Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 53 Obrolan santai


__ADS_3

Tepat pukul enam sore, mereka saat ini berada di ruang tamu. Zarina baru saja menutup jendela, hujan turun begitu derasnya.


"Sayang sepertinya besok kita perlu belanja untuk mencari kado untuk hadiah pernikahan Sasha dan


Marco. " ucap Zarina pada sang suami.


"Kau yakin sayang? " tanya Morgan pada sang istri. Zarina mengangguk, wanita itu kembali duduk di dekat sang suami.


"Mommy, kami bertiga boleh ikut 'kan? " tanya Ravella.


"Em tentu saja boleh. " sahut Zarina dengan senyuman manisnya. Opa dan Oma saling melirik satu sama lain melihat ketiga cucunya begitu kompak.


Zarina lekas bangkit, dia segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam di bantu para pelayan. Mbak Risti datang menghampiri sang majikan.


"Kalian lanjutkan masaknya. " ucap Zarina.


"Iya Nyonya. "


Zarina lekas pergi dari sana menuju ke lantai dua. Wanita itu menemui putra tampannya yang menangis. Dia lekas meraup Nolan ke dalam dekapannya.


"Kamu haus ya sayang. " Hot mommy itu segera memberikan asi pada si kecil Nolan. Zarina mengulas senyumnya, mengusap lembut pipi halus putranya.


Setengah jam kemudian dia ke luar setelah memanggil pengasuh putranya. Dia lekas berkumpul di meja makan. Suasana kali ini tampak ramai, Zarina melayani anak anak dan suaminya.


Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu satu sama lain. Zarina memperhatikan satu persatu keluarganya dalam diam.


Lima belas menit berlalu, Zarina meminta anak anaknya untuk segera istirahat. Wanita itu membereskan meja makan di bantu mommy Amelia.


Di dapur


"Mom, mommy Fera dan daddy Alvan kok belum menghubungi aku ya? " tanya Zarina khawatir pada orang tuanya.


"Mungkin mereka memang sibuk sayang di negara Z! "


Zarina mengangguk pelan, keduanya wanita beda usia itu segera menyelesaikan tugas mereka. Mommy Amel mencium kening menantunya kemudian pergi ke kamar di susul Zarina.


Keesokan harinya, usai sarapan Morgan dan anak anak memutuskan joging di taman komplek. Zarina sendiri sibuk dengan si tampan Nolan.


__ADS_1


"Daddy tungguin. " rengek Essie. Ravella dan Erland menertawakan si manis Essie yang tertinggal di belakang. Morgan berhenti, dia pun menoleh ke belakang. Hot daddy itu lekas menghampiri putrinya kemudian menggendongnya. Mereka melanjutkan lari paginya, Essie sendiri meledek kearah kedua kakaknya dengan tatapan jahil.


"Ish curang sekali dia. " gerutu Vella yang di setujui Erland. Remaja itu mengajak sang adik melanjutkan lari paginya.


Morgan menurunkan Essie di sebuah bangku, anak anak langsung duduk di sana. Pria itu membeli minuman kemudian memberikannya pada anak anaknya satu persatu.


"Kalian capek? " tanya Morgan.


"Iya Daddy. " sahut Vella sambil mengusap peluh di keningnya.


"Kalian harus sering sering lari pagi sayang agar tubuh menjadi sehat dan kuat. " ujar Morgan pada ketiga anaknya.


"Dulu mommy juga meminta kami untuk lari pagi namun aku dan kak Erland malas dad. " sahut Essie. Morgan tergelak mendengar pengakuan sang anak. Setelah menghabiskan minuman mereka, mereka berempat kembali melanjutkan lari paginya.


Siangnya mereka kembali ke Villa dan lekas membersihkan diri di kamar masing masing. Mereka semua lekas turun ke bawah, Zarina dan keluarga kecilnya pamit ke luar pada oma Amel dan Opa Kenzo yang menjaga si kecil Nolan.


