Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 13 Tak Bisa di hubungi


__ADS_3

Zarina tampak kesal, dia berulang kali menghubungi sang kekasih namun Morgan tak menjawabnya.


"Apa Morgan benar benar sibuk


ya? " gumam Zarina. Gadis itu lekas bangkit, Mengganti pakaiannya kemudian menyambar tas dan kunci mobilnya.


Zarina telah terbebas dari hukuman sang daddy. Lagipula dia sudah berjanji tak akan mabuk mabukan lagi seperti kemarin. Dia langsung ke luar dari mansion, gadis itu masuk ke mobil dan melesat pergi.


Dering ponselnya membuat Zarina menepikan mobilnya dengan segera. Gadis itu lantas mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol hijau.


"Ya halo? "


"Apa kamu Zarina, aku Monica adiknya kak Morgan. " ungkap gadis itu.


"Iya, baiklah kita bertemu saja. " Zarina mengakhiri obrolannya, dia menaruh ponselnya di dalam tas. Gadis itu melajukan roda empatnya menuju ke Cafe.



Turun dari mobil, Zarina lekas masuk ke dalam Kafe. Dia menghampiri gadis yang melambaikan tangannya. Zarina lekas menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Monica.


"Aku baru tahu kalau Morgan punya adik? "


"Iya Zarin, orang tua kami dulu sempat bercerai. " Monica sedikit mengatakan perihal keluarganya pada sang calon kakak ipar.


Zarina tentu saja ikut sedih mendengar cerita Monica. Keduanya kini mengobrol dengan ringan dan santai.


"Morgan tak bisa aku hubungi, apa kamu bisa menghubungi kakak kamu itu Mo? " tanya Zarina.


"Kemarin kak Morgan bilang, pamit dan katanya hari ini ada urusan di luar kota. " ungkap Monica.

__ADS_1


Zarina terdiam setelah mendengar kabar dari Monica mengenai Morgan. Dia merasa curiga dengan calon suaminya yang pergi begitu saja tanpa bisa di hubungi. Gadis itu menghela nafas panjang, sepertinya dia tak bisa menanyakan langsung mengenai kecurigaannya kemarin.


"Apa Morgan tidak bilang sama kamu Mon? " tanya Zarina yang di tanggapi gelengan oleh Monica.


Zarina mengusap wajahnya, sepertinya dia perlu mengalah. Dia akan menanti Morgan kembali setelah itu baru bertanya pada pria itu. Pelayan datang membawakan kopi pesanan mereka. Matcha Latte dan Vanilla latte.


Kedua gadis itu langsung menyesap kopi masing masing. Zarina memilih mengalihkan obrolan, dia tak ingin calon adik iparnya itu khawatir. Monica berusaha menghiburnya dengan tingkah konyol nya itu membuat Zarina tertawa dan terhibur.


Obrolan keduanya tampak random di warnai tawa ceria keduanya. Zarina tentu saja nyaman mengobrol dengan Monica,dia telah menganggap Monica seperti adiknya sendiri.


Setelah dua jam di sana, Zarina pamit pulang duluan. Monica masih berada di sana, tak lama seorang pria datang menghampirinya.


"Hey Love, kenapa wajah kamu tampak murung? " tanya seorang pria yang bernama Samuel Leo Dewantara.


"Om, aku kasihan sama Zarina calon iparku. Dia khawatir dengan kak Morgan yang pergi tanpa pamit. " ungkap Monica nada sendunya. Samuel langsung mengajak gadis nya pergi dari sana. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi.


Pria itu menepikan mobilnya, setelah melepas sabuk pengaman dia membawa Monica ke pangkuannya. Samuel langsung memeluk sang kekasih dengan erat.


Monica menjauhkan wajahnya dari dada bidang samuel. Gadis itu mengangguk, mencoba percaya dengan ucapan sang kekasih. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir manis Monica yang menjadi candunya.


Samuel mengakhiri ciumannya. Dia pun tampak mengulum senyumnya melihat wajah merona kekasihnya. Monica langsung turun dari pangkuan sang kekasih. Samuel sendiri kembali memakai sabuk pengaman dan melajukan roda empatnya.


