Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 92 Season 2 Part 30 Pertunangan Erland & Vivian


__ADS_3

Dua hari kemudian


Sementara Vivian tampak sangat senang setelah mendapati rivalnya sudah tiada. Dia juga tak sabar bertunangan dengan Erland.


"Sepertinya rencanaku akan berjalan mulus nantinya! " gumam Vivian dengan licik.


Dering ponsel membuat fokusnya teralihkan. Gadis itu lekas mengambil ponselnya dan segera menjawabnya.


"Sayang ada apa? " tanya Vivian dengan lembut.


"Aku sudah ada di depan apartemen kamu baby. " ujar Erland. Vivian tentu saja terkejut, dia lekas mengakhiri obrolannya dan segera bersiap siap.


Usai mengganti pakaian, Vivian lekas ke luar dari apartemen. Gadis itu tersenyum manis pada sang kekasih kemudian masuk ke mobil Erland.


Erland ternyata mengajaknya jalan jalan. Terlihat jelas pria itu masih murung setelah kepergian adiknya yang tiada. Vivian berusaha menghibur sang kekasih hati.


Kini mereka pergi ke toko perhiasan. Mengambil cincin yang akan mereka gunakan nanti malam. Setelah dari sana Erland lekas mengajaknya pergi ke danau.


Kini keduanya duduk saling berdampingan satu sama lain. Vivian menggenggam tangan Erland dengan erat.


"Jangan sedih sedih terus terusan sayang, kasihan Essie di atas sana nanti tak tenang. " ucap Vivian dengan penuh kelembutan.


"Kau benar baby, aku beruntung bisa mengenal kamu dan maafkan atas sikap mendiang adikku selama ini. " ucap Erland yang di angguki Vivian.


Erland merasa beruntung dan tak salah mencintai gadis seperti Vivian. Dia merasa telah benar memilih Vivian untuk dia jadikan istri kelak.


"Sayang nanti antarkan aku beli buah ya, aku ingin menemui mommy kamu. " ujar Vivian yang di angguki Erland.


Erland mencium keningnya, keduanya terus mengobrol membahas masa depan mereka kelak.


Siangnya mereka kembali ke villa keluarga Brighton.Erland membawa Vivian menemui sang mommy.Kini mereka berkumpul di ruang tamu.


Vivian lekas mendekat,memberikan dukungan untuk calon mertuanya tersebut. "Tante bisa anggap saya seperti anak sendiri.Tante harus merelakan kepergian Essie. " ucapan Vivian sambil tersenyum.


"Tante hanya perlu waktu untuk menerima semuanya, Vivi. " balas Mommy Zarina tersenyum kecil.


Wanita itu memilih membahas pertunangan putranya dengan Vivian nanti malam. Vivian tentu saja tampak antusias, dia mencoba nengambil hati calon mertuanya tersebut.


Erland bernafas lega melihat sikap sang mommy yang tampak baik terhadap Vivian.


Tepat pada malam harinya,kediaman Brighton terlihat ramai. Sanak saudara turut hadir dalam pesta pertunangan Erland dan Vivian. Daddy Morgan tampak memberikan sepatah kata dan memulai acaranya.


Vivian sendiri mengenakan gaun berwarna hijau tosca senada dengan warna pakaian Erland. Kini keduanya telah saling bertukar cincin.

__ADS_1


"Kau bahagia baby? " tanya Erland.


"Tentu saja sayang. " balas Vivian dengan senyuman lebarnya.


Mommy dan lainnya lekas memberikan selamat untuk keduanya.Wanita paruh baya itu merasakan dilema saat inu, di satu sisi masih merasakan berduka di satu sisi bahagia.


Namun berbeda dengan Nolan, si bungsu dari keluarga Brighton tersebut tak berniat memberikan selamat pada kakak keduanya. Dia justru pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.


Daddy yang melihat hanya bisa menggeleng pelan tanpa mencegahnya sama sekali. Pria itu membuang nafas perlahan,segera menemui para tamunya.


"Tuan Morgan,saya dengar anda baru saja kehilangan putri Anda? " tanya salah satu kolega.


"Ya Tuan Erick! "


"Saya turut berduka cita tuan. " ungkap Tuan Erick.Daddy Morgan mengangguk pelan. Pria itu menyimpan kesedihannya seorang diri.


tepat pukul sebelas malam pesta usai,daddy dan mommy pergi ke kamarnya.Daddy Morgan menghampiri istrinya yang telah mengganti pakaiannya.


