Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 14 Kemarahan Agista


__ADS_3

Pagi ini Agista menemui sang papi di kediaman Dawn. Wanita itu meminta sang papi agar bisa kembali dengan Morgan.


"Sudahlah Agis, apa kamu amnesia. Dulu saja kamu yang mengkhianati Morgan hingga kalian bercerai. Sekarang kamu meminta papi untuk membantumu rujuk dengan Morgan. Apa kamu sudah tidak waras? " ujar Tuan Saka dengan nada ketusnya.


Agista tentu saja tak menyerah, dia memohon sang papi untuk membantunya. Seakan dia tak memiliki rasa malu lagi setelah apa yang dia perbuat dulu.


"Ravella masih butuh orang tua kandungnya Pi, aku rasa Vella menginginkan aku dan Morgan kembali bersama! " ujar Agista dengan mata berkaca kaca.


"Sudahlah papi tak mau dengar apapun dari mulut kamu Agis. " ujar tuan Shaka dengan wajah datarnya. Pria paruh baya itu lekas bangkit, meninggalkan putrinya sendirian di ruang tamu.


Agista langsung mengumpat kasar. Wanita itu gagal membujuk papinya untuk membantu. Dia mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi Morgan namun ternyata nomornya tak bisa di hubungi.


"Ck, sebenarnya Morgan ke mana sih kok gak bisa di hubungi? " gerutu Agista.


drt


drt


Wanita itu menekan tombol hijau. Dia berharap yang menghubungi dirinya adalah Morgan namun ternyata bukan.


"Ada apa? " ketus Agista dengan nada datar nya.


"Maaf nyonya, nona Ravella menghilang. " ungkap seseorang di telepon. Agista membulatkan mata mendengar pengakuan dari pelayan.


"Bagaimana bisa hah, kalian tak becus menjaganya. " bentak Agista emosi. Dia meminta sang pelayan untuk mencari keberadaan Ravella.


tut


Agista langsung bangkit, dia langsung menyambar tasnya kemudian ke luar dari mansion sang papi.


Tiba di sebuah apartemen yang letaknya di perbatasan kota, Agista langsung mengamuk pada semua orang di sana termasuk suster dan dokter yang dia tugaskan berjaga keadaan Navella. Dia merasa mereka semua telah lalai menjaga Navella hingga putri kecilnya itu menghilang.


"Kalian sangat bodoh, bagaimana bisa kalian kecolongan seperti ini hah. " maki Agista dengan emosi meledak ledak.

__ADS_1


Semua orang di sana tampak diam dan ketakutan. Agista mengusap wajahnya kasar, dia terus mengamuk meluapkan kemarahannya.


"Cepat cari putriku sekarang juga. " bentak Agista.


"Baik nyonya. " para bodyguard langsung pergi dan melaksanakan perintah dari Agista. Wanita itu menjatuhkan dirinya di sofa, memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Sial, siapa yang membawa Vella kabur. Mana mungkin bocah itu kabur sendiri? " geram Agista dengan tangan terkepal kuat.


Dia menghela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya yang lepas kendali. Kehilangan Navella tentu saja sangat membuatnya rugi, dia masih membutuhkan putrinya itu agar bisa rujuk dengan sang mantan suami.


Hah


Agista hanya bisa mengumpat berulang kali. Ingin sekali dirinya mengamuk dan menghajar semua orang di villa ini namun dia urungkan niatnya.


"Benar benar hari yang sial untukku. " gumam Agista dengan emosi meledak ledak. Lagi dan lagi ponselnya berdering, wanita itu lantas mengeluarkan ponselnya.


Agista berdecak pelan, memilih abai pesan dari pria yang tak penting menurutnya.Dia menyimpan kembali ponselnya dalam saku celana. Agista langsung bangkit, dia lantas ke luar dari villa dan pergi dari sana.


"Lama lama aku bisa gila. " rutuk Agista pada dirinya sendiri. Dia memilih kembali ke mansion dan mengurung dirinya di kamar.



"Wajah kamu kenapa kusut Gis? " tanya Lusi pada sang sahabat.


"Ravella hilang Lus, ini semua gara gara pelayan yang tak becus itu. " geram Agista.