Skip


Butik


Kini Zarina tengah mencari pakaian untuk keluarga kecilnya. Rencananya mereka akan mengenakan warna yang seragam untuk menghadiri pesta pernikahan Sasha. Di sana mereka bertemu dengan Sasha dan Marco.



cr pinterest


Zarina memesan dessert dan jus untuk anak anak, sementara dirinya dan sang suami spaghetti, jus orange dan kopi. Kini mereka tengah mengobrol santai dengan Sasha dan Marco.


"Aku turut senang dengan keputusan kamu Sha! "


"Iya Rin, hanya saja aku masih merasa minder. " ungkap Sasha. Zarina memberikan nasehatnya pada sang sahabat.


"Oh ya aku juga belum jenguk putra kamu. " sahut Sasha. Zarina menanggapinya dengan senyuman, dan memintanya untuk menjenguk Nolan.


Zarina juga memberitahu nama putranya pada Sasha dan Marco. Para pria sendiri memilih diam, tak banyak bicara. Keduanya hanya sibuk mengawasi anak anak.


Selesai makan siang, Sasha dan Marco pamit. Begitu juga dengan keluarga kecil Morgan. Morgan memutuskan membawa keluarganya jalan jalan. Sepanjang perjalanan jo terdengar ocehan si kembar yang kembali berdebat.


"Erland, Essie apa kalian tidak lelah berdebatnya? " tegur Zarina pada kedua anaknya.

__ADS_1


"Berdebat dengan kak Erland sangatlah seru mommy. " ceplos Essie. Erland langsung menjitak kepala adiknya itu yang di balas cubitan oleh Essie. Ravella berusaha menengahi kedua adiknya yang saling menjahili satu sama lain.


Sore harinya mereka langsung pulang ke villa begitu saja.


Sementara Sasha hanya diam sesaat setelah sampai di penthouse. Keduanya masih duduk di dalam mobil. Marco menoleh kearah calon istrinya, menatap wanitanya dengan lekat.


"Apa kau masih ragu? " tanya Marco pada calon istrinya.


"Kalau iya, apa kau mau membatalkan rencana kita? " tanya Sasha menatap Marco dengan lekat.


"Tentu saja tidak, apa yang aku putuskan sudah menjadi pilihan bersama. " pungkasnya.


Sasha memilih ke luar dari mobil begitu juga dengan Marco. Keduanya lekas masuk ke dalam penthouse. Wanita itu merentangkan tangan saat Terry berlari kearahnya.


"Sayang apa kamu sudah makan? " tanya Sasha pada sang anak.


"Sudah ma! "


"Ya sudah kamu main lagi ya sama mbak Tara. " " ucap Sasha yang di angguki putrinya. Terry lekas kembali ke teras meninggalkan Sasha dan Marco.


Marco mengenggam tangannya lalu mengajaknya ke ruang tamu. Pria itu langsung memeluknya dengan erat. Sasha membalas pelukan dari calon suaminya itu. Dia langsung meminta maaf pada Marco atas sikapnya barusan.


Pria tampan itu melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah wanita yang dia cintai.Marco mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Sasha.


"I love you. " bisik Marco.


"Me too. " balas Sasha sambil mengusap wajah tampan Marco.


"Aku sangat sayang sama kamu dan Terry, baby. "


"Please berikan kesempatan untuk aku membahagiakan kalian berdua. " pinta Marco sambil memohon.


Sasha mengangguk, dia pun membenamkan kepalanya di dada bidang Marco. Marco mengulas senyumnya, dia begitu bahagia dan tak sabar untuk menikahi sang pujaan hati. Keduanya kembali mengobrol ringan membahas konsep pernikahan mereka berdua.


Marco juga memberikan destinasi negara yang akan mereka jadikan tempat honeymoon. Sasha tak menginginkan apapun, dia hanya ingin hidup bahagia bersama Marco, Terry dan anak mereka kelak.


"Aku bahagia memiliki kamu dan Terry dalam hidupku. " ucap Sasha dengan mata berkaca kaca.


"Akupun juga sayang. " sahut Marco dengan senyuman tipis nya. Keduanya kembali berciuman dengan mesra di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2