali ke penthouse. Kini dia kembali bersih bersih ruang tamu dan sekitar nya. Dia berniat ke luar untuk belanja namun tak tahu jalan. Gadis itu memilih menghubungi sang majikan.


"Halo Tuan Erland. "


"Saya asisten dari tuan Erland nona, beliau lagi di ruangan meeting saat ini. "


"Maaf Tuan, saya telah


menganggu. " Sachi menutup sambungannya. Dia memutuskan pergi sendiri mengunakan taksi. Gadis itu menerima gaji dari Erland.


Tiba di toko, Sachi langsung turun dan masuk ke dalam. Gadis itu lekas membeli kebutuhan yang di perlukan termasuk buah dan bahan makanan. Setelah beberapa menit, dia lekas pergi ke kasir setelah bertanya.


Dia menaiki taksi, hingga sampai tak jauh dari penthouse. Sachi langsung turun dan bergegas menenteng belanjaannya. Lalu masuk ke dalam dan membawanya ke dapur. Sachi segera menatanya di bantu oleh pelayan yang lain.


"Selesai. " gumam Sachi. Gadis itu segera ke kamarnya untuk mandi. Dia tak nyaman jika tubuhnya terada lengket karena bau sinar matahari.


Di Kantor


Erland tampak uring uringan. Pria itu seakan tak percaya dengan kabar yang di sampaikan dari pihak kepolisian.


"Vivian hamil? "


Brum


brum


Erland melajukan roda empatnya dengan kencang menuju kediaman orang tuanya. Dia merasa takdir tak memihak dirinya. Terdengar suara umpatan berulang kali ke luar dari bibirnya.


Skip


Kediaman Brighton


Turun dari mobil Erland bergegas masuk ke dalam dan menemui orang tuanya. Mommy Zarina memyambut kepulangan sang anak dengan senyuman merekahnya.


"Sayang, ada apa nak? " tanya Zarina pada putranya.


"Aku mendengar kabar dari kantor polisi dan rumah sakit kalau Vivian hamil mom." ungkap Erland.

__ADS_1


Deg


Mommy Zarina tentu saja terkejut. Wanita paruh baya itu seketika pingsan. Erland segera menahan tubuh sang mommy. Daddy Morgan segera meraih tubuh istrinya lalu membawanya ke sofa.


Pria paruh baya itu mengunakan minyak kayu putih agar istrinya sadar. Erland sendiri sangat khawatir melihat sang ibu pingsan.


"Jangan bilang kalau bayi itu milikmu Erland? " cecar Daddy dengan tatapan tajamnya.


"Tapi aku tak pernah bermain dengannya Dad. " ujar Erland mengelak dari tuduhan sang Daddy.


"Jangan bohongi Daddy, kau lupa apa bagaimana. " sentak Daddy Morgan dengan tegas.


Daddy kembali fokus pada istrinya yang masih belum sadarkan diri. Beberapa menit mommy Zarina tersadar. Wanita itu menguncang tubuh suaminya atas apa yang dia dengar barusan.


"Calon bayi itu bukan milikmu kan nak? " tanya mommy dengan wajah pucatnya.


"Aku enggak tahu mom. " Erland tampak bingung, namun sekelebat bayangan berputar di kepalanya. Pria itu tentu saja mengumpat begitu saja.


"Tapi aku pernah mabuk. " gumamnya yang masih bisa di dengar orang tuanya. Mommy dan Daddy tampak terkejut dan kecewa pada putranya.


"Erland. " pekik Daddy dengan emosi. Erland mengusap wajahnya kasar, merugikan kebodohannya.


Mommy Zarina menangis dalam pelukan sang suami. Wanita paruh baya itu merasakan kecewa saat putranya kembali melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.


Daddy Morgan sendiri sampai kehilangan kata kata. Dia berharap semua ini hanyalah mimpi, pria itu begitu kecewa dengan apa yang di lakukan Erland.


"Kau benar benar bodoh Erland, bagaimana bisa kamu masuk ke dalam jebakan Vivian. " geram Daddy Morgan.


"Maaf. " Hanya itu yang bisa di lakukan Erland saat ini. Erland langsung bangkit, dia ingin memastikan sendiri di rumah sakit.


Tangisan mommy kini pecah setelah kepergian sang anak. Daddy Morgan berusaha menenangkan sang istri. Dia hanya diam saja mendengarkan ungkapan keluh kesah istrinya.


"Rasanya aku tak sanggup menerima fakta ini Dad. " gumam mommy.


"Sabar mom. " Keduanya melepaskan diri kemudian beranjak dan ke luar. Daddy melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke rumah sakit.


Keduanya ingin memastikan sendiri perihal kehamilan Vivian saat ini. Mommy berharap jika Vivian berbohong hanya demi mencari simpati. Daddy Morgan fokus ke depan, dia tengah berusaha mengontrol dirinya saat ini.

__ADS_1


"Aku telah gagal menjadi Daddy untuk anak anakku. " sesal Daddy Morgan.


__ADS_2