
Siang tepat pukul satu, Zarina tanpa sengaja bertemu dengan Davian. Davian langsung menariknya dan membawanya pergi ke danau. Zarina menepis kasar tangan mantan kekasihnya itu.
"Mau bicara apa lagi Dav? " ketus Zarina dengan wajah masamnya.
"Sebaiknya putuskan saja hubunganmu dengan Morgan, Rin. Pria itu telah berkhianat dari kamu. " ucap Davian dengan senyum provokasi nya.
Plak
Zarina menatap tajam mantan kekasihnya itu dengan senyuman sinisnya. "Kau sepertinya perlu berkaca ya Dav, kau bisa menghina Morgan seperti itu namun justru kau seperti berbicara mengenai diri kamu sendiri! "
"Kamu hanya orang asing bukan saudara dari Morgan, calon suamiku. Sebaiknya tutup mulutmu dan pergi dari hadapanku. " tegas Zarina jengkel.
Davian tentu saja tak menyerah begitu saja. Dia berusaha merayu Zarina agar mau kembali padanya.
Bug Gadis itu langsung menendang masa depan dari Davian. Terdengar suara umpatan namun di abaikan oleh Zarina. Gadis itu memilih pergi dari sana sambil mengomel.
Davian tentu saja merasakan ngilu pada juniornya itu. Setelah satu jam di sana, pria itu langsung mengejar sang mantan yang sudah pergi.
Zarina sendiri memilih menenangkan diri di taman kota. Gadis itu tengah menangis sendirian di sana. Pikiran negatif itu kembali berputar dalam kepalanya.
"Morgan, Morgan kamu kemana sih." gumam Zarina lirih. Dia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
to Morgan
Dalam waktu 1x24 jam Cepat hubungi aku Morgan, jika tidak pernikahan kita akan aku batalkan.
Zarina langsung mengirim pesan ke nomor sang kekasih. Dia tak main main dengan ancaman nya ini. Dia kembali menghembuskan nafas berat, menyimpan ponselnya dalam tas. Dia menikmati udara segar di sana, berusaha menghilangkan rasa sesak dalam dadanya saat ini.
"Ya Tuhan, rasanya sesak dan menyakitkan jika benar Morgan berkhianat dariku. " gumam Zarina dengan nada putus asa nya.
Merasa jauh lebih baik Zarina memilih meninggalkan area taman dengan langkah gontainya.
Davian tampak mengamuk di apartemen pria itu sendiri. dia gagal membujuk Zarina agar kembali padanya. Pria itu menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu. Lalu dia mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang.
"Cepat cari di mana keberadaan Morgan sekarang dan laporkan padaku. " geram Davian.
__ADS_1
Tut
Sambungan terputus, dia tak sabar menantikan kehancuran dari Morgan Brighton. Davian mengusap wajahnya, dia masih merasakan ngilu akibat tendangan Zarina pada masa depannya itu. Pria itu bangkit, pergi ke bar mininya dan mengambil vodka.
Tak lama Davian kembali dan duduk di sofa sambil menuang Vodka dalam gelas.
Gluk
gluk
"Hah sial seharusnya Morgan tak perlu hadir dalam kehidupan Zarina. Sampai kapanpun aku tak akan rela jika Zarina bersama dengan
Morgan. " desis Davian dengan tatapan sinis nya.
tap tap
Sasha datang, wanita itu mengenakan pakaian seksi yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia langsung naik ke pangkuan Davian tanpa di minta. Wanita itu memperhatikan raut kesal di wajah sang kekasih.
"Aku siap melayanimu kapanpun kamu mau Dav, kau tak perlu risau seperti itu. " bisik Sasha sambil membelai dada bidang Davian yang terbalut kaos.
Skip
Di dalam kamar Davian, Davian dan Sasha tengah bergumul mesra di tas ranjang. Terdengar suara suara yang membuat siapapun yang mendengarnya menjadi horny.
Beberapa jam kemudian mereka telah selesai bercinta. Sasha bersandar di dada bidang Davian, tubuh keduanya tertutup selimut.
