Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 89 Season 2 Part 27


__ADS_3

Hari berikutnya


"Aku telah menodai Esther, Uncle. " ungkap Savero di depan orang tua Essie.


Daddy Morgan dan istrinya tentu saja terkejut dan kecewa. Pria paruh baya itu mencengkram kerah Savero, kemudian menghantam wajah pria yang telah menodai putrinya.


"Daddy. " pekik Essie terkejut.


"Aku menjaga putriku dengan sekuat tenaga, bagaimana bisa kamu merusaknya begitu saja


brengshake. " umpat Daddy Morgan.


Daddy kembali menghajar Savero. Essie meminta adiknya untuk melerai sang daddy. Nolan lekas membujuk daddy untuk tetap tenang.


"Aku mengaku salah Uncle. aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan pada Essie. " ujar Savero dengan sungguh sungguh.


Essie mendekati sang daddy. Wanita itu meminta maaf pada kedua orang tuanya. Daddy Morgan sendiri berbalik pergi dari sana. Mommy Zarina mengusap kepala sang anak dan menenangkannya. Setelah itu barulah menyusul suaminya ke kamar mereka.


"Daddy hiks maafin aku. " sesal Essie seraya beruraian air mata. Savero lekas bangun, segera memeluk tubuh wanitanya. Dia abaikan rasa sakit di sekujur wajahnya saat ini.


Nolan hanya diam tanpa mengatakan apapun. Pemuda itu berusaha menenangkan sang kakak tanpa berniat menghakiminya.


"Sebaiknya kalian duduk dan tenangkan diri kakak. " ujar Nolan dengan bijak.


Savero melepaskan pelukannya. Lantas menghapus air mata calon istrinya. Essie sendiri menyesali yang telah terjadi, berharap sang daddy mau memaafkan dirinya.


drap


drap


Erland datang membawa kemarahan dalam dirinya. pria itu lekas menarik kerah Savero lalu memukulinya. Essie dan Nolan tentu saja terkejut dengan kedatangan kakak mereka.


bug


bug


"Kau ingkar janji brengshake! " desis Erland dengan tatapan menghunus tajam.


Savero mengusap bibirnya yang berdarah. Pria itu berusaha menekan rasa sakit di sekujur wajahnya. Diapun meminta maaf atas kesalahannya terhadap Essie.

__ADS_1


"Hentikan kak Erland. " pekik Essie dengan wajah sembabnya. wanita itu berusaha menghentikan perkelahian antara sang kakak dan Savero.


Essie kembali menangis, melihat wajah Savero tampak berdarah. Nolan lekas menarik dan menjauhkan kakaknya dari Savero. Dia meminta Essie mengobati luka Savero.


Erland sendiri menghempas tangan adik bungsunya. dia menatap tajam kearah Nolan. "Kenapa kamu membela Savero, Nolan. " geram Erland pada si bungsu.


"Semuanya telah terjadi kak, berhentilah menyalahkan kak Essie dan calon suaminya. Lagipula Savero akan bertanggung jawab atas perbuatannya kemarin. " ujar Nolan dengan bijak.


Erland tak setuju dengan hubungan Essie dan Savero. dia telah menyelidiki Savero dan mengetahui masa lalu calon suami dari adiknya.


Nolan membuang nafas panjang, pemuda itu merasa geram dengan tingkah kakak keduanya.


"Apa selama ini kakak peduli dengan kak Essie? " tanya Nolan pada Erland.


"Kau terlalu sibuk dengan tunangan kamu kak hingga melupakan adikmu sendiri. " sindirnya lagi.


"Mungkin saja ini pengaruh dari si Vivian hingga kakak berubah. "


"Jaga bicara kamu Nolan. " sentak Erland.


Nolan mendnegus pelan. dia memilih pergi dari sana, malas harus berdebat dengan sang kakak. Erland berdecak pelan, mengusap wajahnya lalu pergi ke kamarnya.


Setelah tenang, Essie menoleh kearah Savero dengan tatapan sendunya. "Lebih baik kamu pulang dulu kak, masalah daddy aku yang akan berbicara padanya. " ucap Essie dengan lirih.


"Tapi? "


Essie terus membujuknya. Savero mengalah, dia mengangguk pelan. Pria itu mencium keningnya kemudian pamit pulang. Wanita cantik itu lekas bangkit dan pergi ke kamarnya di lantai dua.



