
Hari berikutnya Vivian telah kembali ke negara X. Kini dia berada di sebuah Kafe bersama Erland.
"Ternyata kau penurut juga ya. " ucap Erland dengan seringai miringnya.
Vivian hanya diam saja. Wanita itu mencoba bersabar menghadapi mantan suaminya itu. Erland sendiri memanggil pelayan dan memesan makanan. Fokusnya kembali tertuju pada wanita di hadapannya saat ini.
"Oh ya bagaimana kabar Sachi, harusnya kalian sudah menikah bukan? " tanya Vivian.
Raut wajah Erland seketika berubah setelah mendengar nama Sachi di sebut."Untuk apa kamu menanyakan wanita pembohong itu. " ketus Erland. Vivian terhenyak, mengerutkan kening melihat sikap dingin dari sang mantan.
"Wanita mana yang akan tahan dengan pria kasar sepertimu Erland. Aku tak tahu masalah antara kamu dan Sachi tapi berubahlah. " tegur Vivian dengan sopan dan halus.
Erland menghiraukan nasehat dari sang mantan. Beberapa menit berlalu pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Tapi aku sudah sarapan bersama suamiku! "
Deg
Pria itu tentu saja terkejut dengan pernyataan Vivian barusan. Vivian sendiri tak peduli dengan ekspresi Erland saat ini.
Rahangnya tampak mengeras di sertai kepalan di tangannya. Tak lama muncul ide licik dalam kepalanya.
"Kau ingin bertemu dengan Anyelir 'kan? "
"Tapi ada syaratnya! "
Vivian membulatkan mata. Wanita itu tetap tenang menghadapi pria keras kepala seperti Erland Brighton.
"Apa syaratnya? "
"Ceraikan suamimu! "
Wanita cantik itu tentu saja tak mau dengan permintaan gila Erland barusan. Erland sendiri tak peduli dan melanjutkan makan siangnya.
Vivian menghembuskan nafas berat, dia menyesap tehnya dengan kesal. Samar samar dering ponsel menyita perhatiannya. Dia lekas mengeluarkan ponselnya kemudian menekan tombol hijau.
"Halo sa.. - "
Erland merampas ponselnya kemudian mematikan begitu saja. Vivi terpaksa menyantap makanannya sedikit.
Beberapa menit berlalu, Erland meninggalkan selembar uang setelah memanggil pelayan. Dia bangkit dan menyeret Vivian ke luar.
Brak
__ADS_1
Erland melajukan roda empatnya dengan kencang. Tanpa mereka sadari ada yang mengikuti keduanya dari belakang.
"Hentikan mobilnya Erland! " pekik Vivian dengan kesal.
"Diam. " bentak Erland. Vivian mengatupkan bibirnya rapat, wanita itu tampak gusar dan panik.
Dengan nekat Erland ternyata membawa Vivian menuju ke villa rahasia milik pria itu. Tiba di sana keduanya langsung turun sambil menyeret Vivian bersamanya.
Mbak Riska selaku pengasuh baru menghampiri sang majikan, mengabarkan perihal si kecil yang menangis. Erland lekas pergi ke kamar sambil menggandeng Vivian.
Skip
Kamar
"Lihatlah Anyelir membutuhkan kamu, apa kau tak kasihan dengannya? "
Vivian menghempas tangan Erland kemudian buru-buru menggendong putrinya yang tampak menangis. Wanita itu menangis melihat sang putri yang dia rindukan, bisa dia dekap. Dan ajaibnya Anyelir kecil langsung berhenti menangis.
"Maafin mama nak. " sesal Vivian.
Hot mommy itu berusaha menenangkan putrinya. Setelah tenang Erland mendekat dan merebut sang anak. Vivi tentu saja kesal dan menegurnya namun Erland lagi lagi kembali egois.
"Jika ingin mengasuh putri kita, kau harus mengakhiri pernikahanmu dengan Theodore! "
"Baiklah aku beri kau waktu sampai besok. Sekarang pergilah ke kamar sebelah dan istirahatlah di sana. " ujar Erland. Vivian menghela nafas panjang dan ke luar meninggalkan kamar putri kecilnya dengan langkah berat.
Cklek
Vivian kepikiran Theo, suaminya saat ini. Wanita itu kini tengah memikirkan cara untuk bisa menghubungi sang suami.
