Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 98 Season 3 Chap 2


__ADS_3

Pagi buta, Gietha memergoki Erland yang menginap di rumah Sachi. Gadis itu menatap penuh kebencian keatas Sachi.


"Jadi begini kelakuan kamu Chi, kemarin sok sok nasehatin aku. Padahal kamu justru tinggal bersama pria yang bukan suamimu? "sarkas Gietha.


"Dasar murahan, harusnya kamu tuh sadar udah miskin enggak usah banyak tingkah. " maki Gietha.


Plak


Sachi melayangkan tamparannya ke pipi Gietha. gadis itu tampak sangat kesal dengan mulut pedas Gie yang seenaknya bicara sembarangan.


Gietha tentu saja membalas tamparannya. Dia langsung mendorong Sachi dengan keras kemudian pergi dari rumah Sachi.


"Awh. " Sachi meringis kesakitan, merasakan sikunya tergores. Gadis itu segera bangun dan menjual kerang ke tempat lain.


Sachi sering mendapat perlakuan kurang mengenakan dari warga di kampungnya. Selain tempatnya terpencil, Sachi harus kuat menghadapi cemoohan dari gadis seusianya.


"Hanya karena aku tak punya apa apa, Gie seenaknya merendahkan aku. " gumam Sachi dengan lesu. Dia berusaha menahan tangkisannya, namun sesampainya di pasar. Justru banyak orang yang menggunjingkan dirinya. Gadis itu melempar kerangnya dan memilih pergi ke pantai.


Diam diam Sachi menangisi takdirnya. Gadis itu tak memiliki keluarga, semua orang menjauhi dirinya dan menganggapnya aneh. Dia memilih duduk di dekat pantai sendirian. Sachi lebih suka ketenangan dari pada keramaian.


"Sampai kapan aku akan bertahan? " gumam Sachi lirih.


"Ternyata kau di sini. " ujar Erland. Sachi hanya diam saja, tak menoleh kearah pria tampan tersebut. gadis itu justru memeluk kedua kakinya, menyembunyikan tangisannya.


Erland merasa aneh dengan sikap Sachi yang tampak berbeda. Pria itu lekas menariknya, hingga menoleh kearahnya. Dia tentu saja terkejut melihat Sachi yang menangis.


"Apa semua ini ulah gadis berisik


itu? " tanya Erland memastikan.


Sachi hanya diam saja. Enggan membahas tentang Gie, yang hanya akan mengingatkan dengan ucapan Gie tadi. Erland lekas bangkit, dia langsung membopongnya dan membawanya pergi.


"Turunkan aku. " pekik Sachi namun di hiraukan Erland.


Tiga puluh menit, Erland menurunkan Sachi di luar Villanya. Dia langsung menyeretnya masuk ke dalam. Sachi menghempaskan tangan Erland yang mencekal tangannya.


"Mulai sekarang,kau tinggal di sini bersamaku. Di sana kau hanya akan mendapat cacian dari gadis berisik itu. " ujar Erland dengan nada datarnya.


"Kau bisa bekerja sebagai pelayan. Ingat, kau juga akan ikut denganku saat aku kembali ke kota nanti. " ujar Erland.

__ADS_1


Sachi berniat protes namun Erland pergi ke ruang tamu. Sachi langsung membuang nafas berat. gadis itu menyusulnya, Erland memberitahu kamar Sachi. Mau tak mau Sachi menuruti perintah Erland.


Siangnya Erland membawa Sachi pergi membeli pakaian di toko terdekat. Sachi hanya diam saja, tak berani membantah majikannya itu. Usai belanja, mereka berdua makan siang di Resto.


"Kenapa hanya di aduk, gak suka makanannya? " tanya Erland pada Sachi.


"Enggak, hanya belum terbiasa dengan makanan ini. " ujar Sachi apa adanya.


Keduanya melanjutkan makan siangnya bersama. Dering ponsel mengalihkan perhatian mereka. Erland mengangkat ponselnya dan berbicara dengan sang ibu.Dia segera menyimpan ponselnya dan melanjutkan makannya hingga selesai.


Seusai makan, Erland lekas memanggil pelayan dan membayarnya. Keduanya beranjak dari sana dan kembali ke villa samnil menenteng paperbag.Pria itu mengatakan apa saja kesukaannya pada Sachi.


