Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 6 Hanya Sekadar sampah


__ADS_3

Hari berikutnya, Zarina ke luar dari kampusnya. Dia telah meminta izin cuti pada sang dosen. Tanpa sengaja dia bertemu dengan Davian.


"Kamu lagi kamu lagi, apa kau tak bosan terus mengejar ku Dav? " ketus Zarina dengan wajah datarnya.


"Katakan Rin, apa kamu sudah menemukan penggantiku hingga kamu menolak ajakan ku untuk balikan? " desak Davian.


"Sudah, sebaiknya kamu pergi dari sini. Di antara kita tak ada hubungan apapun lagi, yang membuat hubungan kita hancur ya karena sikapmu sendiri. "


Zarina berjalan melewati Davian begitu saja. Gadis itu tertegun melihat kehadiran Morgan yang telah datang menjemputnya.


"Masuklah. " ucap Morgan lembut yang di angguki Zarina. Setelah gadisnya masuk ke mobil, Morgan menemui sang rival. Tatapan berubah tajam, dia menatap dingin kearah Davian.


"Kau hanya sampah, harusnya kamu punya malu setelah menyia nyiakan Zarina. " ujar Morgan dengan seringai miringnya. Pria itu langsung masuk ke mobil dan melesat pergi.


Davian mengumpat kasar, tentu saja dia sangat marah dengan ucapan Morgan barusan. Dia begitu penasaran dengan siapa pria yang bersama Zarina itu.


Diapun memilih pergi dari sana setelah ponselnya berdering. Davian melajukan roda empatnya dengan kencang menuju ke rumah sakit.


Sementara Morgan mengajak gadisnya pergi ke taman. Keduanya turun dari mobil, pria itu sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan.


dasar tukang modus!


"Kenapa kau diam saja baby Girl, apa kau sedang sariawan atau justru sakit gigi? " ceplos Morgan.


Bugh


"Awh. " Morgan meringis kala Zarin justru memukul lengannya dengan kuat. Pria itu mendengus pelan, Zarina sendiri masih cuek dan acuh.


"Apa kau masih mencintai pria sampah itu? " tanya Morgan dengan wajah seriusnya.


"Tentu saja tidak Morgan. " balas Zarina dengan tatapan lurus ke depan. Gadis itu mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini. Dia merasa tak nyaman dengan Davian yang terus menerus menganggu kehidupan yang damai.


Morgan menghela nafas panjang, meraup Zarin ke dalam pelukan nya. Kali ini Zarina hanya diam saja, dia menikmati aroma maskulin dari tubuh Morgan.


Pria tampan itu menciumi pucuk kepala Zarin dengan lembut. Dia mengeratkan pelukannya dengan posesif. Morgan begitu senang dengan kedekatannya bersama gadis pujaannya ini.

__ADS_1


"Aku tak suka Davian mengangguku terus Morgan. Dia dan Sasha seakan tak ada habisnya ingin membuat ketenangan dalam hidupku lenyap. " keluh Zarina.


"I am promise, kau bisa menghubungi aku jika pria itu menganggumu lagi baby girl. " bisik Morgan dengan lembut.


"Thanks you. " balasnya disertai senyuman manis.


Deg


Debaran jantung Morgan kian memacu dengan cepat melihat senyuman manis yang di berikan Zarina padanya. Pria itu tak mampu menolak pesona yang di miliki Zarina Bryn Romanov.


Zarina kembali ke wajah datarnya. Gadis itu menepuk pipi Morgan, membuat pria itu tersentak dari lamunannya. Morgan mengulas senyumnya, dia menoel dagu Zarina yang mendapat pukulan lagi di bahunya oleh gadis galak itu.


"Enggak usah modus. " ketus Zarina. Gadis itu memilih menjauhkan wajahnya dari tubuh Morgan. Morgan tertawa pelan melihat Zarina menjaga jarak darinya.


Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Zarina. Gadis itu melipat tangannya di dada, bibirnya tampak cemberut. Morgan yang melihat nya merasa gemas, ingin sekali menciumnya sebentar.


"Bagaimana bisa kau mencintai pria sampah seperti Davian itu, Baby


Girl? " tanya Morgan di sertai nada mengejeknya.


Zarina kembali di buat kesal, Morgan tak henti hentinya mengejek dirinya. gadis itu lantas bangkit, terjadi aksi kejar kejaran di antara mereka berdua.