Cklek


Mommy Zarina masuk ke dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu mendekati sang anak kemudian duduk di sebelahnya.


"Mom, daddy pasti marah dan kecewa padaku? " sesal Essie.


"Biarkan daddy kamu tenangkan dulu. Mommy mohon kamu jangan mendekatinya nak, mommy tak ingin kamu di amuk. " ucap Mommy dengan lembut.


"Kami tak sengaja melakukan hal itu mom, waktu itu ada yang berniat menjebak kak Savero. " Essie menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada sang mommy.

__ADS_1


Mommy Zarina membuang nafas berat. Nasib telah menjadi bubur, semuanya telah terjadi. Dia tak bisa menyalahkan sang anak atas apa yang di alami Essie. Essie sendiri mengenggam tangan sang mommy dan meminta maaf.


"Ini bukan salah kamu nak, kamu harus sabar ya. Daddy pasti akan memaafkan kamu sayang. " bujuk mommy pada putrinya.


"Iya Mommy. " jawab Essie dengan pelan. Mommy juga memberitahu perihal kepulangan Ravella dan suaminya. Essie mengangguk, dia lekas memeluk sang mommy dengan erat.


Beberapa menit berlalu, Mommy ke luar dari kamar putri keduanya. Essie memilih mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang.


Sementara di kamar, Daddy Morgan termenung di balkon. Pria paruh baya itu merasa gagal menjaga putrinya sendiri dengan tepat.


Tepat pukul tujuh malam, Essie memberanikan diri menemui sang daddy di ruangan kerjanya. wanita itu berjalan pelan masuk ke dalam ruangan.


"Daddy, maafin Essie yang telah gagal menjaga diri sendiri. " sesal Essie dengan sungguh sungguh.


Dia terus berbicara, berharap sang daddy mau memaafkan kesalahannya. Daddy Morgan hanya diam saja, tak bergeming dengan permintaan maaf sang anak.


Mata Essie kembali berkaca kaca melihat kebungkaman sang daddy. Sekuat tenaga berusaha menahan isak tangisnya.


"Sekali lagi maafkan aku daddy. " ucap Essie. Diapun memilih ke luar dari ruangan daddy Morgan. Pria itu menatap nanar kepergian sang anak. Tak berselang lama mommy memanggil dan mengajaknya ke meja makan.


"Aku langsung ke kamar mommy. " ujar Daddy. Semua orang tentu saja terkejut terutama Essie. Dia menatap sendu punggung sang daddy tercinta. Erland menghela nafas berat, meminta mereka melanjutkan makan malamnya tanpa daddy.


Lima belas menit berlalu


"Lihat Essie, daddy marah besar sama kamu. Harusnya kamu menjaga sikap saat tidak tinggal bersama mommy dan daddy. " ujar Erland dengan nada datarnya.


"Hentikan kak, berhentilah menyalahkan diriku. kau tak tahu kebenarannya sebaiknya tutup mulut kakak. " sentak Essie emosi.


"Semenjak mengenal Vivian, kakak sering kali berucap kasar. Mungkin saja pengaruh dari gadis kecentilan itu, suka haus belaian lelaki. " umpat Essie.


Brak


Erland tentu saja emosi mendengar nya. Dia berniat menyela ucapan sang adik namun mommy menegurnya dengan tegas. Kini keheningan melanda mereka berempat. Mommy memanggil pelayan untuk membereskan meja makan setelah itu mengajak Essie ke kamar.


Setelah kepergian kakak dan ibunya, Nolan lekas melirik datar ke arah Erland. Tanpa mengatakan apapun dia lekas beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.


Essie menangis dalam pelukan sang mommy. Dia tentu saja sakit hati dengan ucapan Erland yang menyudutkan dirinya. Mommy sendiri tentu saja merasa sesak melihat anak anaknya bertengkar seperti saat ini. Dia mengusap punggung putrinya dengan penuh kelembutan.


"Jangan dengarkan omongan kakak kamu ya sayang, sebaiknya kamu istirahat ya nak. " bujuk mommy. Essie melepaskan pelukannya, menghapus air matanya kemudian mengangguk. Mommy segera ke luar dan membiarkannya tidur.

__ADS_1


__ADS_2