Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 115 Season 3 Part 19 Rasa Cinta


__ADS_3

Sementara di kediaman Brighton. Mommy dan Daddy pusing menghadapi kelakuan Erland. Kepindahan Erland yang membawa si kecil Anyelir cukup mengkhawatir kan.


"Sudahlah mom, doakan saja semoga Erland bisa menghilangkan sikap keras kepala dan egoisnya


itu. " gumam Daddy.


"Ya semoga saja Dad. " balas Mommy sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Daddy Morgan tampak khawatir bila istrinya jatuh sakit jika terus memikirkan putra mereka.


Pria paruh baya itu mengajak sang istri jalan jalan. Keduanya beranjak dari sana dan segera ke luar setelah mengambil tas dan kunci mobil.


Keduanya memutuskan memberi mainan anak anak kemudian membawanya pergi ke panti untuk mereka bagikan.


Sampai di sana, kedua paruh baya itu menemui pemilik panti. Di sana mommy Zarina langsung membagikan mainan pada anak anak. Tawa anak anak di sana membuat paruh baya itu ikut tertawa dan terhibur.


"Lihat Dad, mereka sangat bahagia mendapatkan mainan baru. " ungkap mommy.


"Ya kau benar mommy, di sini juga suasana tampak nyaman dan


sejuk. " ungkap daddy.


Dering ponselnya mengalihkan perhatian mommy dan daddy. Mommy lekas menjawab telepon dari pelayan.


"Iya ada Bi? "


"Maaf nyonya di mansion kedatangan seorang pria yang marah marah. " ujar sang pelayan.


"Baiklah kami akan pulang. "


Mommy menyimpan ponselnya dalam tas, lalu memberitahu suaminya. keduanya segera berpamitan dan pergi dari sana.


Skip


Villa


Kedua paruh baya itu menemui seorang pria yang tak lain Theo. Kini mereka duduk di atas sofa, saling berhadapan satu sama lain.


"Maaf nak, kamu siapa ya? "


"Perkenalkan nama saya Theodore tante. Saya kesini mau mencari istri saya Vivian yang di bawa kabur anak tante. " ungkap Theo.


Mommy Zarina membulatkan mata. Wanita itu tentu saja kaget mendengar pernyataan Theo barusan. Daddy Morgan tentu saja marah, dia lekas mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sang anak.


"Nomornya tak bisa di hubungi. " ungkapan Daddy.

__ADS_1


"Ya Tuhan Erland. Mommy pusing harus menasehati kamu seperti apa nak? " keluh Mommy Zarina.


"Bagaimana ini Tante, Om. Saya begitu khawatir dengan istri saya, sejak kemarin saya belum berhasil menemukan keberadaan mereka. " pungkas Theo.


Mommy Zarina lekas meminta maaf atas nama putranya. Dia merasa bersalah pada Theo atas perbuatan Erland. Wanita itu tak menyangka jika putranya begitu nekat.


"Baiklah, Om akan membantu kamu mencari Vivian. " sahut Daddy Morgan.


Theo langsung mengucapkan terimakasih. Pria itu lekas pamit pulang. Sepeninggal Theo, nyonya dan tuan Brighton kembali berdiskusi.


Sementara orang yang mereka bicarakan tengah bermesraan dengan wanita yang di tawannya. Vivian berdecak pelan, sore ini dia kembali di buat kesal oleh Erland.


Hot mommy itu memilih menjauhkan dirinya. Dia enggak mau mengulang kesalahan kemarin. Erland tentu saja mengekorinya seperti anak itik yang takut kehilangan induknya.


"Berhentilah mengikutiku, Erland. " sentak Vivian emosi.


Erland justru tertawa melihat raut kesal calon istrinya. Pria itu langsung menariknya hingga jatuh ke pangkuan hot daddy. Vivian berusaha melepaskan diri namun Erland memeluknya dengan erat.


"Lepaskan aku Erland, aku harus pulang dan memberitahu Theo. " pinta Vivian sambil memohon.


"Berhentilah menyebut namanya Vivi, aku muak mendengarnya. " geram Erland. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang wanita.


"Aku tahu kau masih mencintai aku kan? " bisiknya.


Vivian hanya diam saja. Wanita itu tak memungkiri jika dia masih mencintai pria yang menjadi ayah dari anak mereka. Dia menoleh ke belakang, mengusap kepala Erland dengan lembut.


"Bukankah kau sudah menjatuhkan pilihanmu pada Sachi? "


"Dia berbohong padaku. " Erland menjelaskan apa yang terjadi selama ini begitu juga dengan apa yang dia rasakan. Vivian hanya menggeleng melihat kelakuan Erland yang playboy.


