
Tepat pukul tujuh malam, Vivian enggan ke luar dari kamar yang dia tempati.
drap
drap
Erland datang menghampirinya lalu melemparkan beberapa photo pada Vivian. Wanita itu sontak menoleh, menunduk dan terkejut.
"Ini, enggak mungkin suamiku tidur dengan wanita lain? "
Erland lekas berlutut di depannya, dia terus mengejek kearah sang mantan yang tampak syok. Vivian tentu saja tak percaya begitu saja, kedua matanya menatap lurus kearah Erland.
"Ini pasti ulah kamu, " Vivian memukuli tubuh pria yang dia sangat benci ini.
"Dengarkan aku dulu. Asistenku dalam perjalanan kembali, dia telah menjemput Kenzo. " ungkap Erland.
Vivian kembali menangis. Tubuhnya seketika lemas, dia hanya bisa meluapkan kesedihan dan kekecewaannya. Erland sendiri hanya diam saja, pria itu langsung menariknya kemudian menggendongnya. Dia lekas duduk di atas pangkuan dengan Vivian di atas pahanya.
Erland menarik cincin dari jemari Vivian kemudian membuangnya. Vivi tentu saja terkejut, namun dia tam bisa bergerak kala Erland menahan tubuhnya.
Cup Hot daddy itu langsung memagut bibirnya dengan liar. Dia pun abaikan penolakan yang di layangkan Vivian padanya.
"Em. "
Erland mengakhiri ciuman mereka berdua. Vivian melayangkan tamparannya ke wajah sang mantan.
"Biarkan aku pergi. " Vivian kembali memberontak. Erland menggeram rendah kemudian bangkit dan melemparnya tubuh wanitanya ke atas ranjang.
Setelah melepaskan pakaiannya, pria itu kini melepaskan pakaian Vivian dengan paksa. Sudah dua bulan setelah perceraian mereka, Erland perlu pelepasan.
Dan malam itu keduanya kembali menyatu. Vivi hanya bisa menangis kala tubuhnya di hentak hujam oleh Erland.
Beberapa jam kemudian
Usai penyatuan, Erland memeluk Vivian dari belakang. Raut wajahnya tampak menunjukkan kepuasan. Pria itu sibuk menciumi bahu dan leher wanitanya.
"Oh ya sebenarnya photo tadi hanyalah editan. " ungkap Erland. Vivian menoleh, dia menatap tak percaya kearah Erland.
"Mulai sekarang kau milikku dan Anyelir. Sebaiknya menurutlah atau aku akan menyebarkan video kita saat ini. " ujar Erland tak main main.
__ADS_1
Vivian hanya bisa memukuli tubuh pria yang telah berbagi keringat dengannya itu. Tangisnya kembali pecah, Erland sendiri menghela nafas panjang.
Merasa lelah tubuh Vivian kembali berbaring. Erland menariknya ke dalam pelukannya.
Oek oek suara tangisan Anyelir membuat keduanya lekas membersihkan diri. Usai mandi, masing masing segera berpakaian kemudian pergi ke kamar si kecil.
Vivian memilih memberi asi melalui sumbernya secara langsung. Kedua matanya tampak berair, menahan air mata yang menyeruak ke luar. Anyelir kecil tampak lahap minum asi dari Vivian. Erland sendiri duduk di sebelahnya, merengkuh pinggang Vivian.
"Sayang, mama ada di sini. Mulai saat ini mama tak akan meninggalkan kamu, Anye. " gumam Vivian.
Si kecil Anyelir tampak gembul dan sehat. Vivian tentu saja bahagia melihat putri kandungnya sangat sehat. Erland sendiri menelan salivanya melihat putrinya yang tampak rakus. Pria itu mencoba bersabar dan menahan dirinya.
Beberapa menit Anyelir kembali tenang dan tidur. Vivian segera bangkit dan menyerahkan putrinya pada Riska, sang pengasuh. Wanita itu segera merebahkan dirinya di ranjang miliknya.
Apa yang di lakukan Erland benar benar keterlaluan namun dia tak bisa berbuat apa apa.
"Rasanya sangat menyakitkan. " gumam Vivian. Tak lama dia menguap, segera memejamkan mata dan terlelap.
Tanpa dia sadari Erland kembali, memperhatikannya yang telah tertidur. Dia mendaratkan kecupan di kening dan bibir Vivian setelah itu naik ke atas ranjang, memeluk wanitanya.
