Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 99 Season 3 Part 3 Mencari Masalah


__ADS_3

Sementara siang itu di kediaman Brighton, Mommy Zarina mencemaskan Erland yang pergi tanpa berpamitan.


"Sudahlah mom, Erland sepertinya ingin menenangkan diri atas kejadian kemarin. " ujar Daddy membuka suaranya.


"Benar kata daddy mom. " sahut Nolan.


Mommy Zarina membuang nafasnya berat. wanita paruh baya itu setuju dengan ucapan suami dan anaknya. Dia berharap Erland menemukan ketenangan di negara orang.


"Jadikan pelajaran mengenai kejadian yang kemarin. Semuanya jangan membahas hal memalukan di depan Erland saat dia pulang


nanti. " tegur Daddy.


"Iya Dad. " jawab mommy.


"Mom, Dad aku ke luar bentar. " pamit Nolan. Pemuda itu bangkit, mencium pipi sang mommy kemudian pergi.


Mommy menghela nafas panjang. Dia menghempaskan tubuhnya yang terasa tegang. Wanita paruh baya itu berharap Erland menemukan kebahagiaan dan tak trauma dengan wanita.


drap


drap


Nyonya Agista datang menemui mereka. Wanita itu langsung duduk begitu saja.


"Kenapa kamu mempengaruhi Ravella hingga dia melarang aku menggendong cucuku? " protes nyonya Agista.


"Cucu? "


"Dulu apa kamu pernah peduli dengan Ravella hingga dia menikah lalu melahirkan si kembar? " sentak nyonya Zarina kesal.


"Kau selalu menyanjung putri keduamu yang manja hingga dia salahpun kau maklumi? " sindirnya dengan telak.


Nyonya Agista terdiam. Setiap ucapan mantan rivalnya itu begitu mengena hingga ke ulu hatinya. Raut wajahnya tampak kesal dengan Nyonya Zarina.


"Tak perlu membawa Saskia dalam masalah ini. " geram nyonya Agista. mommy Zarina menggeleng, tak habis pikir dengan tingkah laku mantan istri pertama suaminya itu.


Daddy Morgan mengatupkan bibirnya rapat. Pria paruh baya itu begitu lelah menghadapi sikap nyonya Agista yang egois dan menang sendiri.


Nyonya Agista tersenyum miring kearah nyonya Zarina dan suaminya secara bergantian. "Aku sudah mendengar perihal kegagalan pernikahan putra keduamu Zarin, itulah akibat begitu sombongnya kalian. " sarkas nyonya Agista.

__ADS_1


Merasa jengkel, Nyonya Zarina lekas bangkit lalu menyeretnya ke luar. Wanita itu mengabaikan teriakan nyonya Agista.


Bruk dia langsung mendorongnya hingga nyonya Agista tersungkur. Nyonya Zarina merasa emosi dengan mulut pedas Agista yang tak pernah bisa di saring dalam bicara.


"Sebelum mencaci maki putraku, berkacalah nyonya Agista. Putri keduamu Saskia, tak lebih dari pelakor yang merebut suami orang! " pekik nyonya Zarina.


"Pergi dari sini, aku tak mau rumahku di kotori oleh hawa jahat darimu. " ketus nyonya Zarina. Wanita itu berbalik dan bergegas masuk ke dalam.


Dia mengabaikan setiap umpatan yang ke luar dari bibir Nyonya Agista. Paruh baya itu lekas bangun dan bergegas pergi dengan menahan malu.


Tiba di Apartemen, Nyonya Agista mengadu pada suaminya. Tuan Darwin hanya diam saja, hidupnya tekah hancur akibat ulah istrinya sendiri.


"Sudahlah Mi, apa mami ingin kita kembali miskin lagi? " tanya Papi.


"Tentu saja tidak. "


"Untuk itu jaga sikapmu dan jangan mencari masalah lagi. " tegur Papi Darwin.


Nyonya Agista memilih bangkit, melengos begitu saja. Tuan Darwin menggeleng pelan melihat sikap angkuh istrinya.


"Papi hiks. " ucap Saskia sambil menangis. Wanita itu datang datang menangis dan memeluk papinya.


Papi Darwin membalas pelukan sang anak, mencoba menenangkannya. Beberapa menit berlalu dia melepaskan pelukannya. Dia terkejut melihat wajah putrinya ada memar.