Di sisi lain


Zarina sampai di mansion, gadis itu tampak murung. Saat ini Zarina berada di ruang tamu. Dia berusaha menghubungi Morgan namun hasilnya tetap sama. Nomor pria itu tak bisa di hubungi sama sekali.


"Awas saja kalau berani selingkuh, aku pasti akan menghajarnya nanti. " gerutu Zarina kesal. Dia kembali mengunyah kacang dengan wajah di tekuknya.


Mood nya saat ini naik turun seperti ibu hamil. Zarina benar benar kesal, bagaimana bisa Morgan pergi tak pamit padanya sama sekali. Dia pikir dirinya tak mempunyai perasaan apa?

__ADS_1


"Morgan Brighton, awas saja kalau kamu pulang. Aku tendang kamu nanti. " dumel Zarina. Gadis itu tak henti hentinya mengomel sendirian. Dia menjatuhkan dirinya di atas sofa. Zarina kembali menyambar ponselnya, dia melihat foto dirinya bersama sang kekasih.


Di luar dia kesal dan jengkel pada Morgan, Zarina benar benar khawatir dengan Morgan. Dia berharap kekasihnya itu akan baik baik saja di manapun Morgan berada.


Zarina lekas bangkit, melangkah cintai menuju ke Kamarnya di lantai dua. Dia taruh ponselnya di atas meja kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Merasa lelah gadis itu memejamkan kedua matanya lalu terlelap.


Sore harinya Farasya datang berkunjung, dia langsung meminta izin pada orang tua Zarina. Gadis itu pergi ke kamar sang sahabat.


"Zarin. " Farasya masuk ke dalam dan menghampiri Zarina yang telah berada di balkon. Gadis itu berbalik dan langsung memeluknya. Farasya mengajaknya duduk, meminta sang sahabat untuk bercerita.


Farasya tentu saja merasa kasihan padanya. Dia berusaha menghibur dan memberikan support untuk Zarina. Zarina mengusap air matanya, raut wajahnya tampak sembab setelah menangis berjam jam.


"Aku sangat takut Fa, takut kalau Morgan berkhianat dariku. " gumam Zarina dengan lirih.


"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu sih Zarin? " protes Farasya. Zarina hanya diam saja, gadis itu mencoba menenangkan dirinya saat ini.


Farasya mengusap punggung bergetar sahabatnya. Dia sangat paham dengan perasaan yang di rasakan Zarina saat ini. Sebagai sahabatnya, dia hanya bisa memberikan dukungan agar Zarina tetap berpikiran positif.


"Tenangkan diri kamu Zarin, jangan pikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Siapa tahu jika Morgan memang pergi untuk mengurus pekerjaan! " ungkap Farasya dengan bijak.


"Lalu bagaimana jika sebaliknya Fa, aku pasti akan sangat kecewa dan tak akan pernah memaafkan Morgan. Cukup sekali aku dikhianati Davian, aku tak ingin mengalami


lagi. " tegas Zarina.


Gadis itu kembali menangis, ada banyak ketakutan dalam dirinya saat ini. Farasya hanya menggeleng, dia kembali mengusap punggung sahabatnya. Setelah beberapa menit, Zarina mulai tenang dan menghapus air matanya.


"Mending kita nonton Drakor aja yuk daripada galau galauan! " ajak Farasya dengan antusias.


"Kamu bener juga. " sahut Zarina. Gadis itu bangkit,mengambil laptopnya lalu membawanya ke ranjang. Farasya sendiri langsung menyusul, dia duduk di sebelah Zarina. Kedua gadis itu kini asyik menonton drama korea di laptop Zarina.

__ADS_1


Farasya merasa lega melihat sahabatnya tenang. Dia berharap ketakutan Zarina tak terjadi. Jika Morgan berani berkhianat, dia akan memberi perhitungan pria itu.


Dia kembali fokus menonton Drakor, canda tawa mewarnai keduanya. Keduanya tampak asyik menonton Hingg lupa apa yang di rasakan Zarina tadi mengenai Morgan.


__ADS_2