"Terus kamu sudah suruh orang untuk mencarinya? " tanya Lusi yang di angguki Agista.


Lusi turut meneguk wine yang di tuangkan barista padanya. Wanita itu kembali diam, hanya mendengarkan keluh kesah dari Agista. Keduanya kembali bersulang, Lusi berusaha menghibur temannya itu.


Agista terus menegak wine berulang kali. Seorang pria datang menghampiri keduanya. Pria itu langsung menciumnya dari samping. Lusi segera menyingkir, berjoget dengan para tamu yang lain.


Agista menoleh, terkejut melihat kehadiran Nicholas. Wanita itu memilih acuh dan kembali menegak minumannya. Nicholas terkekeh pelan, dia memperhatikan Agista dalam diam.

__ADS_1


Dua jam kemudian Agista lekas bangkit. Wanita itu mulai sempoyongan. Nicholas langsung menahan tubuh wanita itu kemudian membopongnya. Setelah menaruh Agista ke dalam mobilnya, dia langsung memberitahu Lusi setelah itu pergi dari sana.


"Agis, Agis kamu tak berubah sama sekali ya. " gumam Nicholas. Pria itu menambah kecepatan mobilnya. Ternyata pria itu membawa Agista ke apartemen. Dia langsung turun dan menggendongnya.


Nicholas menurunkan Agista ke atas ranjang. Agista mengusap wajah tampan Nicholas.


"Morgan, kembalilah padaku. " racau Agista dengan setengah sadar. Nicholas hanya diam saja tak menanggapi ucapan Agista. Pria itu langsung melepaskan pakaian dirinya dan Agista.


Keduanya melakukan penyatuan di dalam kamar milik Nicholas. Terdengar suara merdu dari dalam kamar pria tampan itu. Nicholas semakin menghujam Agista dengan liar. Selesai bercint4, Nicholas menyingkir dan menyelimuti tubuh mereka. Dia lantas memejamkan kedua matanya setelah mengatur nafasnya yang tersengal.


Skip


Keesokan harinya Agista terbangun. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya, lalu menatap sekelilingnya. Dia menunduk mendapati lengan kejar seseorang memeluknya, Agista langsung menoleh dan terkejut.


"Nicholas. " gumam Agista.


Merasakan pergerakan di sebelahnya, Nicholas langsung membuka matanya. Pria itu langsung bangun, bersandar di headboard sambil mengacak rambutnya asal.


"Kau sudah bangun Gis, apa kepala kamu masih pusing? " tanya Nicholas.


Agista lekas bangun, dia memakai pakaian dengan asal lalu berlari ke kamar mandi. Nicholas segera memakai celananya kemudian menyusul Agista.


Beberapa menit berlalu, keduanya ke luar dari kamar mandi. Nicholas menyerahkan pakaian ganti untuk Agista. Wanita itu lekas memakainya, tanpa banyak bicara dia ke luar dari kamar Nicholas. Nicholas yang selesai langsung menyusul Agis ke luar.


"Apalagi Nich? " ketus Agista menepis tangan Nicholas. Wanita itu berbalik, menatap tajam kearah Nicholas.


"Kau marah karena pria yang menghabiskan malam denganmu bukan Morgan ya 'kan? " tanya Nicholas memastikan.


"Iya, apa kau puas? " geram Agista dengan nada ketusnya.


"Jangan ganggu aku. " ketus wanita itu. Agista langsung pergi begitu saja dari apartemen Nicholas. Nicholas menghela nafas berat, dia berdecak pelan melihat sikap Agista yang keras kepala.


Agista memilih naik taksi,sepanjang perjalanan hanya terdengar suara umpatan yang di tujukkan pada Nicholas. Wanita itu memeriksa ponselnya, tak ada panggilan dari Morgan membuat wanita itu uring uring an lagi.

__ADS_1


"Nicholas memang brengshake. Berani beraninya dia mencari kesempatan dalam kesempitan saat aku mabuk. " geramnya jengkel.


"Cih, pria si4l4n itu harus aku singkirkan nantinya. " gumam nya pelan.


__ADS_2