
Berita mengenai kegagalan pernikahan Erland telah menyebar luas di sosial media. Banyak pihak yang saat ini membicarakan Vivian dan Erland.
Erland seakan tak memiliki muka untuk bertemu dengan adiknya. Mood pagi pria itu tampak tak bersahabat saat ini.
Samar samar terdengar suara dering ponsel. Erland mengeluarkan benda canggih itu dari dalam saku celana.
"Halo Mom. Ada apa? " sapa Erland.
"Kau di mana nak? "
"Aku hendak pergi ke kantor. "
"Kenapa kamu menghindari adik kamu, Erland? "
Erland terdiam. Dia menghembuskan nafas panjang mendengar nasehat sang ibu.
"Maaf Mom, aku hanya ingin sendiri saat ini. "
Erland mengakhiri obrolannya. Dia lekas masuk ke mobil dan pergi dari penthouse nya.
Skip
Tiba di Kantor, pria itu berjalan dengan gagah dengan wajah dinginnya. Sang asisten mengikutinya dari belakang, keduanya lantas memasuki lift.
karyawan wanita langsung menggunjingkan perihal kegagalan pernikahan atasannya itu.
Skip
Erland berdiri di depan kaca ruangan kerjanya. Raut wajahnya tampak datar, kejadian kemarin membuat pria itu semakin dingin dan membenci wanita.
"Aku benar benar bodoh. " gumam Erland lirih.
Setelah beberapa menit, dia lekas duduk di kursinya. Dia menatap lurus kearah sang asisten.
"Zidan, kau gantikan aku
sementara. " ujar Erland.
"Tapi Tuan..-? " Zidan kembali bungkam setelah di lirik tajam bosnya. Pria itu mengangguk sebagai jawabannya.
Erland lekas bangkit, dia berlalu ke luar. Zidan sendiri menatap kepergian bosnya dengan raut khawatir.
__ADS_1
Erland lebih dulu mengambil koper berisi pakaian dan barang pentingnya. Dia melajukan roda empatnya dengan kencang.
Setelah tiba di Bandara, dia lekas menaiki pesawat dan pergi meninggalkan negara X.
Sore harinya, Erland telah sampai di negara M. Di sana dia tinggal di sebuah villa yang terletak di dekat pantai biru. Seakan tak ada lelah, Erland memilih berkeliling menelusuri pantai.
Selain itu dia juga mengganti nomornya dengan yang baru. Katakanlah dia pengecut, Erland sangat merasa bersalah pada adiknya.
"Maafin kakak, Esther. Kakak gagal menjadi saudaramu yang terbaik. Aku justru menolehkan luka di hatimu, ini semua karena kelicikan Vivian. " gumam Erland.
Erland membuat nafas berat. Fokusnya teralihkan pada sosok gadia yang berada di ujung pantai. Dia lekas bangkit, berjalan menghampiri gadis itu hingga ke pantai pesisir.
Tanpa dia sadari, Erland telah berjalan cukup jauh dari tempatnya berdiri. Sementara seorang gadis berkuncir tengah asyik mencari kerang.
Merasakan ada seseorang di dekatnya membuat gadis itu menoleh. Erland terkejut melihat kedua mata gadis di depannya yang tampak berbeda.
Farania Sachi, nama gadis yang memiliki heterochromia. Heterochromia merupakan kondisi langka di mana warna mata bagian kiri dan kanan tampak berbeda. Biru terdapat pada bagian kiri dan Coklat terdapat pada bagian kanan.
"Siapa kamu? " tanya Sachi dengan ketus.
"Maaf aku pendatang baru di sini. " ujar Erland.
Sachi lekas bangkit, gadis itu berlalu pergi begitu saja. Erland belum sempat bertanya namun Sachi telah pergi.
Malam harinya, Erland sibuk dengan ponselnya. Dia memberikan kabar untuk orang tuanya agar tak mengkhawatirkan dirinya. Teringat kejadian lalu di mana dirinya di permainkan Vivian membuat hatinya hancur.
"Seandainya aku lebih percaya pada Essie dan Nolan, semuanya tak akan terjadi seperti ini. " gumam Erland menyesal. Dia juga merasa bersalah pada sany mommy atas perbuatannya yang membuat nama baik keluarga tercoreng.
Tanpa makam malam, pria itu lekas berbaring di atas ranjang setelah menaruh ponselnya.