"Bagaimana bisa aku menceraikan Theo. Kenapa situasi ini semakin sulit untukku, apa sebenarnya tujuan Erland melakukan ini? "
Vivian mengacak acak rambutnya. Dia merasa lelah menghadapi kegilaan Erland. Vivian hanya ingin ketenangan dan kebahagiaan. Wanita cantik itu tak bisa memilih, jika dia memilih suaminya, justru dirinya tak bisa menggendong Anyelir begitu juga sebaliknya.
Di sisi lain, Erland merasa lega sepertinya rencananya akan berjalan lancar. Dia tak akan membiarkan Vivian tinggal bersama pria lain selain dirinya. Pria itu enggan mengakui jika rasa cintanya pada Vivi masihlah tetap sama meski sempat tergantikan oleh kehadiran Sachi.
Tanpa dia tahu, sikapnya itu hanya akan membuat keduanya saling menyakiti satu sama lainnya. Erland mengeluarkan ponselnya kemudian mengirim pesan pada orang kepercayaannya.
"Awasi keberadaan Theo saat ini, jangan biarkan pria itu kembali ke negara X. " desis Erland.
"Lakukan rencana B, buat pria itu yang mengakhiri pernikahannya dengan Vivian. "
Erland kembali menyimpan ponselnya di dalam saku. Dia kembali duduk dengan tenang di atas sofa sambil mengawasi putrinya.
__ADS_1
"Daddy lakukan ini untuk kamu sayang, daddy memang egois. " ungkapnya.
Selain itu Erland sama sekali tak memberitahu rencananya pada orang tua dan keluarga besarnya. Pria itu tak ingin Anyelir mengalami apa yang Ravella, kakaknya alami dulu.
Merasa bosan dia lekas bangkit, berjalan ke luar menemui Vivian di kamarnya. Dia sempat memanggil Riska untuk menjaga Anyelir.
Ehem
Erland melipat tangannya ke depan. Pria itu memperhatikan mantan istrinya yang tengah melamun. Dia masuk ke dalam dan menghampiri Vivian.
"Jangan mendekati aku Er! " tegas Vivian. Wanita itu menghindarinya hingga sampai ke balkon.
"Kau takut? " tantang Erland.
"Aku akan melompat dari balkon jika kamu masih nekat mendekati aku. Apa selama ini kau belum puas menyakiti aku atas kesalahanku yang lalu? "
"Hentikan. " Erland semakin panik kala Vivian naik ke balkon. Pria itu lekas menarik kemudian menggendongnya turun dari sana.
Vivian mendorong tubuhnya dengan kasar. Raut wajahnya tampak nenunjukkan kebencian yang sangat dalam. Erland sendiri pun menghembuskan nafas lega, berusaha mengontrol dirinya.
"Kau gila ya. Mau mengakhiri hidupmu di sini? " sentak Erland.
Vivian sendiri justru menangis terisak. dia abaikan bentakan Erland yang keras. Erland langsung terduduk di atas lantai. Dia memperhatikan sang mantan dengan raut datar. Pria itu merasa jika apa yang di lakukan Vivian adalah sebuah penolakan. Hal itu tentu saja memancing kemarahan dalam dirinya.
"Hanya karena pria siall4n itu, kau tak memikirkan anak kita hah? " Erland mencengkram dagu milik Vivian.
"Kau lupa Theo suamiku, aku ingin menghabiskan waktuku dengannya. Bukankah kau kemarin pernah bilang jika aku tak pantas menjadi ibunya Anyelir? "
"Kenapa sekarang kau berubah pikiran dan melakukan hal gila ini dengan menculikku? "
Erland mengatupkan bibirnya rapat. Vivian terus mengungkapkan keluh kesahnya, dia juga merasa lelah dengan semuanya yang berhubungan dengan Erland.
"Kau boleh marah dan benci aku seumur hidupmu. Tapi jangan beri Anyelir kebencian hanya karena dia lahir dari rahim wanita sepertiku. " jerit Vivian dengan bercucuran air mata.
Vivian terus menangis meraung raung. Dia memukuli dadanya yang terasa sesak. Wanita itu begitu menginginkan kehadiran Theo yang layaknya obat penenang. Erland langsung menariknya ke dalam pelukannya.
"Theo, aku butuh kamu. "
Bruk
Sebelum pingsan, Vivian mengumamkan nama suaminya. Erland mengepalkan tangannya, lekas bangkit dan menggendongnya. Pria itu membaringkan Vivian di atas ranjang.
"Lagi lagi pria itu yang kau sebut. " Erland memilih ke luar dari kamar Vivian.
__ADS_1