Usai menaruh barangnya, dia lekas pergi ke dapur. Tak lama dia kembali dan menyerahkan secangkir kopi di atas meja.


"Kau juga bisa berenang di kolam renang di belakang. " ujar Erland.


"Maaf tuan, tapi saya tak bisa berenang. " ungkap Sachi dengan serius. Erland segera menyeruput kopinya kemudian mengajak Sachi ke belakang.



cr pinterest


"Kemarilah, aku akan membantumu belajar renang. " ujar Erland.


"Tidak, terimakasih tuan. " tolaknya dengan halus.


Erland segera naik ke atas kemudian membopong dan melemparnya ke dalam kolam di susul pria itu. Dia lekas menarik pinggang Sachi, mengabaikan omelan Sachi padanya.


"Aku bilang tidak mau tuan Erland. " geram Sachi kesal. Namun Erland tak peduli, dia mulai menjelaskan caranya.


Sachi mendengus pelan, menuruti perintah sang majikan. Selama dua jam, Erland terus mengajarinya berenang.


Beberapa saat berlalu, Sachi dengan cepat mulai bisa berenang. Gadis itu mendorong pelan tubuh Erland kemudian pergi ke sudut kolam.


Erland mengusap rambutnya ke belakang. Dia kembali berenang dengan santai tanpa merasa bersalah.


"Dasar nyebelin. " gerutu Sachi. Dia berusaja menjauh dari Erland. Gadis itu tak ingin di anggap murahan oleh orang lain yang melihat.


Gadis itu sibuk melamun hingga tak menyadari kehadiran Erland di belakangnya.

__ADS_1


"Ehem. "


Sachi sontak terkejut dan menoleh ke belakang. Diapun langsung menjaga jarak dari Erland. Erland menyadari tingkah Sachi namun tetap bungkam.


"Kau ingin dengar cerita? " tawar Erland.


"Hm! "


"Aku beberapa hari lalu gagal menikah. " Erland menceritakan kejadian kemarin pada Sachi. Sachi turut prihatin dengan apa yang di alami Erland.


"Seharusnya anda tak perlu pergi begitu saja. Saya tahu anda menyesali apa yang terjadi namun setiap kesalahan pasti di maafkan. " ucap Sachi.


Erland terdiam. Dia diam diam melirik kearah Sachi, memperhatikan gadis itu berbicara. Sachi langsung nanik ke atas dan pergi ke kamarnya di susul Erland.


Tepat pukul delapan malam, kini mereka tengah mengobrol di ruang tamu. Keduanya baru saja selesai makan malam bersama.


"Aku merasa iri dengan kamu Tuan, kamu memiliki orang orang yang peduli padamu. " ungkap Sachi.


"Tapi aku telah mengecewakan mereka semua terutama adikku. " balas Erland.


Sachi kembali menyampaikan pendapatnya. Dia pun fokus pada layar televisi. Tanpa sengaja, dia melihat adegan plus plus yang membuat dirinya malu. Erland berdecak pelan, mencari film lain yang aman di tonton.


Terdengar suara hembusan nafas berat ke luar dari bibir Erland. Sachi terkejut kala tangan besar Erland menggenggam tangannya.


"Bolehkah aku memelukmu Sachi? " pinta Erland.


Sachi terdiam, dia melirik kearah Erland yang juga meliriknya. gadis itu mengangguk dan membiarkan Erland memeluk dirinya. Pria tampan itu memeluk erat tubuh mungil Sachi.


"Semuanya pasti kembali seperti semula Tuan. " ucap Sachi dengan lembut.


Erland melepaskan pelukannya setelah merasa tenang. Sachi menghela nafas lega, diapun memilih bangkit dan pamit ke kamar. Erland sendiri menatap kepergian Sachi dalam diam.


"Sachi gadis yang polos dan naif. " gumam Erland.


Erland kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mengusap wajahnya kasar. Pria tampan itu kembali mengingat setiap ucapan Sachi padanya.


"Aku memang pengecut. " ucapnya pada diri sendiri.


Dia kembali teringat dengan kebodohannya kemarin. Erland terlalu malu dan gengsi meminta maaf pada sang adik.

__ADS_1


"Maafin aku, Esther. "


__ADS_2