Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 29 Kehancuran Zarina


__ADS_3

Empat bulan kemudian


Kandungan Zarina masuk bulan ke empat, namun perut wanita itu sudah terlihat besar. Selama ini Morgan menjaga ketat istrinya mengingat Davian masih berkeliaran di luaran sana.


Saat ini keduanya berada di sebuah taman. Zarina menunggu suaminya di taman. Terdengar suara keributan, membuat wanita hamil itu lantas menoleh dan berjalan kearah sumber keramaian.


"Morgan. " Zarina membulatkan mata melihat suaminya terkapar di tengah jalan.


Wanita itu lekas mendekat, tangisan nya pecah melihat darah ke luar dari perut sang suami.


"Morgan hiks. " Zarina begitu hancur melihat suaminya di tusvk orang.


Tak lama ambulan datang, para petugas mengangkat Morgan ke dalam di susul Zarina mengunakan mobil suaminya.


Skip


Di rumah sakit


Zarina tampak hancur, dia berusaha menekan rasa sesak dalam dadanya. Dia lekas menghubungi kedua orang orang tuanya.


"Ya Tuhan Morgan, aku mohon kamu bertahan ya sayang. Aku tak sanggup melihat kamu meninggalkan aku, Vella dan calon baby. " gumam Zarina menangis tergugu.


Keluarganya pun datang, wanita hamil itu langsung memeluk sang mommy. Tangisnya pecah begitu juga dengan yang lainnya. Mommy Hera mengusap punggung bergetar putrinya.


"Mommy hiks, aku takut Morgan ninggalin aku. " gumam Zarina lirih.


Tuan Kenzo sendiri menghubungi pihak polisi untuk menyelidiki kejadian yang menimpa putranya. Dia tak akan membiarkan pelaku lolos dari jerat hukum.


Beberapa jam kemudian


Dokter ke luar dan menemui keluarga pasien. Mereka semua kembali berdiri, mendengarkan penjelasan dari dokter. Zarina masih saja menangis meski luka yang di dapatkan suaminya tak terlalu dalam.


Setelah Morgan di pindahkan ruangannya, mereka langsung pergi ke sana. Mereka semua membiarkan Zarina masuk ke ruangan Morgan. Wanita hamil itu melangkah gontai menghampiri suami tercintanya.


"Hubby. " Zarina menggenggam tangan suaminya lalu menaruhnya di atas perut buncit nya itu.

__ADS_1


"Harusnya aku tak meminta kamu pergi membeli bubur. " gumam Zarina dengan nada penyesalan. Wanita itu tak henti hentinya menyalahkan dirinya sendiri.


Hiks


hiks


Zarina duduk di kursi sambil menggenggam tangan suaminya. Wanita itu melepaskan genggaman tangannya lalu menyentuh perut buncitnya saat ini.


"Awh ssh. " Wanita hamil itu mengusap sayang perutnya sambil sesegukan. Dia merasakan


tendangan dari dalam perutnya.


Mommy Fera masuk ke dalam, wanita paruh baya itu membulatkan mata. Dia langsung mengajak putrinya bangkit dan ke luar. Mommy Fera memanggil dokter kandungan untuk memeriksa anak dan calon cucunya.


Selesai di periksa, dokter meminta Zarina istirahat dan tak boleh stres. Mommy Fera mendekat, mencium sang anak lalu mengusap perut buncit putrinya.


"Kamu harus jaga kondisi kamu yang hamil besar nak. Mommy yakin suami kamu akan segera sadar. " tegur mommy Fera.


"Mommy, gara gara aku Morgan harus mengalami kejadian ini. " sesalnya sambil menangis.


"Ini musibah sayang, kamu jangan salahkan diri kami nak. " sahut mommy dengan tatapan penuh peringatan. Wanita paruh baya itu menghapus air mata putrinya.


"Istirahat saja sayang, kamu dengar 'kan apa kata dokter tadi? " tanya Mommy yang di balas anggukan oleh Zarina.


Zarina segera memejamkan mata. Setelah beberapa menit wanita hamil itu tertidur. Mommy Fera begitu sedih melihat putrinya yang begitu rapuh. Diapun memilih ke luar, takut menganggu waktu istirahat sang anak.