Keesokan harinya, usai sarapan Erland memilih ke luar. Saat ini dia mengenakan pakaian kasual dan santai.
Erland mencoba menemui gadis yang dia lihat kemarin. Setelah bertemu, pria itu mengajak Sachi berkenalan.
"Aku Sachi, memangnya apa yang Anda ingin tanyakan Tuan? " tanya Sachi sambil menunduk.
"Tatap lawan bicara kamu Sachi," ujar Erland dengan nada datarnya.
Sachi menegakkan kepalanya. Tatapannya bertemu dengan tatapan Erland. Erland memastikan apa yang dia lihat di hadapannya saat ini.
"Kau takut dengan mata heterochromia yang aku miliki, kan? "
"Tidak, sejak kapan kamu memilikinya? " tanya Erland.
__ADS_1
"Ini merupakan keturunan genetik berasal dari ibuku. " ungkap Sachi.
Erland mengangguk, pria itu membantu Sachi mencari kerang. Setelah selesai, keduanya duduk di atas pasir menghadap kearah pantai. Pria itu terus bertanya mengenai kehidupan Sachi. Sachi sendiri menjawab apa adanya. Gadis itu sama sekali tak melirik kearah Erland sedikitpun.
"Kalau begitu saya permisi. " Sachi lekas bangkit, berjalan meninggalkan Erland sendirian. Erland tentu saja menyusulnya, mengikuti Sachi dari belakang.
kini Sachi sampai di rumah kecilnya. Dia menaruh wadah berisi kerang di atas bangku. Sachi menoleh, mendapati Erland mengikutinya.
"Sachi. " ucap seseorang. Sachi menoleh, mendapati seorang gadis menghampirinya. Gadis berambut merah itu menatap Erland dengan melongo.
"Hai aku Gietha. " sapanya di sertai senyuman manis.
Erland hanya diam saja, tak menanggapi sapaan gadis di depannya ini. Raut wajahnya tampak dingin dan datar. Sachi pun langsung memperhatikan interaksi keduanya.
"Sudahlah Gie, jaga sikapmu. Sekali saja kecentilan setiap ada pria tampan. " ketus Sachi.
"Kamu jangan ikut campur Sachi, urus saja kerang kerang itu. " sahut Gietha dengan nada ketusnya. Sachi menghela nafas panjang, memilih mencuci kerangnya.
Erland melihat sosok Vivian di diri Gietha, tentu saja dia sangat benci. Pria itu memilih abai, dan kembali membantu Sachi. Gietha yang di abaikan merasa kesal sendiri dan pergi.
"Maafkan atas sikap Gietha tadi, tuan. " ucap Sachi.
"Sudahlah tak perlu meminta maaf, lagipula bukan salahmu. " sahut Erland.Usai mencuci kerangnya, Sachi lekas mencucinya di sebuah wadah.
Malam harinya, hujan turun dengan lebatnya. Erland terpaksa menetap di rumah Sachi. Pria itu memperhatikan Sachi yang menbetulkan genteng rumahnya.
"Aduh, " Erland dengan sigap menahannya hingga tak terjatuh ke bawah. Gadis itu hampir tergelincir akibat lantainya licin namun kini dia terjatuh di atas tubuh Erland.
Kini pakaian keduanya tampak basah. Erland menggendongnya dan menurunkan ke ruang tengah, mengantikan pekerjaan Sachi. Setelah selesai, dia melepaskan kaosnya yang basah.
"Astaga bahu kamu memar, maafkan aku Tuan. " sesal Sachi.
Sachi lebih dulu mengganti pakaiannya. Setelah itu mengobati luka memar di bahu Erland. Erland hanya diam saja, namun dia tetap menatap wajah panik Sachi.
Selesai mengobati bahu Erland, kini keheningan melanda keduanya. Sachi sendiri mengusap tubuhnya yang terasa dingin.Gadis itu berusaha menahan hawa dingin yang menerpa kulit eksotisnya.
"Kau kedinginan,Sachi? "
"Tidak. " elak Sachi.
Erland lekas melingkarkan kedua tangannya di perut Sachi, memeluknya dari belakang. Sachi tentu saja gugup, dia menyandarkan kepalanya di tubuh Erland.
Erland sendiri menghirup aroma khas dari tubuh Sachi. Diapun menjernihkan pikirannya yang seketika travelling. Keduanya kembali mengobrol dengan ringan dan santai.
__ADS_1