Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 119 Season 3 Part 23 Sikap Sachi Berubah?


__ADS_3

Dua hari berlalu, Vivian merasa kesepian setelah suaminya pergi ke luar negeri di temani Daddy Morgan. Saat ini dia telah kembali ke mansion usai keduanya bersembunyi beberapa hari. Kini dia sibuk mengurus anak anak di mansion. Kehadiran Kenzo dan si kecil Anyelir mampu mengobati kekhawatirannya pada sang suami.


"Aku harap dia baik baik saja di


sana. "gumam Vivian.


"Ma, mama kenapa? " tanya Kenzo.


Vivian menoleh, dia tersenyum tipis pada putranya. Wanita itu menjawab apa adanya. Oma Zarina datang bergabung bersama dengan menantu dan cucunya di pagi itu.


Wanita paruh baya itu memilih menginap, menemani sang menantu. Dia mengusap tangan Vivian dengan lembut.


"Aku khawatir dengan Erland, mommy. " keluh Vivian.


"Doakan saja nak, supaya suamimu baik baik saja. Lagipula ada daddy Morgan yang menemani suami kamu. " ujar mommy.


Vivian mengangguk. Wanita itu berdoa semoga suami dan mertuanya dalam keadaan baik baik saja. Sepanjang hari perasaannya begitu gelisah, hal itu tentu saja tak membuatnya tenang. Dia memilih mengobrol dengan sang mertua.


Mommy Zarina sangat tahu jika menantunya begitu mengkhawatirkan Erland. Wanita itu berusaha menghiburnya, Vivian. tersenyum tipis pada sang mertua.


"Permisi nyonya, ini nona kecil tampak menangis dan haus. " ujar Riska. Vivian lekas meraih sang anak ke dalam gendongannya. Hot mommy itu segera memberikan asi untuk putri kecilnya.


"Sayang kok kamu masih menangis sih? " Vivian tentu saja panik. Mommy Zarina lekas bangkit, memeriksa kondisi sang cucu. Sontak keduanya khawatir. Keduanya segera bersiap siap dan membawa Anyelir ke dokter.


Sopir mengantarkan mereka ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Vivian tak henti hentinya berbicara pada sang buah hati.


Skip


Di rumah sakit

__ADS_1


Vivian dan mommy kini memperhatikan dokter yang tengah memeriksa keadaan si kecil Anyelir. Dokter menjelaskan jika si kecil demam. Vivian sendiri tentu saja fokus dengan penjelasan sang dokter. Dia juga menerima sirup untuk putri kecilnya.


Beberapa menit berlalu, mereka segera ke luar. Kini Mommy yang menggendong cucu cantiknya. vivian merasa lega dan cemas pada sang anak. Kini mereka telah berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang.


Sampai di Mansion, keduanya lekas masuk ke dalam dan menuju ke lantai atas. Vivian pun terus memperhatikan putrinya yang tertidur dalam box bayi. Mommy menghampiri sang menantu, lalu memeluknya dari samping.


"Aku takut mom, terjadi sesuatu pada Anyelir. " gumam Vivian pelan.


"Sayang jangan cemas, aku yakin demam Anyelir pasti akan turun nanti. " balas mommy dengan senyuman hangatnya.


"Ya sudah mommy ke dapur dulu. " Vivian mengangguk, menatap kepergian sang mertua. Fokusnya kembali tertuju pada putri kecilnya.


Teringat suaminya, dia segera meraih ponsel. Namum dia mengurungkan niat menghubungi Erland. "Aku enggak mau menganggu fokus Erland. " ucapnya pada diri sendiri.


Dia menaruh kembali ponselnya di atas meja. Vivian menghembuskan nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya.


tok


tok


"Baiklah aku akan turun. " sahutnya dari dalam. Vivi segera mengganti pakaiannya, kemudian ke luar dan meminta Riska menjaga si kecil Anyelir.


Wanita itu melangkah ringan menuju ke ruang tamu. Dia tertegun melihat sosok wanita yang tak dia kenali. Sachi mengulas senyumnya Vivian lekas duduk di sofa berhadapan dengan wanita di depannya ini.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan kamu Vi. " ujar Sachi berbasa basi.


"Kau lupa denganku? " tanya Sachi.


"Sachi? " balas Vivian yang di angguki Sachi. Dia hanya diam membiarkan mantan kekasih dari suaminya berbicara.Vivian menghela nafas panjang. Dia menatap lurus kearah Sachi yang tampak memohon.

__ADS_1


Mommy Zarina datang, bergabung bersamanya. Sachi tentu saja gugup melihat calon mantan mertuanya tersebut. Dia sangat canggung dan malu, mengingat mommy Zarina mengetahui masa lalunya.


Kini keheningan melanda ketiganya. Wanita paruh baya itu menatap curiga atas kedatangan Sachi.


"Maaf tante, saya ke sini tak ingin membuat masalah. Saya hanya ingim berteman dengan Vivian. " ungkapnya seraya tersenyum.


"Tapi kamu tak memiliki niat terselubung 'kan? " tanya Mommy Zarina.


"Mommy. " tegur Vivian pada mertuanya.


"Sayang, apda siapapun kita harus curiga. Lagipula mommy dulu pernah mengalami hal sama seperti saat


ini. "


Vivian menoleh dan merasa canggung berhadapan dengan Sachi. Sachi sendiri merasa iri melihat bagaimana sikap mommy Zarina terhadap Vivian. Mommy Zarina menghela nafas panjang, memilih mengalah dan membiarkan sang menantu mengobrol dengan Sachi.


Hot mommy itu tampak menjelaskan kehidupannya setelah menikah dengan Erland. Sachi diam diam merasa iri dan panas dengan apa yang dia dengar namun wanita itu memilih diam. Mommy Zarina terus memperhatikan gerak gerik dari Sachi.


Hingga langit berubah menjadi gelap. Sachi masih berada di sana. Vivian mengizinkan dia menginap, selain itu mereka bisa makan malam bersama.


Sachi hanya diam saja, tak menimpali ucapan Vivian. Dia benar benar menjaga sikapnya di hadapan mommy Zarina.


"Bagaimana kabar Anyelir? " tanya Sachi.


"Putriku sempat demam tadi, namun syukurnya demamnya sudah turun. Mungkin saja dia merindukan daddy nya. " ucap Vivian.


Sachi hanya berohria, setelah itu melanjutkan makan malamnya. Mommy memilih pergi ke kamar dulu, dia pamit pada keduanya. Sementara Vivian mengobrol dengan Sachi lagi di ruang tamu.


"Vivi, bagaimana dengan permintaanku tadi? " tanya Sachi dengan tatapan memelasnya.

__ADS_1


"Maaf sepertinya tak bisa. Mana mungkin aku membiarkan wanita lain tinggal satu atap dengan suamiku! "


"Ini sudah malam, sebaiknya segera istirahat. " ucap Vivian dengan lembut. Dia pergi duluan meninggalkan Sachi seorang diri. Sachi berdecak pelan, dia lekas bangkit dan pergi ke ruang tamu.


__ADS_2