Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 20 Ketakutan Ravella


__ADS_3

Sementara di Villa Morgan, keluarga kecil itu berada di ruang tengah. Zarina menemani putri sambungnya bermain boneka. Tawa ceria yang di tunjukkan putrinya membuat hati Zarina begitu hangat.


Ravella menoleh, fokusnya tertuju pada mommy cantiknya. Zarina menunggu, entah apa yang ingin di sampaikan putri sambungnya itu.


"Sayang ada apa? " tanya Zarina dengan lembut.


"Mommy, jika kelak mommy punya anak kandung sendiri. Apa mommy akan melupakan aku? " tanya Ravella.


"Tentu saja tidak akan melupakan kamu sayang, Vella itu putri kesayangan mommy cantik dan daddy. " ujar Zarina dengan sungguh sungguh. Raut wajah Ravella tampak kembali cerah mendengar pengakuan Zarina barusan.


Zarina mengulum senyumnya, dia mendaratkan kecupan di kening sang istri.


Ehem


Keduanya menoleh, Ravella langsung memeluk tubuh Zarina kala melihat sosok Agista. Agista tak suka dengan pemandangan menyebalkan di depannya ini.


Zarina sendiri tampak bingung, dia membalas pelukan sang anak yang tampak takut.


"Sayang jangan takut, mommy cantik bersamamu. " bisik Zarina dengan lembut.


Agista tampak berusaha menahan emosinya. Wanita itu langsung duduk berhadapan dengan mantan mertua dan mantan suaminya.


"Kenapa kalian semua tidak memberitahuku mengenai kesehatan Ravella yang sudah sembuh? " geram Agista.


"Zarin sayang, kau ajak Vella ke kamar. " pinta Morgan pada istrinya. Zarina langsung mengajak putrinya pergi, dirinya tak ingin sang anak mendengar kata kata kasar nantinya.


Agista semakin panas melihat kedekatan putrinya dengan Zarina. Morgan sendiri kembali menatap datar mantan istri pertamanya ini. Dia langsung menaruh berkas di atas meja di depan Agista.


"Sebelum menghardik istriku, sebaiknya kau berkaca Agis. " ketus Morgan dengan tatapan datarnya. Agista meraih berkas di mejanya kemudian matanya membulat melihat foto dirinya yang tengah memarahi Vella.


"Ini. " ucapnya seraya menelan salivanya kasar.


"Bagaimana? "


"Kau memang tak pantas menjadi ibu dari Ravella. Seharusnya kau memberinya support bukan malah memarahinya apalagi di tengah kondisinya yang lemah saat itu brengshake. " maki Morgan dengan emosi meledak ledak.

__ADS_1


Agista tersentak kaget, dia tak menyangka jika mantan suaminya akan marah besar seperti ini. Wanita itu mengigit bibirnya, dia mengakui kesalahannya dan berusaha menarik simpati Morgan.


Morgan hanya berdecih melihat drama yang di mainkan mantan istri pertamanya.


"Enggak perlu basa basi Agis, sebaiknya kau pergi dari sini. Hawa buruk yang kamu bawa hanya akan merusak kebahagiaan kami. " ceplos Tuan Kenzo dengan tatapan malas nya.


Pff Tuan Alvan yang mendengar ucapan sang besan berusaha menahan tawanya sebisa mungkin. Agista sendiri mengepalkan tangannya mendengar ucapan mantan mertuanya itu.


"Tapi aku tetaplah ibu kandung Ravella, daddy. Selama ini akulah yang merawat dan menjaganya. " protes Agista dengan tatapan datarnya.


"Ibu kandung! Haha sepertinya kau perlu bercermin Agis, ibu kandung mana yang tega mencelakai putri kandungnya sendiri. " sindir nyonya Amelia pada mantan menantunya itu.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku berbuat kasar sama kamu. Wanita seperti kamu tak pantas menjadi seorang ibu. " geram Nyonya Amelia.


Agista pun lekas bangkit, menghentakkan kakinya kesal meninggalkan Villa Morgan. Tawa membahana kini mewarnai obrolan dua pasangan paruh baya tersebut. Tuan Alvan langsung mengolok olok besannya, nyonya Hera menyikut perut sang suami agar berhenti.


