
Siangnya Morgan telah meminta suster Arabella untuk menjaga Ravella. Pria itu dan istrinya kembali ke Villa tempat mereka tinggal.
Setelah sampai keduanya lantas masuk ke dalam. Morgan menggendong istrinya menuju ke kamar mereka berdua. Di dalam sana menjadi siang yang panas untuk pasangan suami istri baru itu.
Selesai melakukan penyatuan keduanya langsung tertidur begitu saja.
Tepat pukul tiga sore, Zarina terbangun dan merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Teringat kejadian beberapa jam lalu kedua pipinya langsung merona. Dia menatap lurus kearah suaminya.
"Sangat tampan. " kecup Zarina di bibir sang suami.
"Hm nakal! " Morgan membuka kedua matanya membuat Zarina terkejut. Pria itu langsung bersandar, menarik istrinya ke dalam pelukan hangat nya.
Zarina kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Dia begitu menikmati kemesraan mereka saat ini. Mereka berdua kembali berciuman dengan mesra dan mengulang penyatuan liar dan panas.
Selesai bercinta keduanya lekas membersihkan diri kemudian berpakaian. Morgan segera mengganti sprei yang kotor dengan sprei yang baru. Pria tampan itu menghampiri istrinya lalu memapahnya ke luar dari kamar.
Di ruang tamu, keduanya langsung duduk di atas sofa. Saat ini Morgan tengah memberitahu kedua orang tuanya mengenai dirinya dan Zarina yang telah menikah.
"Mommy Amel bilang apa sayang? " tanya Zarina pada suaminya.
"Hanya menasehati kita dan segera pulang setelah kondisi Ravella membaik nanti. " ungkap Morgan.
Zarina mengangguk. Wanita itu menyandarkan tubuhnya di sofa. Mereka kembali mengobrol membahas Ravella.
"Sayang, aku kenal dengan seorang dokter spesialis kanker dan dia tinggal di negara ini. " ungkap Zarina pada sang suami.
"Apa dokter itu tampan? " tanya Morgan dengan tatapan curiganya. Zarina langsung nyengir melihat tatapan sang suami. Wanita itu lantas membujuk sang suami. Morgan akhirnya luluh berkat bujukan maut wanitanya.
Zarina lantas pergi ke kamar untuk bersiap siap. Tak lama wanita itu kembali dan mengajak suaminya ke luar. Mereka lantas masuk ke mobil, sepanjang perjalanan keduanya banyak mengobrol.
__ADS_1
Skip
Kini mereka bertemu dengan dokter di mansion dokter Gallen. Zarina langsung mengenalkan suaminya pada dokter Galen.
"Jadi kalian menikah, kenapa kamu tak undang aku Zarin? " protes Dokter Galen.
"Kami belum mengadakan pestanya dokter. "
"Putriku sedang sakit apa kamu bisa mengusahakan kesembuhannya? " tanya Zarina. Morgan mengadakan keadaan Ravella pada dokter Gallen.
"Aku akan berusaha, kita ke rumah sakit sekarang. " Zarina mengangguk, ketiganya langsung ke luar dari sana dan masuk ke mobil masing masing.
Back to back
di rumah sakit, ruangan rawat Ravella. Zarina dan Morgan membiarkan dokter Gallen memeriksa dan merawat Ravella. Pasangan suami istri itu tampak menunggu di luar.
Zarina menghela nafas panjang, dia begitu khawatir dengan keadaan Ravella yang kembali drop. Beberapa jam berlalu dokter Galen ke luar dari ruangan Ravella.
"Ravella memiliki kesempatan, asalkan kalian terus memberikan dukungan untuknya. " ungkap Dokter Galen.
"Aku telah meminta suster untuk memeriksa sampel darah dari putrimu. " pungkas dokter Galen.
Morgan tentu saja terkejut mendengar pengakuan dokter Galen barusan. Hot daddy itu mengatakan jika putrinya selama ini tinggal dengan ibu kandung Ravella sendiri.
