
Berbeda dengan Elton dan istrinya yang tampak bahagia. Ravella sendiri tampak sangat kesal saat ibu kandungnya selalu membandingkan dirinya dengan Saskia, adiknya.
"Menyebalkan. " gerutu Ravella kesal. Gadis itu kini tampak bermalas malasan di atas sofa ruang tengah. Dering ponsel menyita perhatian gadis itu.
"Kak Vella. " Essie datang menghampiri kakak sulungnya.
"Kenapa dek? "
Essie mengungkapkan apa yang dia rasakan mengenai kejadian di kampusnya. Ravella tentu saja terkejut, dia langsung memastikan keadaan sang adik.
"Aku sudah membalas perbuatan orang orang yang berani membully aku kak. " sahutnya dengan santai.
Ravella bernafas lega saat ini. Gadis itu kembali berbincang dengan adik kesayangannya itu.
"Erland sama Nollan ke mana? " tanya Ravella.
"Huft mereka pergi ke rumah Zaky, main game di sana. " ujar Essie dengan malas. Ravella memperhatikan raut muka adiknya yang tampak lesu.
Essie langsung beranjak, dia memilih pergi ke kamarnya. Tak berselang lama, River datang menemuinya. Ravella hanya diam saja saat River duduk merapatkan tubuh mereka.
"Ayo bersiap siaplah, kamu harus ikut aku bertemu orang tuaku, Vella baby. " cetus River.
"Tunggu sebentar. " Ravella beranjak dari sana dan pergi ke kamarnya.
Beberapa menit berlalu wanita itu kembali. Keduanya segera ke luar dari Villa dan masuk ke mobil milik River.
Brum
brum
Sepanjang perjalanan keduanya tampak mengobrol ringan.
Tak lama mereka sampai di kediaman Ganeswara. Keduanya segera turun ke luar. River menggandeng gadis pujaannya lalu mengajaknya masuk ke dalam mansion orang tuanya.
"Bibi, Mami dan Papi ke mana? " tanya River pada pelayan.
"Em maaf Tuan Muda, nyonya dan tuan besar telah pergi ke bandara. Keduanya pergi menemui nona Felicia yang ada masalah di negara Z. " ujar Bibi.
River tentu saja kecewa setelah mendengar kedua orang tuanya telah pergi ke negara Z. Ravella mengusap lengan kekar River kemudian mengajaknya ke luar.
__ADS_1
Keduanya masuk ke mobil dan pergi dari sana. River segera meminta maaf pada gadis pujaannya itu. Siang itu mereka memutuskan pergi ke taman, berkencan seperti pasangan kekasih pada umumnya.
Kini keduanya duduk di sebuah bangku taman. River mengenggam erat tangan gadis pujaannya.
"Kok kamu enggak bilang sih kalau punya adik? " tanya Ravella penasaran.
"Feli itu anak dari istri kedua Papi. " ungkap River dengan wajah datarnya.
Ravella membulatkan mata mendengar pernyataan sang kekasih. Dia selama ini telah salah menilai River. Mungkin saja ketengilan River hanyalah bentuk topeng untuk menutupi luka hatinya atas kelakuan papinya di masa lalu.
River menoleh, mengulas senyumnya kearah sang kekasih. "Aku tak perlu di kasihani sayang, lagipula aku tak menganggap gadis manja itu sebagai adikku. " ujar River dengan nada datarnya.
"Tapi sayang! -"
"Please ikuti saja ucapanku Vella baby. " tegas River. Ravella memilih mengalah, dia mengangguk pelan kearah sang kekasih. Wanita itu lantas merengkuh nya dari samping tanpa mengatakan apapun.
Ravella POV
Aku tak menyangka jika kamu memiliki rahasia yang cukup menyakitkan River. Rasanya aku merasa lebih beruntung daripada kamu. Maafkan aku yang sempat berpikiran buruk tentang kamu. Sepertinya aku memang harus membuka hati, menghargai setiap perjuangan kamu meluluhkan aku.
Ravella pov end.
"Ya sudah kita temui orang tua kamu setelah urusan mereka selesai dan kembali ke sini. " bujuk Ravella sambil tersenyum.
