
Di apartemen
Agista menghampiri putrinya itu. Wanita itu duduk di sebelah Ravella.
"Sayang, kamu hubungi Daddy kamu ya dan minta ke sini dan tinggal bersama kita. " ujar Agista sambil tersenyum.
"Tapi mommy, daddy sekarang milik mommy Zarina. " sahut Ravella dengan nada polosnya.
Agista membujuk sang anak, tak lupa dia juga meracuni pikiran putrinya itu. Diam diam dia menyeringai miring, dia berharap rencananya kali ini akan berhasil.
Dia menyerahkan ponselnya pada sang anak. Ravella langsung menghubungi sang daddy di bantu Agista.
"Halo daddy ini Vella. " ucap Ravella.
"Kenapa sayang? " tanya Morgan pada putrinya.
"Vella ingin daddy tinggal bersama aku dan mommy. " pintanya.
"Maaf sayang daddy tak bisa, sekarang daddy musti menjaga mommy Zarin. Kau tahu mommy Zarin tengah hamil adik kembar untuk kamu. " ungkap Morgan.
Agista membulatkan mata mendengar pengakuan Morgan. Ravela sendiri langsung menyerahkan ponselnya pada sang mommy. Gadis cilik itu menangis, sepertinya dia termakan hasutan dari Agista.
"Kamu lihat 'kan sayang daddy kamu sudah tak sayang lagi sama kamu. Ini semua gara gara mommy
Zarina. " cetus Agista.
Hiks
hiks
"Daddy jahat hiks. " Ravella menangis dan menyalahkan sang daddy dan Zarina. Agista dengan licik merekam video putrinya yang menangis kemudian mengirimnya pada sang mantan suami mengunakan nomor baru.
Agista menaruh ponselnya di atas ranjang. Dia tak sabar menantikan respon dari Morgan mengenai video Ravella.
Tring
Wanita itu lekas bangkit, meraih ponselnya.
"Kau sepertinya tak jera jera Agista. " ujar Tuan Kenzo dengan nada datarnya.
"Maksud Daddy apa? " tanya Agista pura pura tak tahu.
"Baiklah kalau begitu lihat saja di televisi. "
__ADS_1
Tut
Agista mengerutkan kening, dia buru buru ke ruang tengah. Wanita itu menyalakan televisi dan matanya membulat sempurna. Aib dirinya tersebar dan dia di backlist dari perusahaan apapun.
Wanita itu mengumpat pelan tanpa mempedulikan keberadaan sang putri. Agista lekas masuk ke dalam kamarnya dan beres beres pakaian dirinya dan sang anak.
"Mommy hiks, mommy mau ke mana. " ujar Ravella.
"Kita harus pergi sekarang dan pindah. " ujar Agista. Diapun mengajak putrinya ke luar dari apartemen. Mereka lekas masuk ke dalam taksi dan melesat jauh.
Tanpa Agista ketahui, ada orang kepercayaan Morgan yang mengikuti mereka.
"Mommy kita mau ke mana? " tanya Ravella polos.
"Diam, jangan banyak bicara. " sentak Agista. Mata Ravella tampak berkaca kaca, gadis manis itu berusaha tak menangis.
Charles berusaha menyusulnya namun Agista begitu licik dan cerdik. Wanita itu berhasil melarikan diri membawa Ravella bersamanya.
"Sial, aku gagal mengejar mereka. " umpat Charles. Charles segera menghubungi Morgan dan memberitahu apa yang terjadi.
Di Villa Morgan sore itu kembali terjadi perdebatan antara Morgan dan Daddy Kenzo. Pria paruh baya itu tentu saja melakukan ini demi rumah tangga anak dan menantunya.
"Sepertinya Vella telah di cuci otaknya oleh Agis. " gumam Tuan Kenzo.
"Untuk kamu Morgan sebaiknya kamu harus berhati hati dan jangan lengah. Agis itu licik dan sebaiknya biarkan Ravella bersama ibu kandungnya. " cetus Tuan Kenzo.
tuan Kenzo sendiri kembali duduk di tempatnya. Saat ini tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima keadaan.
