
Di sisi lain siang itu di apartemen, Sachi tampak sumringah melihat foto foto dirinya bersama sang pujaan hati.Dia tak sabar menantikan hari pernikahannya tiba.
Sachi menaruh photonya ke dalam laci. Lalu dia beranjak dan mengganti pakaiannya. Gadis itu memilih pergi ke mall, dia mulai terbiasa tinggal di kota dan tak lagi bingung.
"Sepertinya aku bisa belanja sesuatu yang aku inginkan. " gumam Sachi.
Gadis itu menerima kartu unlimited dari calon suaminya. Kini dia berada di dalam taksi, Sachi begitu menikmati perjalanannya.
Skip
Mall
Dia lekas masuk ke dalam, menuju toko pakaian wanita. Pelayan datang melayani Sachi. Sachi kini asyik memilih gaun yang dia sukai.
"Sachi? "
Merasa ada yang memanggil namanya membuat Sachi menoleh. Gadis itu menbulatkan mata, dia mengambil beberapa gaun yang di pilihnya kemudian dia bawa ke kasir.
"Sachi tunggu. " pekik seorang pria.
Usai belanja, Sachi bergegas ke luar. Pria itu terus mengejarnya hingga berhasil mencekal tangan Sachi. Gadis itu menghempas tangan pria yang menyentuhnya.
"Ternyata kau benar Sachi, selama di pulau aku selalu mencarimu. " ujar pemuda itu.
"Untuk apa mencariku Gerald? " ketus Sachi. Gerald langsung menariknya masuk ke dalam mobil kemudian berlalu pergi.
Sepanjang perjalanan Gerald hanya diam, tak menanggapi permintaan Sachi yang ingin di turunkan.
Beberapa menit berlalu Gerald menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia melepaskan sabuk pengamannya lalu menoleh ke samping.
__ADS_1
"Aku masih kepikiran dengan kejadian di pulau waktu itu Sachi. " ungkap Gerald.
"Hentikan Ger, aku enggak mau mendengarnya. " sentak Sachi. Gadis itu tampak emosi setelah mengingat kejadian yang telah lalu.
"Aku harap setelah ini kita tak akan pernah bertemu lagi. " Sachi lekas turun dari mobil Gerald, wanita itu pergi begitu saja.
Sachi berdecak pelan, dia bergegas pergi dari sana. Dia segera memesan taksi dan masuk ke dalam. Gerald sendiri menatap sendu kepergian Sachi. Dia diam diam memutar mobilnya dan mengikuti Sachi dari belakang.
Skip
Tiba di apartemen, Sachi langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wanita itu tampak terkejut melihat kehadiran pria yang sempat dia hindari selama ini.
"Bagaimana bisa Gerald bisa tahu kalau aku ada di kota ini. " gumam Sachi.
"Jangan jangan Gietha yang memberitahunya? "
"Halo sayang. " sapa Sachi dengan senyuman manisnya.
"Kau sedang apa baby? " tanya Erland.
"Aku habis belanja di mall. " balasnya dengan lembut.
Sachi terus bicara, keduanya sama sama tampak tak sabar untuk meresmikan hubungan mereka.
"Aku ada di luar apartemen kamu. " ujar Erland.
Sachi mengakhiri obrolannya dengan sang calon suami. Tak lama Erland masuk, Sachi langsung bangkit dan menghampirinya.
__ADS_1
Cup Erland mencium keningnya lembut lalu mengajaknya ke ruang tamu.
"Oh ya baby, aku tadi melihat ada seorang pria yang berada di dekat apartemen kamu? "
Sachi mengerutkan kening. Kedua matanya membulat sempurna, dia memberikan alasan tak mengenal pria itu. Erland sendiri tentu saja percaya, lagipula Sachi tak mungkin mengkhianati dirinya.
"Sudah lupakan saja, aku bawa makanan kesukaan kamu. " ujar Erland mengalihkan pembicaraan. Sachi mengangguk, lekas membuka makanan itu kemudian menyantapnya.
Erland tersenyum kecil, dia merasa gemas dengan calon istrinya. Setelah menghabiskan makanannya, Sachi kembali mengobrol dengan sang calon suami.
"Aku janji akan membahagiakan kamu. " ujar Erland dengan serius. Sachi tentu saja bahagia, dia merasa terharu dengan ucapan sang kekasih hati.
"Sebaiknya aku tak perlu cerita mengenai masa lakuku pada
Erland. " batin Sachi. Dia sangat yakin jika calon suaminya itu pasti bisa memahami dan menerima dirinya apa adanya.
Dia tampak bergelayut manja di lengan sang pujaan hati. Sachi merasa sangat bahagia, tak menyangka cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Dia pun merasa semuanya ini hanyalah mimpi.
"Sayang, apa kau yakin keluarga kamu enggak malu dengan asal usulku yang tak memiliki keluarga? " tanya Sachi.
"Bukankah kemarin kita sudah membahasnya. Keluargaku semuanya tampak menyukai dan senang akan kehadiran kami baby! " jelas Erland.
"I love you Sachi, please jangan tinggalkan aku. " ucap Erland penuh harap.
"Me too. " Sachi membalasnya, gadis itu memeluk sang calon suami. Erland memeluknya dengan erat, sering sering menciumi pucuk kepala calon istrinya.
Tak lama dia mengurai pelukannya. Fokusnya kembali tertuju pada Sachi. Erland menghela nafas panjang, menggenggam tangan Sachi.
"Aku harap kamu tak memiliki rahasia yang kamu sembunyikan dari aku, Sachi! "
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku bukan wanita yang seperti mantan istrimu itu sayang. " balasnya dengan gugup.
Erland tersenyum bangga mendengarnya. Sachi sendiri menghela nafas berat, berupaya menenangkan dirinya. Wanita itu terpaksa berbohong demi kebaikan bersama begitu pikirnya.