Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 11 Rencana Pernikahan


__ADS_3

Tepat satu minggu, Zarina, Morgan dan lainnya telah kembali. Kini mereka berkumpul di ruang tamu kediaman keluarga Romanov.


Zarina tentu saja menyerahkan persiapan pernikahannya dengan Morgan pada orang tuanya. Kini dia begitu dekat dengan sang calon mertua.


"Sayang, selama kalian liburan Morgan gak macem macem sama kamu 'kan Zarin? " tanya nyonya Amelia pada sang calon menantu.


"Tidak aunty. " jawab Zarina sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau gitu. " sahut wanita itu lagi. Morgan sendiri berdecak pelan saat mommy nya mencurigai dirinya.


Gadis itu tersenyum malu mendengar pertanyaan dari calon mertuanya. Mereka kembali mengobrol dengan santai membicarakan konsep pernikahan. Zarina menginginkan hanya teman dan saudara yang akan hadir dalam pernikahannya nanti.


"Baiklah aunty dan uncle pamit pulang dulu. " ujar nyonya Amelia yang di angguki Zarina. keduanya kembali berpelukan sejenak. Setelah kepergian orang tua Morgan, pria tampan itu duduk merapat di sebelah calon istrinya.


"Harusnya pernikahan kita di percepat sayang, dua minggu lagi gitu ini malah satu bulan. " gerutu Morgan. Zarina tertawa, gadis itu langsung menabok lengan sang ke kasih.


Morgan langsung memeluk pinggang gadisnya dengan posesif. kedua orang tua Zarina menggeleng melihat kelakuan calon mantu mereka itu.


"Mom, kita ke kamar saja yuk. " Tuan Alvan langsung menarik istrinya dan pergi dari ruang tamu. Zarina menatap kepergian orang tuanya dengan kening berkerut. Fokusnya kembali tertuju pada Morgan.


Dia pun hanya diam saat Morgan mendekatkan wajahnya lalu mencium dan *****4* bibir manisnya. Zarina membalas ciuman sang kekasih yang begitu liar dan panas. Morgan mengakhiri ciuman panasnya, dia memperhatikan sang kekasih yang tampak mengatur nafasnya yang tersengal.


Dering ponsel milik Zarina mengalihkan fokusnya. Gadis itu langsung meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja. Zarina terdiam mendapat pesan dari Davian.


"Ternyata pria itu mengunakan nomor lain untuk menghubungi aku. " gerutu Zarina.


"Sayang ada apa? " tanya Morgan memperhatikan sang kekasih yang terlihat kesal. Zarina menaruh kembali ponselnya, dia langsung memberitahu Morgan mengenai Davian.


"Sebaiknya kamu ganti nomor saja atau blokir saja nomor baru pria itu. " cetus Morgan dengan santai nya. Zarina mengangguk setuju dengan ide sang kekasih. Dia menaruh kembali ponselnya di atas meja. Pelayan datang membawakan camilan untuk keduanya.

__ADS_1


Zarina POV


Rahasia, rahasia apa yang di miliki Morgan. Davian mungkin saja hanya membual dan berniat mencuci pikiranku. Enggak, aku enggak boleh percaya begitu saja dengan pesan yang di kirimkan Davian padanya. Mungkin saja pria itu hanya berbicara omong kosong agar aku bertengkar dengan Morgan.


Zarina POV end.


Gadis itu berusaha tetap berpikiran positif mengenai Morgan, calon suaminya. Dia hanya berharap Morgan tak akan mengkhianati dirinya demi wanita lain.


"Sayang aku pulang dulu ya. " Morgan kembali menyesap bibir manis sang kekasih. Zarina membalas nya sebentar dan membiarkan calon suaminya pergi. Gadis itu menatap kepergian Morgan hingga menghilang di luar pintu.


Zarina menyesap jusnya dengan perasaan tak karuan. Perempuan itu masih terngiang dengan pesan yang di kirim Davian padanya. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Zarina.


"Bagaimana jika Morgan memiliki rahasia yang tak aku ketahui? " ujar Zarina dengan perasaan resahnya.