"Semuanya aku pergi ke kamar


dulu. " ujar Morgan. Hot daddy itu pergi meninggalkan orang tuanya.


.


"Melihat putri kita ketakutan seperti tadi, aku ikut sakit melihatnya Boo. " gumam Zarina lirih. Morgan langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Keduanya memilih duduk di sofa. Zarina bersandar di dada sang suami. Kini mereka tengah membicarakan tentang Ravella.


"Rencananya aku ingin mencarikan sekolah yang bagus untuk Vella, bagaimana menurut kamu? " tanya Morgan pada sang istri.


"Home schooling aja boo, takutnya Agista bisa berbuat nekat nantinya. " sahut Zarina menyampaikan pendapatnya pada sang suami.


Morgan tentu saja setuju dengan pendapat istrinya. Zarina membela mulutnya, dia lantas bangkit dan melesat ke kamar mandi.


Hoek


Hoek

__ADS_1


Morgan terkejut, dia lekas bangkit dan menghampiri istrinya. Dia memijit leher istrinya, Zarina tampak muntah muntah. Setelah beberapa menit, wanita itu lantas ke luar setelah membasuh bibirnya.


"Sayang wajah kamu pucat. Sepertinya kamu sakit, aku panggilan dokter ya? " ujar Morgan panik.


"Enggak usah Boo, kepalaku hanya pusing. " keluh Zarina. Morgan langsung menggendongnya, membawanya ke atas ranjang dan membaringkan Zarina di sana.


Morgan turut berbaring di sebelah sang istri. Dia mengerutkan kening melihat istrinya mengendus aroma tubuhnya.


"Ya sudah kamu tiduran dulu


sayang, " gumam Morgan dengan lembut. Zarina mengangguk, wanita itu memejamkan matanya.


Tepat pukul lima sore Zarina kembali mual mual di kamar mandi. Ravella datang menjenguk sang mommy tercinta. Setelah selesai Zarina menghampiri putrinya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, kamu sudah mandi? " tanya Zarina yang di angguki Ravella. Tak lama Morgan kembali bersama dokter. dia meminta istrinya berbaring, membiarkan dokter memeriksa kondisinya.


Ravella sendiri memperhatikan mommy nya yang tengah di periksa dokter saat ini. Dia memperhatikan interaksi sang daddy dengan dokter.


"Jadi istri saya hamil? " tanya Morgan memastikan.


"Iya Tuan, selamat atas kehamilan nyonya Zarina. " Setelah mengobrol dengan Morgan, Dokter langsung pamit pulang. Morgan sendiri mengajak putrinya mendekati Zarina.


Morgan menciumi wajah sang istri sambil mengumamkan terimakasih. Zarina sendiri tampak bahagia mendapati dirinya dalam keadaan hamil.


"Sayang, dalam perut mommy ada calon adik bayi kamu Vella. " ucap Morgan pada sang anak.


"Yeay, tak lama lagi Vella punya adik bayi. " pekik Ravella dengan antusias. Bocah manis itu berbaring di sebelah sang mommy. Zarina tertawa pelan saat melihat putri kecilnya menciumi perut rata nya.


Keluarga kecil ini begitu bahagia dengan kehamilan Zarina. Morgan mengacak acak rambut putrinya dengan gemas. Ravella pun mengerucutkan bibirnya, dia tampak merajuk akibat ulah Morgan.


"Hayoloh Daddy, putri kita


ngambek. " ledek Zarina pada suaminya.


Morgan meraup putrinya ke dalam pelukannya sambil meminta maaf. Ravella meminta di belikan es krim dan strawberry yang banyak. Tentu saja Morgan akan memenuhi keinginan princess kecilnya itu dengan senang hati.

__ADS_1


"Baik la kita ke luar dan beritahu mommy dan lainnya. " gumam Zarina. Ketiganya lekas turun dari ranjang, dan ke luar dari kamar. Morgan memapah istrinya dengan hati hati, dia juga meminta putrinya berhati hati.


Tiba di ruang tamu, Zarina langsung mengumumkan kehamilannya pada keluarga besarnya. Semua orang bersuka cita dengan kabar menggembirakan ini. Wanita hamil itu menatap semua orang dengan senyum manisnya seraya mengusap perutnya lembut.


__ADS_2