Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 37 Sebuah Duka


__ADS_3

Seusai sarapan, Zarina meminta sang daddy untuk mencari keberadaan suaminya. Wanita itu kembali menangis histeris saat ini. Daddy Alvan langsung memeluk sang anak. Hatinya begitu teriris melihat putrinya tampak frustrasi.


"Daddy akan berjuang mencari suamimu nak, kamu sabar ya. " bujuk Daddy Alvan pada sang anak. Zarina sendiri menangis dalam pelukan sang daddy.


Semua orang di sana tampak menangis, mereka semua berharap Morgan segera di temukan. Daddy Alvan melepaskan pelukannya, menghapus air mata putrinya.


"Nak, saat ini kamu tengah hamil. Pikirkan juga dengan calon cucu daddy yang ada dalam perutmu. " tegur Daddy Alvan.


Zarina mengusap perut buncitnya. Daddy Alvan mencium kening putrinya itu lalu pamit bersamaan dengan sang besan. Saat ini hanya tinggal Zarina dan kedua mommy nya.


Mommy Fera lekas membawanya ke ruang tamu, meminta sang anak duduk. Zarina menurut, wanita hamil itu berusaha mengontrol dirinya agar tak stress.


"Maafin mommy ya sayang, mommy begitu takut kehilangan daddy kalian nak. " gumam Zarina dengan lirih.


Tak ada seorang istri yang mau suaminya celaka. Zarina berharap semoga sang suami segera di temukan. Terdengar suara helaan nafas berat. Saat ini dia hanya bisa berdoa semoga Morgan selamat dan bisa di temukan oleh daddy.


Di sisi lain Daddy Kenzo dan Daddy Alkan tengah mencari jejak Morgan di manapun berada. Charles menghampiri orang tua dari bosnya itu.


"Apa kamu sudah menemukan petunjuk Charles? " tanya Tuan Kenzo.


"Anak buahku menemukan jam cincin di dekat sungai yang letaknya di sisi utara. " ungkap Charles.


"Kita ke sana sekarang. " Mereka semua lekas pergi ke sungai yang di maksud Charles mengunakan mobil.


Skip


Tuan Kenzo mengambil cincin, dia mengenali cincin milik putranya. Raut wajahnya berubah sendu, paruh baya itu meminta semua orang termasuk tim Sar untuk mencari di area sungai.


"Morgan kau di mana nak? "


Tuan Kenzo begitu hancur, dia sangat berharap putranya itu bisa di temukan dalam keadaan selamat. Pencarian itu terus di lakukan tanpa henti.

__ADS_1


Hingga beberapa hari kemudian, mereka tak mendapatkan apa apa. Tuam Kenzo tampak kecewa dan hancur dia gagal menemukan putranya yang hanyut.


Mereka mengakhiri pencarian. Dua pria paruh baya itu pulang ke mansion mereka.


"Bagaimana Dad, mana suamiku? " cecar Zarina.


"Maaf nak kami tak menemukan Morgan dan Tim Sar memutuskan Morgan telah tiada. " gumam Daddy Kenzo.


Jeritan tangis memenuhi kediaman keluarga Brighton dan Romanov. Zarina lantas menangis histeris, rasanya sangat sesak mendapati suami tercintanya meninggalkan dirinya dan si kembar dalam perutnya.


Memori kebersamaan dirinya dengan Morgan berputar dalam kepalanya. Wanita itu hanya bisa menerima takdir pahitnya ini. Mommy Fera lekas memeluk putrinya, memberikan kekuatan pada Zarina.


Kini menjadi hari yang buruk untuk keluarga Brighton dan keluarga Romanov. Zarina begitu hancur, wanita itu kembali tak sadarkan diri seperti hari hari sebelumnya. Semua orang panik, lekas membawanya berbaring di sofa.