"Daddy, apa daddy tak menyewa detektif untuk mengawasi Agista? " tanya Zarina membuka suaranya.
"Sudah nak, lagipula daddy tentu saja tak akan membiarkan Agista hidup dengan tenang setelah mencari masalah dengan kita. " sahut Tuan Kenzo.
"Jika Daddy tak melihat video itu mungkin saja suamiku sudah bernostalgia dengan mantan istri pertamanya. " sindir Zarina dengan wajah masamnya.
Wanita itu kembali makan apel tanpa menghiraukan ekspresi terkejut suaminya. Mommy dan Daddy saling melirik satu sama lain kemudian terkekeh pelan.
Morgan hanya pasrah saat istrinya terus menerus memojokkan dirinya. Pria itu memeluk bumil tercintanya dari belakang.
"Maaf sayang. " kecup Morgan pada leher istrinya.
"Hm! "
"Aku suka melihatmu cemburu sayang, artinya kamu sangat mencintai aku! " bisiknya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mencintai kamu. " elaknya. Morgan menggeram rendah, pria itu lantas bangkit dan menggendong istri nya tiba tiba. Zarina memekik kaget, Morgan langsung membawa wanitanya menuju ke kamar.
Mommy dan Daddy hanya tertawa melihat kelakuan anak dan menantunya itu.
Tak lama terdengar suara des4h4n dari dalam kamar Morgan dan istrinya. Siapapun yang mendengarnya pasti merinding dan memilih kabur terutama para jomblo.
Beberapa jam kemudian
Kini jam menunjukkan pukul lima sore. Dua insan suami istri itu masih berpelukan di atas ranjang. Zarina membiarkan sang suami bermain dengan buah persik miliknya.
Morgan menjauhkan wajahnya, bersandar si head board sambil mengusap perut buncit istrinya.
"Cemburu itu enggak enak hubby, rasanya ingin marah namun tak bisa melakukan apa apa. " gumam Zarina.
"Apa menurut kamu aku egois? " tanya wanita itu dengan mata berkaca kaca.
Morgan mengusap sayang pipi chubby sang istri. Dia langsung menggeleng menanggapi pertanyaan istrinya. "Kamu tidak salah sayang, lagipula kau hanya memperjuangkan apa yang kamu miliki terlebih kamu istriku. " sahutnya dengan lembut.
"Lebih baik fokus pada si kembar okey, kamu jangan memikirkan hal lain. "
Zarina mengangguk, dia menciumi suaminya yang di balas Morgan. Tangan pria itu kembali masuk ke dalam selimut dan menjalar kemanapun.
Wanita hamil itu membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Morgan menciumi pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.
"I love you. " bisik Morgan.
"Me too! "
Keduanya kembali mengobrol ringan. Morgan bernafas lega melihat sang istri mau berbicara dengan dirinya lagi. Dia tak akan sanggup di diamkan oleh istrinya sendiri.
Dia melepaskan pelukannya, membawa istrinya ke kamar mandi. Selesai mandi dan beres beres, mereka pergi ke balkon dan bersantai di sana. Morgan memeluk istrinya dari belakang. Pria itu asyik menciumi leher sang istri.
"Beautiful view! "
"Yeah, bagiku kau yang terindah. " bisik Morgan dengan lembut.
"Dasar gombal. " Zarina tertawa pelan, menyentuh tangan suaminya yang berada di perut buncitnya.
Morgan terkikik geli, dia kembali menumpu kepalanya di bahu sang istri. Diapun mencoba menghibur istrinya dengan menyanyi. Pria itu menjauhkan kepalanya lalu menarik tubuh istrinya bersandar di dadanya.
"Beberapa bulan lagi si kembar lahir, aku tak sabar menggendong dan merawatnya. " gumam Zarina dengan antusias.
"Akupun sama sayang. " ungkap Morgan sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk mereka? " tanya Morgan yang di tanggapi anggukan istrinya.
Morgan kembali menciumi kepala Zarina. Keduanya menikmati waktu kebersamaan mereka saat ini. Zarina berharap dia dan sang suami akan selalu bahagia sampai kapanpun.