Gadis itu mengambil kembali ponselnya lalu menghubungi teman lamanya untuk mencari tahu informasi mengenai Morgan dan masa lalu pria itu. Selesai bicara Zarina segera bangkit dan memilih pergi ke kamarnya.


"Zarin, Are you oke sist? " tanya Zavia pada sang adik.


"Iam oke kak. " balas Zarina sambil tersenyum.


"Are you sure? " tanya Zavia memastikan.


"Yeah! " Zarina meyakinkan sang kakak bila dirinya baik baik saja. Zavia masih menatapnya curiga, sementara yang di perhatikan hanya tersenyum tipis.


Kedua kakak adik itu mengobrol hal random hingga menciptakan tawa renyah di antara keduanya. Alister langsung turun dari sofa dan berlari kearah oma dan opanya.


Zarina mengatakan perihal rencana pernikahannya dengan Morgan pada sang kakak. Zavia tentu saja sangat senang mendengar kabar menggembirakan ini.


"Kak Via, apa kakak pernah meragukan kak Tristan? " tanya Zarina penasaran.

__ADS_1


Zavia terdiam, wanita itu langsung melirik kearah suaminya yang berada di sampingnya. Dia kembali menatap kearah sang adik dan mengatakan apa yang dia rasakan dulu.


Zarina mengusap wajahnya pelan. Dia merasa terganggu dengan pesan yang di kirim Davian tadi. Sepertinya dia perlu bertanya langsung pada Morgan.


"Apa ada masalah Rin? " tanya Zavia lagi namun di tanggapi gelengan oleh Zarina. Gadis itu memilih membahas hal lain agar sang kakak tak semakin curiga padanya. Keduanya asyik bergosip, Tristan yang ada di sebelahnya hanya bisa menggeleng.


Malam harinya mereka semua berkumpul di meja makan. Zarina tampak bahagia melihat keluarganya telah lengkap. Saat ini gadis itu asyik menjahili sang keponakan tampannya. Beberapa kali mendapat teguran dari sang mommy tercinta.


"Sayang berhentilah menjahili


Alister. " omel Mommy pada putri bungsunya.


"Hehe habisnya Alister sangat lucu, iya kan keponakan aunty yang tampan. " goda Zarina sambil mencolek pipi keponakannya. Bocah tampan itu langsung merengut, dia sangat kesal dengan sifat jahil aunty cantiknya.


Zavia hanya bisa berdecak pelan, dia turut menegur sang adik. Dia tak ingin adiknya itu membuat Alister merajuk nantinya. Zarina tertawa pelan, mereka mulai makan malam bersama.


Usai makan malam, keluarga kecil Zavia pamit ke kamar lebih dulu. Zarina membantu sang mommy membereskan meja makan. Gadis itu segera membawa piring kotornya ke dapur.


Setelah selesai dia lantas naik ke lantai dua dan pergi ke kamarnya. Zarina segera naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.


"Kira kira rahasia apa yang di miliki Morgan? " gumam Zarina. Semakin lama memikirkan hal itu, semakin lama pula kepalanya terasa pusing. Dia begitu penasaran apa benar jika Morgan memiliki rahasia di belakangnya.


"Ini sangat menyebalkan. Aku jadi penasaran dan tak bisa tidur. " gerutu Zarina. Gadis itu tampak banyak bergerak di atas ranjangnya kemudian kembali duduk dengan tegap.


Gadis itu memilih meraih ponselnya kemudian menghubungi nomor calon suaminya. Keningnya berkerut, dia penasaran kenapa nomor prianya tampak sibuk. Terdengar suara umpatan kecil, Zarina memilih memutuskan sambungan dan tak lagi menghubungi Morgan.


"Siapa yang tengah Morgan hubungi malam malam begini? " gumam Zarina penasaran. Tampak jelas jika dia tampak curiga dengan sang calon suami.


Gadis cantik itu menaruh kembali ponselnya dan berbaring di atas ranjang. Zarina menatap langit langit kamarnya dengan tatapan dalamnya. Lagi lagi terdengar suara helaan nafas berat, dia segera memejamkan kedua matanya. Zarina berharap besok pikirannya kembali jernih seperti di awal awal.

__ADS_1


__ADS_2