Keesokan harinya, terbangun tidurnya membuat Vivian langsung membuka kedua matanya. Wanita itu menunduk, sepasang tangan memeluk dirinya. Dia lantas menghempas tangan Erland, kemudian menjaga jarak dari pria di sebelahnya saat ini.
"Ada apa baby? " tanya Erland sambil mengusap rambutnya ke belakang.
"Kenapa kamu tidur di kamarku? " ketus Vivian.
"Apa kau lupa jika kita kemarin telah berbagi keringat? "
Tok
tok
Erland segera bangkit, membuka pintu kamar Vivian. Vivi sendiri segera melesat ke kamar mandi.
Usai bersiap, dia turun dengan pakaian berwarna merah muda. Vivian tampak cantik dengan rambutnya yang di kuncir belah tengah.
Wanita itu langsung memeluk Kenzo yang di antar oleh asisten dari Erland. Anak laki laki itu melepaskan pelukannya, melirik tajam kearah Erland.
"Mama, Papa Theo ke mana? " tanya Kenzo. Pertanyaan itu membuat Vivian kembali bungkam. Dia memberikan alasan yang masuk akal kemudian mengajak putranya ke ruang tamu.
__ADS_1
Kini suasana tampak tegang. Vivian sendiri mengusap kepala putranya penuh kasih sayang. Erland hanya diam, memperhatikan interaksi ibu dan anak tersebut.
"Kenzo, kamu bisa bermain di ruang tengah. Di sana ada berbagai mainan yang bisa kamu pakai. " ucap Erland.
"Benarkah uncle? " tanyanya memastikan.
"Iya, Tapi kamu panggil aku daddy lebih dulu, Daddy Erland. " punyanya yang di angguki Kenzo. Dia tampak puas melihat anak laki laki di depannya ini menurut.
Seusai sarapan, Kenzo langsung pergi ke ruang tengah. Erland meminta pengasuh menemani Kenzo di sana. Kini di ruang tamu menyisakan dua orang dewasa di sana yang saling melirik satu sama lain tanpa mengatakan apapun.
Vivian memilih beranjak, dia membereskan meja makan. Wanita itu pergi ke dapur dan membersihkan di sana. Erland datang, mengajaknya ke luar untuk jalan jalan. Tanpa banyak bicara keduanya ke luar dari Villa dan mengobrol di Gazebo.
"Pengacaraku sudah mengurus perceraian kamu dan Theo. " ujar Erland.
"Kenapa kamu suka sekali mengatur hidup orang lain, Erland? " tanya Vivian dengan tatapan nanarnya.
"Di antara aku dan kamu tak ada hubungan apapun, kecuali orang tua dari Anyelir. " tekannya.
"Tapi aku menginginkan kamu kembali Vivi, kamu tak bisa
menolak! "
Vivian memilih membuang muka. Enggan menatap pria di depannya yang membuat hidupnya kian rumit. Dia sangat menyesalinya,seharusnya dia tak perlu menggoda Erland dulu hingga harus berurusan dengan pria gila di depannya ini.
"Seperti yang aku bilang kemarin, kamu milikku untuk selamanya. Tiga hari lagi kita akan menikah kembali. " ujar Erland dengan tegas.
Vivian sampai kehilangan kata kata. Dia tak bisa berbicara lagi dengan pria menyebalkan dan egois seperti Erland Brighton. Wanita itu pun menghembuskan nafas berat, berupaya mengontrol dirinya agar tak emosi. Erland sendiri mengeluarkan kartu kemudian menyerahkannya pada Vivian.
"Ini untuk keperluan kamu. " ujarnya dengan santai.
Vivian mengatupkan bibirnya rapat. Dia sangat malas jika harus kembali berdebat dengan Erland. Wanita itu terpaksa menerimanya.
Suara dering ponsel membuat perhatian keduanya teralihkan. Erland berbicara dengan seseorang. Vivian sendiri penasaran setelah mendengar nama Sachi di sebut.
"Baiklah aku pergi dulu. " Erland menciumnya sebentar namun tak di tanggapi Vivian.
"Pergilah yang lama, kalau perlu tak usah kembali. " pekik Vivian menatap kepergian Erland.
"Setelah pulang bersiaplah, aku akan menghukummu baby. " balas Erland dari jauh.
__ADS_1
Vivisn mengumpat kasar. Dia memilih kembali ke dalam, menemani sang anak bermain. Selain itu dia juga membawa si kecil Anyelir kemudian mengenalkannya pada Kenzo.