Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 18 Sebuah Keajaiban


__ADS_3

Dua bulan kemudian dokter Galen memastikan jika keadaan Ravella telah sembuh. Zarina mengucap syukur begitu pula suaminya. Setelah memastikan putri kecilnya itu telah sembuh sepenuhnya, Morgan membawa istri dan anaknya kembali ke negara X.


Kini mereka telah sampai di negara X, sopir telah menjemput mereka di bandara.


Setelah satu jam akhirnya mereka bertiga sampai di villa Morgan. keluarga kecil itu lekas turun dari mobil, sopir membawa koper mereka hingga ke dalam.


"Surprise. " suara teriakan dari sahabat dan keluarga menyambut kepulangan Morgan dan keluarga kecil nya. Zarina langsung mengenalkan Ravella pada semua keluarganya.


Tuan Kenzo langsung mengambil alih cucunya dari gendongan Morgan kemudian membawanya ke ruang tengah di ikuti yang lain.


Morgan dan istrinya berkumpul bersama sahabat di ruang tengah. Canda tawa mewarnai obrolan random mereka. Tak jarang mereka juga turut menggoda Morgan dan Zarina.


Zarina merasa malu, dia melempar kacang kearah Farasya. Farasya hanya tergelak melihat wajah kesal sang sahabat.


"Aku enggak nyangka aja kamu nikah sama duda anak satu, kalian tinggal ngadain pestanya 'kan? " tanya Farasya yang di angguki Zarina.


"Kau 'kaget kan, apalagi aku. Aku mengira Morgan selingkuh dan sempat maki maki dia sebelumnya. " cetus Zarina dengan rasa bersalahnya. Farasya kembali tergelak mendengar pengakuan sang sahabat.


"Lalu hubungan kamu dan Ezekiel gimana? " tanya Zarina yang membuat Farasya bungkam. Gadis itu menggeleng pelan kearah sang sahabat. Zarina mengerutkan kening, dia tak mengerti dengan jalan pikiran Farasya.


Farasya memilih membahas hal lain, dia enggan menanggapi hubungannya dengan Ezekiel. Zarina tak lagi mendesak sang sahabat, dia menghargai privasi Farasya.


Zarina lekas bangkit, dia menghampiri ibu mertuanya di dapur. Farasha sendiri memilih pergi ke teras samping, menenangkan dirinya di sana. Entah apa yang gadis itu pikirkan sekarang.


"Zarina telah menemukan kebahagiaan nya bersama Morgan dan Ravella. " gumam Farasya sambil tersenyum.


Drt


drt


Farasya alias Fafa mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menekan tombol hijau kemudian menyapa orang yang menghubunginya.


"Iya Paman, ada apa? " tanya Farasya.

__ADS_1


"Mami kamu tertabrak mobil dan saat ini tengah di operasi nak. " ungkap Paman Rio.


Fafa membulatkan mata, gadis itu lekas bangkit dan pamit pada Morgan dan lainnya. Dia ke luar dari kediaman Zarina, memilih memesan taksi.


Sepanjang perjalanan Fafa tampak panik dan khawatir. Tiba di rumah sakit dia langsung menuju ke ruang IGD. Paman Rio menjelaskan yang terjadi pada sang keponakan. Fokus gadis itu tertuju pada seorang pria bernama Julian.


"Terimakasih telah menolong mamiku tuan. " ujar Farasya dengan sopan.


"Sama sama. " jawab pria itu dengan singkat.


Fafa tampak panik, dia turut berdoa semoga keadaan sang mami baik baik saja. Beberapa jam kemudian dokter ke luar, Fafa langsung mendekat.


"Bagaimana keadaan mamiku dokter? " tanya Fafa tak sabaran.


"Nyonya Hernita kepalanya sempat terbentur namun kami sudah menanganinya. Saran saya jangan buat nyonya Hernita stres saat ini. " ungkap dokter panjang lebar.


"Baik dokter."


Beberapa saat berlalu mami Hernita membuka matanya. Fafa langsung mencium kening sang mami. Dia membantu sang mami bersandar kemudian duduk di sebelahnya.


"Mam, sebenarnya apa yang


terjadi? " tanya Fafa penasaran.


