
Paginya, kehadiran Ravella dan suaminya membuat suasana cukup meriah. Terlebih saat ini Ravella dengan perut buncitnya mengumumkan kehamilannya.
"Sayang, mommy dan daddy sangat senang dengan kabar kehamilan kamu. " ucap Mommy sambil tersenyum.
"Iya Mom. " balas Ravella seraya tersenyum. Wanita hamil itu menanyakan perihal sang daddy dan adik adiknya.
Mommy Zarina tentu saja menjelaskan apa adanya tanpa di tutup tutupi. Namun dia meminta putri sulungnya untuk tak ikut campur, takutnya Daddy justru berbalik marah pada Ravella.
Ravella menghela nafas berat, diapun tak bisa berbuat apapun untuk Essie.
"Hai kak Vella. " sapa Essie datang menghampiri sang ibu dan kakaknya. Keduanya saling berpelukan dan melepas rindu. Setelah itu dia lantas duduk bersebelahan dengan sang kakak. Fokusnya beralih pada perut buncit kakaknya.
"Kehamilan kakak sudah terlihat
ya? " tanya Essie.
"Iya, kata dokter, aku hamil baby kembar. " balas Ravella dengan senyuman lebarnya. Essie tentu saja sangat senang dengan kabar yang di bawa kakak sulungnya.
Ravella memperhatikan raut wajah adiknya. Terlihat jelas jika Essie tampak tertekan dengan masalahnya.
"Essie, kakak sudah dengar masalah kamu. " ungkap Ravella. Essie hanya diam, dia sempat melirik kearah sang mommy sebentar.
"Aku enggak papa kok kak, lebih baik kakak fokus saja sama kandungan kak Vella sendiri. " balasnya sambil tersenyum.
Essie meminta izin pada sang mommy untuk ke luar sebentar. Mommy Zarina tentu saja mengizinkan sang anak untuk ke luar. Dia lekas mengambil tasnya lebih dulu setelah itu baru ke luar.
Essie melajukan roda empatnya dengan kencang dengan perasaan tak karuan. Tanpa dia sadari ada mobil yang mengikutinya dari belakang.
Bruk
suara tubrukan dari belakang tentu saja membuat Essie terkejut. Wanita itu tampak panik dan berusaha untuk tetap fokus.
bruk
bruk
Essie terus melajukan roda empatnya hingga tak berselang lama mobilnya menabrak hingga jatuh terperosok ke danau.
__ADS_1
Sementara mobil hitam yang menabraknya lekas pergi dari sana. Tak berselang lama banyak orang yang berkerumun.
Salah satu dari mereka berhasil menolong Essie lalu membawanya ke rumah sakit. Savero yang lebih dulu tahu lekas pergi ke rumah sakit, dia mendapat informasi dari bodyguard yang dia suruh.
Skip
Rumah sakit
Savero tampak mondar mandir menunggu dokter yang tengah menangani Essie.
Dua jam kemudian
Dokter ke luar dari ruangan UGD. Dia lekas menjelaskan keadaan Essie saat ini yang tengah koma. Savero tentu saja terkejut dan syok dengan apa yang terjadi dengan calon istrinya.
"Dokter, apa pasien bisa di pindahkan ke rumah sakit lain? " tanya Savero.
"Bisa. " Dokter menjelaskan peraturannya pada Savero. Setelah selesai Dokter lekas pergi dari sana. Savero sendiri memukul dinding di depannya saat ini.
Savero merasa gagal melindungi wanitanya. Dia lekas mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi orang kepercayaannya bernama Lexi.
"Tutup semua akses, jangan biarkan siapapun tahu tentang keadaan kekasihku. " ungkap Savero. Dia tak sanggup melihat Essie di benci keluarga wanita itu sendiri.
"Maaf, aku gagal melindungi kamu Essie. Aku janji akan mencari tahu siapa pelaku yang menabrak kamu. " gumam Savero.
Cup
Pria itu menciumi telapak tangan wanitanya. Hatinya sakit melihat keadaan sang kekasih. Dia merasa dejavu, teringat dengan masa lalu di mana dirinya kehilangan Anya.