Mommy Fera mengambil minyak kayu putih untuk di cium kan pada hidung Zarina. Beberapa menit berlalu Zarina kembali tersadar, dia pun bangun dan bersandar di sofa di bantu sang mommy.


"Morgan jahat mom, bagaimana bisa dia meninggalkan aku dan si kembar dalam perutku. " pekik Zarina emosi. Para orang tua berusaha menenangkan wanita hamil itu. Mereka semua sama hancurnya seperti yang di rasakan Zarina saat ini.


hu


hu


"Aku benci kamu Morgan. " racau Zarina dengan tatapan kecewanya.


Zarina merasa patah hati akan kepergian suaminya. Hatinya begitu rapuh namun di paksa tegar oleh keadaan. Kedua calon bayinya masih membutuhkan dirinya agar tetap kuat.


Saat ini wanita itu hanya bisa menangisi keadaannya.Semua orang saling melirik satu sama lain. Zarina lekas bangkit, dia melarang siapapun mendekatinya. Zarina meninggalkan ruang tamu dengan langkah gontai menuju ke kamarnya.


Seperti hari hari sebelumnya, Zarina menghabiskan waktu di kamar. Dia mengusap foto sang suami dengan tatapan sendunya.


"Kau pembohong Morgan, bukankah kau akan selalu menemani aku sampai kapanpun. " gumam Zarina lirih.

__ADS_1


"Rasanya sangat sakit Ya Tuhan, kenapa aku harus kehilangan suamiku. " keluhnya. Cairan bening di kedua mata Zarina terus turun membasahi pipi.


Wanita itu memejamkan mata sejenak lalu menaruh kembali foto suaminya dalam laci. Rasa sesak kembali terasa, dia berusaha menenangkan diri agar calon kedua bayinya tak terdampak akibat stres.


"Sayang, kita telah kehilangan daddy kalian nak. Tolong kalian sehat sehat dalam perut mommy ya sayang. Kalian berdua obat dari rasa sakit yang mommy rasakan saat ini. " gumam Zarina mengusap perutnya penuh kasih sayang.


Zarina POV


Perih, sakit, hancur, kecewa. Perasaan campur aduk kini telah aku rasakan sekarang. Rasanya sakit harus kehilangan seseorang yang kita cintai untuk selamanya. Ya Tuhan kenapa ujianmu ini begitu berat untukku, kenapa aku harus mengalami ini semua.


Apakah aku akan bisa menjalani hidup tanpa sosok Morgan, suamiku.


Zarina POV end.


Huhu


Zarina kembali meluapkan kesedihannya akibat di tinggal suami tercintanya. Dia teringat kenangan manis saat suaminya masih berada di sisinya.


"Aku harap semua ini hanyalah mimpi. " gumam Zarina miris.


Tak lama Fafa datang, gadis itu masuk ke dalam. Dia menghampiri sang sahabat. Wanita itu menoleh, dia langsung memeluk sahabatnya.


"Sabar ya Rin, aku tahu ini semua sangat berat untuk kamu. Maaf kalau aku telat datang menemui kamu. " sesal Fafa.


"Morgan ninggalin aku dan twins Fa. Dia sangat jahat dan kejam padaku. " racau Zarina lagi. Fafa mengusap punggung sahabatnya yang bergetar.


"Sabar ya Rin, kamu pasti bisa melewati ini semua. Masih banyak orang orang yang sama sama kamu dan calon baby twins. " bisik Fafa.


Zarina tak membalas, dia larut dalam tangisannya. Kedua sahabat itu saling berpelukan satu sama lain. Zarina berbagi keluh kesah pada Fafa.


Fafa tak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa memberi dukungan untuk Zarina agar tetap tegar. Keheningan tercipta di antara mereka, hanya terdengar suara isakan tangis. Fafa pun turut menangis melihat sahabatnya dalam keadaan rapuh, membutuhkan sandaran.

__ADS_1


"Hanya waktu yang akan menyembuhkan luka kamu Rin! "


__ADS_2