"Katakan, apa kamu masih merasa kesal sayang? " tanya Sasha dengan senyuman menggodanya.
"Sudah tidak lagi, kau selalu tahu apa yang aku inginkan honey. " kecup Davian pada bibir Sasha.
"Tentu saja sayang. " balas Sasha sambil menciumnya sebentar. Wanita itu masuk ke pelukan Davian, tak lama merasa mengantuk dan terlelap. Davian menoleh, mendapati wanitanya tertidur. Diam diam dia tersenyum penuh arti, entah apa yang di pikirkan pria itu.
Sorenya Keduanya telah selesai mandi dan berpakaian. Mereka memilih ke luar dari kamar dan pergi ke ruang tamu. Pelayan datang mengantarkan camilan untuk keduanya.
"Kau sudah dengar jika Zarina dan Morgan akan melangsungkan pernikahan mereka nanti? " tanya Sasha memancing sang kekasih.
__ADS_1
"Ya rencananya aku akan menghentikan pernikahan itu sebelum terjadi. " ungkap Davian dengan seringai miringnya.
"Jangan bilang, kau berniat mengejar Zarina lagi? " tebak Sasha dengan pandangan curiga nya. Davian tentu saja berkelit dari tuduhan yang di layangkan Sasha padanya.
Sasha menghembuskan nafas lega, dia bergelayut manja di tubuh sang kekasih. Dia mengungkapkan apa yang di rasakan pada Davian. Davian memeluk tubuh wanitanya itu sambil meneguk vodkanya dengan santai.
Keduanya mengobrol dengan santai. Sasha kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Davian. Wanita itu tiba tiba membahas pernikahan pada Davian. Pria itu seketika bungkam, entah apa yang di pikirkan pria itu saat ini.
Sasha menoleh ke samping, wanita itu menjauhkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Davian.
"Dav, kamu pasti akan menikahi aku 'kan? " tanya Sasha penuh harap.
"Er itu! "
"Tadi saat kita bercinta, kita tak mengenakan pengaman. Hari ini dan dua hari ke depan masa subur aku." ungkap Sasha.
Setelah berpikir cukup lama, fokus Davian kembali tertuju pada Sasha. Pria itu merengkuh erat tubuh wanitanya itu.
"Tentu saja kita akan menikah namun tidak hari ini ataupun besok. " sahut Davian sambil berusaha menyakinkan Sasha.
Sasha menghembuskan nafas berat. Dia terlihat kecewa dengan pernyataan Davian barusan namun tetap menunjukkan senyumnya. Davian berusaha meyakinkan wanitanya untuk tetap tenang dan tak kecewa.
"Sudahlah Sha, kita nikmati saja waktu pacaran kita. Jangan terlalu buru buru memikirkan pernikahan. " cetus Davian yang di angguki Sasha sendiri.
Keduanya kembali berciuman dengan mesra. Wanita itu percaya begitu saja dengan rayuan maut yang di lontarkan oleh Davian padanya.
"Gimana kalau kita jalan aja. " tawar Davian berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, antar aku belanja. " balas Sasha dengan antusias. Keduanya lekas bangkit dan ke luar dari mansion. Keduanya masuk ke mobil dan melesat pergi.
Sepanjang perjalanan, Davian hanya diam mendengarkan ucapan sang kekasih. Sesekali dia menyahutinya dengan singkat dan kembali fokus pada jalanan. Sementara Sasha sendiri tengah asyik dengan ponselnya, entah apa yang wanita itu lakukan sekarang.
Diam diam Sasha tersenyum miring, dia menyimpan ponselnya dalam tasnya. Dia memilih memutar musik, Sasha tampak santai menikmati perjalanan dirimu bersama sang kekasih.
Skip
__ADS_1
Tiba di mall, mereka langsung turun dan masuk ke dalam mall. Sasha menggandeng lengan Davian dan pergi ke toko pakaian wanita. Davian tentu saja menuruti setiap keinginan dari Sasha meski sebenarnya dia malas.