Erland membenamkan wajahnya di bukit kembar Vivian yang terhalang dressnya.Vivi sendiri merasa lelah dan memilih pasrah pada takdirnya. Wanita itu membalas pelukan prianya dengan erat. Saat ini keduanya duduk di teras belakang dekat kolam renang.


tanpa dia sadari Erland melepaskan kancing dressnya kemudian menurunkan gaun Vivian. Wanita itu memekik kaget, dia terlambat menghentikan Erland.


Pada akhirnya Vivian membiarkan prianya melakukan sesukanya. Dia hanya tak ingin Erland kembali marah marah seperti biasanya.


"Maafkan aku Erland. Mungkin semua ini karena aku hingga kamu berubah menjadi temperamental. " gumam Vivian menyesal. Wanita itu terisak pelan, teringat perbuatannya yang lalu.


Erland menjauhkan wajahnya, menatap lekat wajah Vivian. Tangannya terulur, menghapus air mata sang calon istri.


"Aku memaafkanmu! "


"Jangan marah marah lagi. " pinta Vivian penuh harap.

__ADS_1


Erland hanya mengangguk kecil. Pria itu kembali mendekap tubuh Vivian dengan posesif. Setelah beberapa saat dia melepaskan pelukannya, dia membantu memperbaiki penampilan Vivian yang hampir polos.


"Kita kembali ke dalam, siapa tahu Anyelir mencari kita. " ajak Vivian. Keduanya beranjak dan pergi ke dalam mansion utama.


Mbak Riska datang menyerahkan si kecil pada sang majikan. Lalu dia menemui Kenzo dan menemaninya bermain. Vivian membawanya ke ruang tamu dengan Erland duduk di sampingnya.


"Mana bisa aku melupakan kamu, sementara Anyelir begitu mirip denganmu Vi. " ungkap Erland.


bla


bla


Celotehan Anyelir membuat Vivian dan Erland tertawa. Erland sendiri diam diam tersenyum, tangannya melingkar di pinggang Vivi. Pria itu sesekali mencium tengkuk leher calon istrinya. Wanita itu menoleh sebentar namun Erland justru menciumnya dengan liar.


Pria tampan itu mengakhiri ciumannya. Vivian merasa malu dengan tindakan Erland barusan. Di sisi lain dia semakin merasa bersalah dengan Theo.


Keduanya kembali mengobrol dengan santai. Erland berusaha mengontrol emosinya sesuai ucapan Vivian.


"Ya sudah aku ke kamar dulu. " ungkap Vivian. Dia membawa putrinya menuju ke kamar. Erland sendiri menghubungi seseorang.


Tepat pukul delapan malam, selesai makan malam Vivian segera kembali ke kamarnya. Dia mengganti pakaiannya mengenakan lingerie. Si kecil Anyelir telah di jaga oleh pengasuhnya.


"Kemarilah baby! "


Vivian menurutinya. Dia segera naik ke atas ranjang, Erland langsung mengukung dan merobek dressnya.


Malam itu keduanya kembali melakukan penyatuan. Vivian berniat menyenangkan prianya dengan bersikap agresif seperti dulu.


Dua jam berlalu percintaan panas itu berakhir. Wanita cantik itu mengatur nafasnya yang tersengal. Vivian menoleh, menatap lekat wajah tampan Erland.


"Anyelir belum ada satu tahun sayang, kenapa kamu mengeluarkannya di dalam? "


"Aku sengaja, agar kamu tak lari dariku! "


"Kenapa baru sekarang kamu begitu takut kehilangan aku di saat statusku berubah? " ungkap Vivian dengan sendu.


Erland menariknya ke dalam pelukan. Dia mengusap punggung polos wanitanya, Vivian sendiri membenamkan dirinya di tubuh kekar Erland. Tubuh keduanya yang polos hanya tertutup selimut.


Hot daddy itu menggenggam erat jemari wanitanya, mengecupnya berulang kali dengan penuh kelembutan.


"Aku mencintaimu Vivian. Selama ini aku selalu mengelak dari apa yang aku rasakan terhadapmu! "


"Tolong jangan tolak aku lagi. Aku bisa melakukan hal gila lebih dari

__ADS_1


ini. " ungkapnya.


Vivian hanya bisa menangis, dia kembali memeluk tubuh Erland. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Ada kelegaan di hati mereka, setelah keduanya meluruskan masalah mereka selama ini. Benci dan cinta memang hanya memiliki perbedaan sedikit di antara keduanya.


__ADS_2