"Hm. " jawabnya singkat. Ravella mendengus pelan, mencium singkat pipi River. River menoleh, terkejut dengan tindakan Ravella barusan. Seringai terbit di sudut bibirnya, menarik dagu sang kekasih kemudian menciumnya tepat di bibir.
Ravella hanya mampu mencubit pelan lengan sang kekasih. Keduanya beranjak dari sana dan kembali ke mobil.
Brum.
Lamborghini mewah itu melesat kencang. Sepanjang perjalanan keduanya banyak bicara. mereka banyak membicarakan hal random membuat suasana menjadi ramai.
River mengantar pulang kekasihnya ke villa keluarga Brighton. Sampai di sana Ravella sudah di tunggu oleh Saskia dan mommy Agista. Ravella turun dari mobil, River segera menggandeng nya.
"Untuk apa mommy datang ke sini lagi. Apa belum puas mommy membandingkan aku dengan anak kesayangan mommy itu? " sindir Ravella.
"Kau tahu Vella, gara gara kehadiran kamu. Ardan memutuskan pertunangan antara dia dan Saskia. " sentak Mommy Agista.
"Lalu mommy menyalahkan hal itu padaku begitu? "
__ADS_1
"Sebenarnya aku ini anak mommy bukan sih hah, kenapa aku selalu salah di mata mommy. " jerit Ravella emosi. Matanya tampak berkaca kaca, dia sangat kesal jika selalu di bandingkan dengan Saskia.
"dan kamu Saskia, kau sudah memiliki kasih sayang mommy Agista sepenuhnya. Apa sebegitu tak pentingnya kehidupan kamu hingga mengusik aku terus. " bentak Ravella dengan tatapan tajamnya.
Wanita itu lekas masuk ke dalam mansion. Dia mengabaikan panggilan dari orang tuanya. mendengar keributan nyonya Zarina lekas ke luar, mendesah pelan melihat keluarga kandung putri sulungnya.
River menjelaskan apa yang terjadi pada calon mertuanya itu. Nyonya Zarina benar benar geram akan kelakuan anak dan ibu di hadapannya ini.
Plak
Wanita paruh baya itu melayangkan tamparan nya dengan keras. Daddy Morgan ke luar setelah mendapat putrinya menangis. Dia pun mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi asistennya.
"Tarik semua saham yang ada di perusahaan Namiro. " ujar Daddy Morgan dengan tegas.
Mommy Agista dan Saskia terkejut mendengar pernyataan Tuan Morgan barusan.
"Aku sudah memperingatkan mulai berulang kali Agista. Kali ini aku tak bisa mentolerir kelakuanmu yang keterlaluan. " ujar daddy Morgan pada mantan istri pertamanya.
"Pergi dari sini sekarang juga. kalian di larang menginjakkan kaki di Villa Brighton. "
Saskia langsung menangis memeluk sang mommy. Kedua wanita beda usia itu langsung pergi dari sana membawa kemarahan dan keterkejutan.
Nyonya Zarina mengajak suami dan calon menantunya masuk ke dalam. Dia langsung menyusul putri sulungnya ke kamarnya.
Cklek
"Vella sayang. "
Ravella menoleh, dia lantas memeluk tubuh sang mommy sambung. Dia meluapkan rasa sakit hatinya pada mommy Zarina.
"Kenapa mommy Agis begitu jahat sama aku mommy. " gumam Ravella dengan kecewa.
"Sabar ya nak, mommy dan daddy telah memberikan pelajaran untuk mommy kamu. Mommy dan daddy sangat sayang sama kamu begitu juga dengan adik adikmu. " ucap mommy Zarina dengan tulus.
"Hiks aku sakit hati dengan sikap dan ucapan mommy Agista mommy. Apa mommy Agis tak pernah sayang sama aku huhu. " racau Ravella.
Mommy Zarina merasakan sakit hati melihat putrinya kembali di sakiti seperti saat ini. Dia memang bukan ibu yang melahirkan Ravella namun naluri keibuannya ikut tersakiti.
Cup Wanita paruh baya itu menciumi pucuk kepala sang anak. Dia mencurahkan kasih sayangnya pada sang anak. Selain itu Mommy Zarina juga memberikan ucapan penenang untuk sang anak.
__ADS_1