Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 104 Season 3 Chap 8


__ADS_3

Siang ini, Mommy mengajak Sachi dan Vivian jalan jalan. Vivian sendiri merasa kesal namun dia pendam sendirian. Kini mereka telah berada di mall.


"Sachi, aku ingin bicara berdua sama kamu. " Vivian beranjak, dia pamit pada mertuanya. Keduanya memilih pergi ke kamar mandi.


Di sana


Vivian menatap tajam kearah Sachi yang tampak kebingungan. Wanita itu tak bisa lagi menahan kekesalannya. "Berhentilah mencari perhatian mertuaku, Sachi. Kenapa semua orang terus membanggakan kamu yang hanya pelayan. " omel Vivian.


"Kau mau di cap pelakor karena berniat menggoda suamiku? " geram Vivian.


"Maaf nyonya saya tak berniat demikian. " balas Sachi.


"Aku tak percaya. " Vivian menghempas tangan Sachi yang berniat memegangnya. Wanita hamil itu terlanjur kesal dan berniat pergi.


Bruk tanpa sengaja dia terjatuh, Sachi tentu saja terkejut dan menolongnya. Mommy Zarina menyusul dan terkejut, keduanya lekas membawanya ke laut setelah memanggil security.


Kini mereka semua tampak panik dan lekas membawa Vivian ke rumah sakit.


"Sachi, sebenarnya apa yang


terjadi? " tanya Mommy Zarina.


"Kami sempat bertengkar tadi nyonya. " sahut Sachi dengan jujur.


Skip


Mommy dan Sachi menunggu di luar ruangan. Keduanya tampak cemas, mommy juga telah menghubungi Erland.


Tak lama Erland datang dengan nafas tersengal. Pria itu langsung meminta penjelasan dari sang mommy.


Beberapa saat kemudain dokter menjelaskan keadaan Vivian. Mereka semua lekas masuk ke dalam, seperti biasa Erland mengumpulkan kelakuan wanita yang menjadi istrinya.

__ADS_1


"Bisakah kamu jaga diri dan calon bayimu? " ketus Erland.


Vivian hanya diam saja. Wanita itu memilih memiringkan tubuhnya, enggan menanggapi ucapan sang suami.


"Hei aku bicara sama kamu. " pekik Erland emosi.


"Ke luar dari sini brengshake, ajak sekalian gadis rendahan itu bersamamu. " umpat Vivian.


Mommy berniat menenangkan sang menantu namun Vivian menepisnya. Wanita itu benar benar kesal saat ini. Erland mengajak sang mommy dan Sachi ke luar.


Di luar ruangan, Erland menenangkan sang mommy. Sachi pun sendiri merasa bersalah telah membuat keributan.


"Mommy juga bersalah nak, mommy mengabaikan Vivian tadi di mall. " sesal mommy Zarina.


"Sudahlah mom, tak perlu meminta maaf dan menyesal. Wanita itu pantas mendapatkannya. " ujar Erland dengan wajah datarnya.


Mommy Zarina menghela nafas panjang. Erland langsung pergi ke bagian administrasi di ikuti Sachi. Mommy memperhatikan kedekatan keduanya dengan lekat.


Wanita itu tak ingin mendapatkan kabar tak sedap dari putranya lagi. Sementara di dalam ruangannya, Vivian mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Tepat malam harinya, di villa brighton. Mommy Zarina menatap sang anak dengan tatapan seriusnya.


"Erland, mommy harap kedekatan kamu dengan Sachi hanya untuk membuat Vivian cemburu. Ingat kamu sudah punya istri dan beberapa bulan lagi bagimu lahir. " ujar Mommy dengan tegas.


"Mommy. " protes Erland.


"Mommy tak pernah mengajari kamu bersikap brengshake, Erland! " tegas wanita paruh baya itu.Setelah itu mereka melanjutkan makan malamnya. Usai makan malam, mereka semua pergi ke kamar masing masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya, di taman Rumah Sakit.


Vivian tampak mengobrol dengan seorang pria yang datang menjenguknya. Wanita itu mengungkapkan kejahatannya yang telah lalu.

__ADS_1


"Kau yakin ingin melepaskan suamimu setelah bayimu lahir


kelak? " tanya Theodore.


"Iya, sudah banyak kesalahan yang aku lakukan selama ini Theo. " ungkap Vivian. Theo hanya bisa mendukung keputusan dari Vivian sendiri.


Pria itu membiarkan Vivi melanjutkan sarapan. Keheningan melanda keduanya saat ini. Vivi pun


menghembuskan nafas berat, terbayang bagaimana perlakuan suaminya terhadap dirinya dan Sachi yang tampak berbeda.


Wanita hamil itu kini mengusap perutnya penuh kasih sayang. "Maafin mama ya nak, mama terpaksa melakukan ini. Kelak kamu akan mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga papamu. "


Vivian sadar jika semua ini karena ulahnya sendiri. Kini dia menuai dari apa yang dia perbuat. Theo hanya bisa mengacak acak rambut Vivian.


"Ish Theo. " protes Vivian kesal.


"Sudahlah tak perlu bersedih di pagi buta seperti ini. " ungkap Theo berusaha menghiburnya.


"Terimakasih, setidaknya di dekat kamu aku enggak perlu marah marah. " celetuknya.


Theo mendengus pelan, keduanya saat ini tengah bernostalgia. Vivian cukup terhibur, mood wanita hamil itu tampak bagus pagi ini.


"Suamimu enggak datang ke sini? " tanya Theo yang membuat raut wajah Vivian berubah.


"Dia sibuk di kantor. " balas Vivian dengan santai.


Theo menggeleng pelan, melihat sikap santai yang di tunjukkan Vivian barusan. Vivian mencoba tak berpikir macam macam yang hanya akan membuat kandungannya yang terkena imbasnya.


"Bagaimana kalau suamimu selingkuh? "


"Biarkan saja. " balas Vivian.

__ADS_1


"Dasar bodoh kau. " maki Theo sambil menoyor kepala Vivian. Wanita hamil itu justru tertawa melihat raut kesal di wajah Theo.


__ADS_2