Dokter Galen mengangguk paham setelah tahu kebenarannya. Dia menepuk pundak Morgan dengan pelan.
"Percayalah putri kamu akan sembuh Morgan. " ucap Dokter Galen sambil tersenyum.
"Aku permisi dulu, harus menemui dokter Joe. " pamitnya. Setelah kepergian dokter Galen, Zarina langsung menghampiri suaminya.
Bug
Morgan tampak marah dan meninju tembok di sebelahnya. Dia merasa gagal menjadi seorang daddy untuk putrinya.
__ADS_1
"Keadaan putriku sendiri saja aku tak tahu, aku gagal menjadi daddy untuk Vella. " gumam Morgan dengan lirih. Zarina menghela nafas berat, dia langsung memeluk suaminya dari samping sambil menguatkan Morgan.
Morgan berbalik, langsung memeluk istrinya dengan erat. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Pria tampan itu melerai pelukannya kemudian mereka kembali duduk di kursi.
"Semuanya belum terlambat sayang, kita sama sama akan terus menemani Vella hingga dia sembuh nanti. " gumam Zarina dengan tulus.
"Terimakasih telah menerima aku dan Vella dengan tulus sayang. " gumam Morgan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Keduanya kembali berpelukan, Zarina menggenggam tangan sang suami dan berusaha membuatnya tenang.
Siangnya Morgan mengajak istrinya pergi ke restauran terdekat. Dokter Galen kembali ke ruangan Ravella sambil membawakan makanan. Pria tampan itu langsung masuk ke dalam dan menghampiri suster Bella.
"Lho, dokter kenapa balik lagi? " tanya Suster Bella pada dokter tampan di hadapannya saat ini.
"Saya membawakan kamu makan siang, kamu makanlah lebih dulu. " ujar dokter Galen sambil tersenyum.
Suster Bella langsung menerima satu kantong plastik yang berisi makanan. Gadis itu lantas memilih beranjak dan duduk di sofa. Sembari makan, dia memperhatikan interaksi dokter Galen dengan Ravella.
Dia segera menghabiskan makannya lalu membuang plastiknya ke tempat sampah. Suster Bella kembali menemani Ravella bersama dokter Galen.
di sisi lain Morgan dan Zarina telah selesai makan siang bersama. Zarina menanyakan perihal mantan istri pertama suaminya. Morgan tentu saja mengatakan apa adanya. Pria itu saat ini tengah mencurigai Agista, wanita licik itu yang menyuntikkan obat berbahaya ke tubuh Ravella.
"Untuk saat ini pikirkan dulu kesehatan Vella, sayang. Setelah itu kamu baru mencari perhitungan pada Agista. "
"Namun sebaiknya cari bukti buktinya lebih dulu agar kamu bisa mengambil alih hak asuh putri kecil kita itu. " ungkap Zarina menyampaikan pendapatnya. "
"Kau benar, untungnya ada kamu yang bisa menenangkan aku. Jika tidak mungkin saja aku sudah pulang ke negara X dan mengamuk. " sahut Morgan. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Morgan.
Zarina menggenggam tangan sang suami. Keduanya menikmati suasana di dalam Restauran yang cukup sejuk. Wanita itu kembali menyesap vanila lattenya dengan santai.
"Sayang, kita akan honeymoon di sini saja ya bagaimana? " tanya Morgan yang di angguki Zarina.
"Tentu saja aku setuju! ". Zarina menampilkan senyuman manis nya di depan suami tercintanya.Morgan langsung mencium tepat di bibir sang istri tanpa mempedulikan sekitarnya. Zarina menabok lengan sang suami setelah ciuman mereka berakhir.
__ADS_1
Morgan tertawa pelan, melihat rona merah di kedua pipi istrinya. Dia merasa gemas dengan tingkah lucu wanitanya. Keduanya saat ini tengah membicarakan rencana honeymoon dan tempat mana saja yang akan mereka datangi.
Pria tampan itu memanggil pelayan dan membayar billnya. Dia langsung mengajak istrinya pergi namun bukan kembali ke rumah sakit tapi jalan jalan sekitaran.