Tawa renyah Morgan membuat Zarina semakin kesal dengan pria itu. Gadis cantik itu memukul tubuh Morgan dengan puas, melampiaskan kejengkelannya pada pria menyebalkan seperti Morgan.


Huh


Merasa lelah berlari Zarina menghentikan aksinya. Gadis itu kembali duduk di kursi. Morgan mendekatinya, dia merasa kasihan dan memilih membeli minuman untuk gadis pujaan nya.


"Nih minum. " ujar Morgan menyodorkan botol air mineral yang masih belum di buka. Zarina tentu saja langsung menerimanya, membuka tutupnya kemudian meneguknya langsung.


Selesai minum, keduanya kembali mengobrol dengan santai. Morgan meraih tangan Zarina, mengenggamnya dengan erat. Gadis itu menoleh, tatapan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


"Aku menyukaimu, berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku layak untuk kamu Zarin! " ujar Morgan dengan serius.


Zarina tentu saja terkejut dengan pernyataan Morgan barusan. Hatinya begitu resah mendapati Morgan meminta kesempatan darinya. Gadis itu menghela nafas panjang, menarik tangannya begitu saja.

__ADS_1


"Aku hanya butuh pembuktian, bukan omong kosong. " ujar Zarina dengan wajah datarnya.


Morgan akan membuktikan semuanya. Pria itu benar benar ingin memperjuangkan cintanya terhadap Zarina Bryn. Zarina sendiri cukup tersanjung dengan keyakinan yang di miliki Morgan. Dia berharap Morgan tak memiliki niat lain di belakangnya.


Sorenya keduanya beranjak pergi dari sana. Morgan mengantar gadisnya pulang, pria itu turut mampir dan mengobrol dengan kedua calon mertuanya.


Pelayan datang mengantarkan minuman. Zarina turut menaruhnya kemudian meminta pelayan pergi. Gadis itu memperhatikan interaksi orang tuanya dengan Morgan.


"Kami ingin bertemu dengan orang tua kamu Morgan, beritahu mereka jika kami ingin bertemu. " ujar Tuan Alvan.


"Iya Uncle, aku akan bilang sama daddy. " ujar Morgan sambil tersenyum tipis.


Pria itu langsung menyesap kopinya secara perlahan. Di taruhnya kembali cangkirnya di atas meja dan kembali mengobrol dengan Tuan Alvan. Zarina sendiri hanya diam tak berbicara ataupun menyela. Gadis itu tampak tak curiga dengan kedua orang tuanya itu.


Tuan Alvan beralih menatap kearah sang anak dengan lekat. Pria paruh baya itu seperti ingin mengatakan sesuatu pada putrinya.


"Ada apa Dad? " tanya Zarina penasaran.


"Sebaiknya kamu jangan berurusan dengan Davian lagi nak, daddy tak suka. Daddy sangat tahu bagaimana sepak terjang pria itu yang ternyata seorang casanova. " ujar Tuan Alvan pada sang anak.


Zarina terdiam, dia tak menyangka jika sang daddy telah menyelidiki mengenai identitas Davian sebenarnya. Gadis itu menghela nafas panjang, kembali menatap sang daddy kemudian mengangguk kecil.


"Iya aku juga telah menghindarinya Dad, hanya saja Davian yang selalu menganggu aku! " ujar Zarina.


"Aku ke kamar dulu. " gumam Zarina yang beranjak pergi dari hadapan kedua orang tuanya. Morgan menatap kepergian gadisnya dalam diam. Tuan Alvan memperhatikan calon menantunya itu kemudian tersenyum miring.


Ehem


Morgan mengalihkan perhatiannya. Dia memilih menyesap kopinya lagi. Pria itu berusaha membuka obrolan, Morgan ingin mendapatkan restu dari orang tua Zarina lebih dahulu.


"Sepertinya kau tertarik dengan lembut putriku, Morgan? " tanyaTuan Alvan tanpa basa basi.


"Iya Uncle! " jawab Morgan tanpa ada keraguan.


"Ehem, kau tak akan mudah mendapatkan putriku. Dia baru saja di kecewakan pria, mana mungkin Zarin mau memberi kesempatan padamu! "

__ADS_1


Morgan tentu saja tak menyerah, dia akan berjuang mendapatkan Zarina dengan caranya sendiri.


__ADS_2