Paruh baya itu langsung menemui suami dan besannya. mommy menanyakan perihal keadaan sang menantu.


"Morgan telah sadar,biarkan aku yang berbicara dengan menantuku. " sahut mommy Fera. Ketiganya masuk ke dalam, mereka menghampiri sosok gagah yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Morgan pun tentu saja mencari keberadaan istri tercintanya.


"Istriku ke mana mommy? " tanya Morgan lirih.


"Zarina ada di ruangan sebelah nak, mommy meminta dia istirahat. Dokter bilang istri kamu mengalami guncangan membuatnya sedikit setress. " ungkap mommy Fera.

__ADS_1


Morgan tentu saja sangat menyesal. Dia berniat bangun namun semua orang menahannya. Pria itu merasakan ngilu pada bagian sisi kiri perutnya. Daddy Kenzo menghela nafas panjang lalu duduk di dekat putranya.


"Morgan, katakan pada Dad siapa yang melakukan ini padamu? " tanya Daddy Kenzo penasaran.


"Entahlah Dad, aku tidak tahu. Pria itu memakai topeng wajahnya, namun aku ingat dia memiliki tatto naga di lengan kirinya. " sahut Morgan. Semua orang saling melirik satu sama lain.


Tuan Kenzo tentu saja terkejut. Dia berusaha mengontrol dirinya, sepertinya dia tahu siapa yang telah mencelakai putranya itu. Morgan memperhatikan raut wajah sang daddy.


"Apa ada yang kau sembunyikan Dad? " cecar Morgan.


"Tak ada nak, Daddy akan menyelidiki perihal masalahmu ini. " sahutnya.


Pria paruh baya ini memberi nasehat pada sang anak agar lebih berhati hati lagi kedepannya nanti. Morgan hanya berdehem, dia penasaran siapa pelaku yang melukai dirinya.


Ayah dan Anak itu kembali mengobrol dengan santai. Suster datang membawakan makan siang untuk Morgan. Daddy Kenzo menyuapi sang anak dengan sabar.


"Sudahlah Daddy, i am fine. Beberapa minggu lukaku ini pasti sembuh, sepertinya aku akan semakin posesif pada istri dan calon anak anakku. " gumam Morgan.


Tuan Kenzo mendengus pelan, dia merasa jengkel melihat wajah tenang sang anak. Namun di balik ini semua dia bernafas lega melihat sang anak tak memiliki luka lain.


Sore tepat pukul lima, Zarina menemui sang suami di ruangan Morgan sendiri. Keheningan melanda keduanya. Morgan menatap wajah sembab sang istri yang membuat dirinya merasa menyesal.


"Maafkan aku sayang. " ucap Morgan dengan lembut.


Zarina mendekat, memeluk sang suami tercinta. Morgan menciumi kening dan bibir istrinya. Lalu fokusnya tertuju pada calon buah hatinya. Dia menyentuh dan menciumi perut buncit wanitanya.


Zarina sendiri mengusap kepala sang suami dengan lembut lalu memilih duduk di kursi. Morgan tak henti hentinya meminta maaf pada istrinya itu.


"Beberapa minggu luka ini pasti akan sembuh sayang, kamu jangan panik ya. " bujuk Morgan dengan lembut.


"Aku sangat takut kehilangan kamu By! "


"Calon buah hati kitapun tak ingin kehilangan kamu. " gumam Zarina dengan senyuman tipisnya. Morgan mengulum senyumnya, hatinya menghangat setiap kali istrinya mengkhawatirkan dirinya.


Keduanya kembali mengobrol dengan santai. Zarina tentu saja memastikan keadaan suaminya tak ada luka lainnya. Morgan menarik tangan istrinya lalu mengecupnya berulang kali.

__ADS_1


"Mana mungkin aku meninggalkan kamu dan calon anak kita sayang. Aku telah berjanji pada kalian jika aku akan selalu menjaga kalian. " ungkapnya.


Zarina tersenyum lebar,dia mengusap sudut matanya yang berakhir. Melihat suaminya telah sadar membuatnya sangat lega. Dia akan terus berdoa semoga sang suami selalu di jauhkan dari hal hal tak di inginkan.


__ADS_2