"Mau sampai kapan mommy mendiamkan daddy? " tanya Daddy dengan nada pelannya.


Mommy Zarina hanya diam saja, tatapannya justru lurus ke depan. Wanita paruh baya itu masih merasa kecewa dengan sang suami.


"Gimana rasanya di diamkan oleh keluarga sendiri Dad? "


"Aku menyesal mommy,harusnya aku tak marah pada Essie. " sesal Daddy Morgan.


Mommy Zarina mengusap air matanya. Dia tak kuasa menahan rasa sesak setiap kali mengingat Essie. Mommy lekas beranjak dan segera naik ke atas ranjang.Dia tidur membelakangi suaminya.


Daddy membuang nafas perlahan. Dia turut naik ke atas ranjang, menatap sendu punggung istrinya.


Keesokan harinya


Mereka telah berkumpul meja makan.Daddy memperhatikan raut pucat sang istri. Mommy sendiri saat ini tengah mengobrol dengan si bungsu.


"Apa Mommy sakit? "


"Mommy enggak papa kok nak. " jawab Mommy Zarina sambil tersenyum.


Mereka sarapan bersama dalam suasana dingin.Tak ada yang berbicara lagi setelah itu.


Lima belas menit berlalu,Mommy beranjak dari sana dan berniat ke kamar.


Bruk

__ADS_1


"Mommy. " pekik Daddy


"Mommy. " ucap Nolan terkejur melihat sang mommy pingsan.Daddy lekas menggendongnya menuju ke kamar setelah itu menghubungi dokter.


Skip


Tak lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan nyonya Zarina.Selesai memeriksa dia memberitahu tekanan darah nyonya Zarina naik.Dokternya juga meminta agar nyonya Zarina tak stress.


Bilang segera mengambil resep dokter lalu pergi ke apotik.Daddy sendiri menemani istrinya setelah. mengantar dokter ke luar. Pria itu tampak khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.


Cup


"Ini semuanya salah daddy mom. " gumamnya pelan.


Daddy Morgan terus menggenggam tangan sang istri. Tak lama Erland datang dan menanyakan kondisi sang mommy pada daddynya. Daddy Morgan langsung memberitahu putranya itu.


"Nak,jangan beritahu kakak kamu Ravella.Dia sudah cukup stres dengan kehilangan Essie.Lagipula daddy tak mau terjadi sesuatu dengan kandungan kakak kamu. " pinta Daddy.


"Iya Dad, aku mengerti! "


Erland kembali memperhatikan raut pucat ibunya. Beberapa saat berlalu mommy tersadar dari pingsannya. Daddy membantunya bersandar di tubuhnya.


"Maafin Daddy mom. " bisik Daddy Morgan pada istrinya.


Lagi lagi hanya kebungkaman dari mommy Zarina.Erland sendiri menatap sendu kearah ibunya.Dia terluka saat sang ibu enggan menatap kearah dirinya.


Daddy memeluk tubuh mommy, menumpahkan tangisannya di pundak istrinya.Mommy Zarina menoleh kearah suaminya kemudian mengusap kepalanya perlahan.


"Mommy sudah memaafkan daddy. Lagipula semuanya telah terjadi dan tak akan mengembalikan Essie pada kita. "


Tangisan Daddy semakin pecah setelah mendengar ucapan istrinya barusan. Mommy menjauhkan tangannya,meminta suami dan sang anak ke luar dari kamar. Daddy dan Erland menurut, keduanya ke luar dari kamar. Nolan datang membawakan obat dan air putih.


"Mom,minum obat dulu. " bujuk Nolan pada sang ibu.


"Mommy enggak nak minum obat nak. Mommy sangat rindu denhan Essie KakK kamu. " gumam Mommy lirih.


Nolan menghela nafas panjang. Tak sanggup melihat sang ibu menderita seperti saat ini. Dia tak lelah membujuk sang ibu untuk minum obat. Mommy Zarina akhirnya luluh dengan bujukan anak bungsunya. Setelah menelan pil dan minum, mommy kembali bersandar di headboard ranjang.


"Mommy istirahat ya supaya cepat sembuh. Aku tak ingin mommy sakit, pikirkan kak Ravella dan aku


mommy. " ujarnya dengan halus.


Mommy Zarina mengangguk kecil.Dia membiarkan sang anak ke luar dari kamarnya. Wanita paruh baya itu lekas memejamkan mata sejenak.

__ADS_1


__ADS_2