Nyonya Hernita langsung menjelaskan apa yang terjadi pada putrinya. Fafa tentu saja terkejut, ternyata kecelakaan mami nya ada hubungannya dengan orang tua Ezekiel.


"Mami mohon kamu putuskan hubunganmu dengan anak wanita kejam itu Fa. " pinta mami Hernita.


Fafa hanya diam, saat ini perasaannya tengah campur aduk. Di satu sisi dia mencintai Ezekiel namun di sisi lain sang mami, orang tua satu satunya yang dia miliki.


"Aku akan menjauhinya mami. " sahut Fafa sambil memaksakan senyumnya. Dia meminta sang mami beristirahat, mami Hernita mengangguk.


"Mam, aku ke luar bentar. " Fafa ke luar dari ruangan sang mami. Julian turut serta menyusul gadis itu, kini mereka berada di taman rumah sakit.

__ADS_1


Keheningan melanda kedua insan itu. Fafa mengungkapkan apa yang dia rasakan tanpa menyembunyikan. Julian mengusap kepala Fafa dengan lembut membuat gadis itu menoleh kearahnya.


"Aku pernah berada di posisimu dulu dan aku yakin kau pasti bisa melalui semuanya Fa!"


"Entahlah Jul, apa aku bisa berbicara dengan Ezekiel mengenai masalah mamiku dan maminya. Gadis itu berusaha menahan air matanya yang hampir ke luar. Julian langsung menariknya ke dalam pelukan nya. Tangisan Fafa seketika pecah dalam dekapan Julian.


Dia merasa di posisi yang sangat sulit saat ini. Jika dia menentang sang mami, itu sama saja Fafa akan membuat maminya kecewa. Fafa buru buru menghapus air matanya. Setelah tenang, mereka beranjak dari sana dan pergi ke restauran.


Sore harinya Fafa kembali sendirian, Julian pamit pulang duluan. Gadis itu segera kembali ke ruangan sang mami. Dia memilih duduk di dekat mami nya, menggenggam tangan sang mami dengan erat.


"Sayang lupakan Ezekiel, mami lebih setuju jika kamu menjalin hubungan dengan Julian. " ujar Mami Hernita penuh penekanan.


"Perasaan tak bisa di paksa mami, semuanya perlu waktu. " sahut Fafa dengan lembut.


"Mami hanya ingin yang terbaik untuk kamu sayang. " sahut mami lagi yang membuat sang anak kembali diam.


Fafa mengusap wajahnya dengan kasar. Melihat respon sang mami, mau tak mau sepertinya dia perlu mengajak Ezekiel bertemu dan membahas masalah ini. Rasanya sangat sakit jika harus mengakhiri hubungan dengan pria yang di sukai.


Fafa akan menekan egonya, dia tak boleh egois hingga menyakiti sang mami tercinta. Semuanya pasti akan baik baik saja setelah dirinya mengakhiri hubungan dengan Ezekiel.


"Mami sangat tahu jika ini keputusan yang sangat berat untuk kamu sayang. Tapi mamo benar benar tak ingin berurusan dengan keluarga Hermawan. " pungkas Mami Hernita.


Lagi lagi Fafa kembali tak berkutik setelah mendengar alasan dari maminya. Diapun memasang senyuman manisnya di depan sang mami tercinta.


"Sebaiknya mami fokus saja sama kesehatan mami. " ujar Fafa sambil tersenyum.


"Apa mami lapar atau mau


sesuatu? " tawar Fafa yang di tanggapi gelengan oleh mami Hernita.


Fafa mengangguk, dia lantas memilih duduk di sofa dan mengistirahatkan dirinya di sana. Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya. Gadis itu mengeluarkan ponselnya lalu membuka pesan baru dari Zarina. Dia lantas membalas pesan dari sang sahabat agar tak khawatir.


Setelah selesai Fafa menyimpan ponselnya ke dalam tas. Dia berharap keputusan nya ini memang yang terbaik untuk kedua pihak keluarga. Fafa hanya tak ingin sang mami kembali celaka oleh ulah keluarga Ezekiel.

__ADS_1


__ADS_2