"Kau harus segera sadar Essie, bukankah kau berjanji akan membantuku move on? "
Setiap detik, menit Savero selalu berada di sisi Essie. Dia berharap wanitanya akan segera sadar secepatnya.
Hingga langit berubah menjadi gelap sekalipun, Savero masih berada di dekat Essie. Dia menunggu laporan dari Lexi. Setelah mendapatkan info, dia menyuruh Lexi untuk memberi pelajaran pada Vivian.
"Jadi Vivian itu kekasih dari Erland, kakak kembar Essie? " geram Savero.
Terdengar suara umpatan yang ke luar dari bibirnya. Dia tak akan membiarkan orang orang itu menyakiti hati Esther lagi. Savero membuang nafasnya kasar, segera membaringkan tubuhnya di atas sofa.
__ADS_1
Di Kediaman Brighton
Kini terjadi kehebohan di sana. Mommy Zarina mengkhawatirkan putrinya yang tak kunjung kembali. Erland berusaha menenangkan sang mommy dan berkata untuk tetap tenang.
"Mungkin saja Essie pergi ke rumah temannya mommy untuk menenangkan diri. " ujar Erland.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu Erland, Essie selama ini tak punya teman dekat selain Chelsea dan mommy sudah menghubungi dia namun sia sia? " sentak mommy.
Erland kembali bungkam. Mommy Zarina semakin panik, dia meminta sang suami keberadaan putri mereka. Daddy Morgan tentu saja telah mengerahkan para bodyguard untuk mencari keberadaan sang anak.
"Seharusnya daddy memaafkan dia, mommy. Sekarang Essie pergi dari rumah tanpa mengatakan apapun. " sesal Daddy Morgan.
Mommy juga turut merasakan sesak melihat raut penyesalan di wajah suaminya. Mereka semua memutuskan pergi ke kamar masing masing untuk istirahat.
Keesokan harinya usai sarapan, Daddy dan kedua putranya lekas mencari Essie ke manapun. Ravella berusaha menenangkan sang mommy tercinta yang khawatir seperti dirinya.
"Aku yakin Essie baik baik saja mommy, percayalah mungkin saja saat ini dia hanya ingin menepi sebentar. " ucap Ravella dengan lembut.
"Aku jadi dia juga akan merasakan hal yang sama. Rasanya nyesek, saat keluarga memojokkan diri kita. " sahutnya lagi.
Mommy Zarina menangis tergugu dia sangat takut kehilangan Essie. Ravella lekas memeluk sang mommy tercintanya, berusaha memberikan kekuatan.
"Aku harap kamu baik baik saja dek. Mommy dan semuanya sangat cemas dengan keadaan kamu
Essie. " batin Ravella dalam hati.
Mommy tak henti hentinya menangis sambil berdoa. Dia tak sanggup jika harus kehilangan salah satu anaknya. Wanita paruh baya itu berharap Essie segera pulang dan berkumpul bersama mereka lagi.
"Seharusnya mommy kemarin tak mengizinkannya pergi ke luar nak. " sesal Mommy merutuki kebodohannya.
"Jangan salahkan diri mommy, kita tunggu kabar baik dari daddy dan lainnya. " tegur Ravella pada sang mommy.
Mommy mengangguk pelam seraya menghapus air matanya. pelayan mengantarkan minuman lalu menaruhnya di atas meja. Ravella lekas mengambilkan segelas air putih untuk sang mommy. Mommy segera meneguk nya sedikit lalu menaruhnya kembali ke atas meja.
Ravella sendiri menghela nafas lega mendapati ibunya telah tenang. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa mencari posisi yang nyaman. Dia usap perut buncit nya dengan penuh kelembutan.
"Kita doakan sama sama ya sayang semoga aunty cantik kalian segera pulang. " ucap Ravella pada kedua calon anak dalam perutnya.
__ADS_1
Saat ini mereka hanya bisa menunggu informasi dari Daddy mengenai keberadaan Essie. Ravella begitu khawatir dan cemas dengan keadaan sang adik. Sebagai kakak, dia merasa kurang perhatian dengan Essie.