"Mbak Helena memukuli aku, Papi. Dia terus menganiaya aku setiap hari. " ungkap Saskia.


"Mungkin kau mencari gara gara dengan istri pertama dari suami kamu, Jendra. " celetuk Papi namun Saskia hanya diam saja.


Saskia kembali menangis, dia tak kuat menjalani kehidupan dirinya yang tragis ini. Papi menggeleng pelan,menghembuskan nafas berat. Paruh baya itu hanya bisa menasehati sang anak.


"Kalau kau tak kuat, ceraikan saja Jendra. " ucap Papi.


"Tapi bayi dalam kandunganku membutuhkan ayahnya, Papi. " sahut Saskia dengan lirih. Wanita hamil itu sebenarnya tak sanggup lagi menyandang sebagai istri kedua.


"Ya sudah, kalau begitu pergilah ke kamar dan istirahat. " tegur papi.


Saskia mengangguk, dia bangkit dengan hati hati lalu pergi ke kamarnya.


Wanita hamil itu kini berada di dalam kamarnya. Rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia hiraukan. Dia teringat akan sikapnya pada Ravella, kakaknya selama ini.

__ADS_1


"Maafkan aku kak Vella. " sesal Saskia dengan tangisan pilunya. Dia menyesal akan sikap nya yang begitu jahat pada kakaknya sendiri.


Saskia kembali mengusap air matanya. Tangannya terulur menyentuh perutnya yang menonjol, usia kandungannya masuk ke lima bulan.


Samar samar terdengar suara dering ponsel memecah keheningan. Saskia mengeluarkan ponselnya, matanya membulat membulat sempurna membaca pesan dari madunya.


"Haruskah aku mengakhiri pernikahanku dengan Jendra? " ucap Saskia pada dirinya sendiri.


Saskia membalas pesan dari Natasya. Dia setuju dengan pengajuan perceraian antata dirinya dan Jendra. Wanita itu sama sekali tak memikirkan resiko yang akan dia dapatkan nanti.


Setelah menaruh ponselnya, Saskia kembali mengusap perutnya penuh kasih sayang. Saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah. Mungkin ini hukuman untuknya atas sikap liciknya selama ini.


"Aku harap kak Ravella mau memaafkan aku begitu juga dengan lainnya. " gumam Saskia.


Tepat pukul tujuh malam, Saskia menemui kedua orang tuanya. Kini mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Wanita itu tampak gugup dan panik takut akan respon dari orang tuanya terutama sang mami.


"Apa yang ingin kamu katakan Kia? " tanya Mami.


"Aku dan Jendra akan bercerai mami. " ujar Saskia tanpa basa basi.


Mami dan Papi tentu saja terkejut. Wanita paruh baya itu lekas bangkit dan menghampiri sang anak. Dia melayangkan tamparannya ke pipi sang anak.


"Bodoh kamu Kia. kamu jangan mau kalah dari Natasya, kamu harus tetap bersama dengan Jendra. " teriak Mami Agista pada putrinya.


"Hentikan kegilaan mami, sudah cukup selama ini aku menuruti perintah mami. " balas Saskia.


Mami kembali hendak menamparnya namun Papi Darwin menahannya. Saskia sendiri menangis tergugu, melihat keegoisan ibunya. Dia semakin bersalah atas sikapnya yang kurang baik pada Ravella.


"Aku dan Jendra akan tetap berpisah. Mami tak berhak lagi memaksa aku dan mengatur kehidupan aku. " tegas Saskia.


"Kalau mami tak terima, mami saja yang pergi dari rumah ini. " Saskia berbalik pergi, mengabaikan teriakan maminya. dia terlanjur kecewa dan marah akan sikap sang mami yang terus memaksanya untuk bertahan.


Brak


Saskia mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai, tangisan nya langsung pecah seketika. Saat ini tak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu perceraian itu terjadi.


"Huhu kenapa ini terjadi padaku, kenapa? "


Saskia tentu saja sakit hati, selama ini dia selalu salah di mata sang mami. Mami Agista selalu memintanya untuk bertahan dalam pernikahan yang tak lagi sehat.

__ADS_1


"Aku benci kamu, Mami! "


Saskia menyandarkan tubuhnya di pintu, mengusap perut bulatnya dengan penuh kelembutan.


__ADS_2