
Di apartemen Kirana
Kirana tampak kesal karena Ravella tak mengundang dirinya dalam pertunangan wanita itu.
"Cih dasar sombong. " gerutu Kirana kesal. Pagi ini moodnya tampak down, dia sama sekali tak berniat pergi ke manapun.
Tring
Kirana meraih ponselnya yang dia letakkan di meja. Senyumnya sangat sumringah, gadis itu lekas bangkit dan pergi ke kamarnya. Tak lama dia telah kembali, Kirana lekas ke luar dari apartemen miliknya.
Dia memilih memesan taksi, taksi itu membawanya menuju ke sebuah Cafe terdekat.
"Hai kau sudah lama menunggu
Feli? " tanya Kirana basa basi.
"Kenalkan aku Kirana. " sapa Kirana berbasa basi. Keduanya mengobrol ringan, Kirana menjelaskan maksud tujuannya mengajak Felicia bertemu.
"Jadi kau tertarik dengan kak
River? " tanya Felicia memastikan. Kirana mengangguk pelan, dia meminta bantuan Felicia.
Obrolan keduanya tampak serius kali ini. Felicia meminta Kinara merahasiakan kepulangan dirinya dari keluarganya. Kirana tentu saja mengiyakan permintaan Felicia.
Felicia menyerahkan nomor River, kakaknya pada Kirana. Kirana tentu saja antusias dan begitu bersemangat.
Satu jam berlalu, keduanya lekas beranjak dari sana. Kirana memesan taksi, keduanya masuk ke dalam dan pergi dari sana.
wanita itu mengajak Felicia tinggal di apartemen nya. sampai di apartemen, Kirana menunjukkan kamar Felicia yang letaknya berhadapan dengan kamarnya.
Kirana sendiri kembali ke kamarnya, menaruh tasnya di atas meja kemudian mengambil ponselnya. Dia lekas menghubungi nomor River, pria pujaannya.
__ADS_1
Tring
Tanpa tahu malu Kirana lekas melakukan panggilan video.
"Halo Riv.. - " Kirana terkejut melihat sosok Ravella muncul dalam layar.
"Are you bitche. " maki Ravella dengan sorot tajamnya.
"Tak hanya benalu kau rupanya juga wanita murahan Kirana. " sarkas Ravella dengan nada kasarnya.
Tut
Sambungan terputus begitu saja. Tak lama dia mendapatkan notifikasi dari ponselnya. Kirana lekas membukanya kemudian mata nya melebar. Sosok dirinya menjadi trending topik di sosial media.
"Ravella si4l4n. " umpat Kirana emosi.
Di sisi lain Ravella yang emosi melempar ponsel tunangannya begitu saja. River terkejut melihat tindakan calon istrinya barusan.
"Sayang? "
"Tentu saja tidak. " jawab River dengan cepat. Pria itu berusaha menenangkan sang kekasih hati. Ravella menepis tangannya pelan, dia melipat tangannya ke depan. River sendiri bangkit, mengambil ponselnya yang lain di dalam laci meja.
River menghela nafas panjang, dia kembali membujuk gadis pujaannya itu.
"Memangnya siapa tadi? " tanya River.
"Kirana, teman lamaku dulu dan dia juga sempat menikung ku dari belakang. " Ravella sedikit menceritakan mengenai kelakuan Kirana dulu padanya.
Cup
River mencium bibir wanitanya sekilas. Dia merengkuh tunangan nya dari samping. Ravella menghela nafas berat, berusaha mengontrol dirinya yang lepas kendali.
__ADS_1
"Dua kali aku di tikung, aku tak mau terjadi lagi. " gumam Ravella lirih.
"I am promise baby! " bisik River sambil mengeratkan pelukannya. Ravella hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan sang kekasih.
"Aku cemburu River, saat tahu ada wanita lain yang menginginkan kamu. " keluh Ravella. River tertegun mendengar pengakuan kekasihnya. Bibirnya tersenyum, dia tentu saja senang melihat kekasihnya cemburu.
Keduanya kembali berpelukan dengan mesra di ruang tamu. Saat ini keduanya berada di mansion milik River. Pria tampan itu melepaskan pelukannya, menyesap kopinya perlahan begitu juga dengan Ravella.
Usai minum, Ravella menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. River memilih membahas perihal rencana pernikahan mereka. Dia tak ingin membuat mood sang kekasih down.
Ravella lekas bangkit, dia pamit pergi ke kamar mandi. Tiba di sana dia langsung cuci muka lebih dulu kemudian mengelap nya mengunakan handuk kecil.
Wanita itu lantas mengeluarkan ponselnya yang ada dalam celananya. Dia langsung menghubungi nomor Kirana lagi.
"Bagaimana, apa kau terkejut dengan berita panas hari ini Kirana? " tanya Ravella dengan santai.
"Kau memang si4l4n Ravella. " umpat Kirana.
"Aku tak akan membiarkan kamu bahagia bersama pria pujaanku. " gertak Kirana.
Ravella tergelak dengan lelucon yang di sampaikan Kirana barusan. Dia merasa Kirana terlalu bermimpi hingga berniat merebut River darinya.
"Lakukan saja jika kau bisa. Apa kau yakin River akan memandangmu seperti dia memandang penuh puja padaku? "
"Kau jangan terlalu percaya diri Kirana. Lagipula aku bukan Ravella yang lugu dan polos seperti dulu. "
Ravella terus berbicara, sengaja memancing kekesalan Kirana. Setelah puas dia mengakhiri obrolannya lalu ke luar dari kamar mandi. Dia berdecak pelan, Ravella akan menyingkirkan ulat bulu seperti Kirana.
"Kau akan menyesal Kirana, karena kamu telah berani memancingku! " desis Ravella dengan sinis. Ravella mencoba tenang kemudian melangkah maju menuju ke ruangan tamu.
__ADS_1
Di sana kedua insan itu kembali mengobrol santai. Tawa renyah terdengar dari bibir tipis Ravella. River mengulas senyumnya, dia merasa lega melihat sang kekasih kembali ceria.