
Sorenya orang tua Marco datang berkunjung. Nyonya Imelda memperhatikan calon menantunya dari atas sampai bawah.
"Untuk apa mami datang ke sini? " tanya Marco.
"Jadi inilah wanita pilihanmu itu Marco? " sindir Nyonya Imelda pada putranya.
Marco tentu saja marah dengan ucapan maminya barusan. Nyonya Immelda beralih menatap tajam kearah Sasha.
"Kau tak punya malu ya, seorang janda sepertimu tak pantas mendampingi putraku. " ketus nyonya Imelda dengan sinis.
"Mami." pekik Marco dengan nada tingginya. Sasha berusaha menenangkan sang calon suami.
Kini suasana tampak terasa tegang. Sasha berusaha menenangkan Marco yang tersulut emosinya.
"Mami tidak salah Marco, memang benar bukan jika calon istrimu itu bekas dari banyak pria? " ceplos Nyonya Imelda dengan nada sinisnya.
Brak
Marco menggebrak meja dengan keras. Nyonya Imelda tersentak kaget dengan tingkah putranya barusan. Sasha sendiri hanya diam, hatinya sangat sakit dengan pernyataan calon mertuanya. Masa lalu kelamnya di jadikan alasan untuk dirinya di rendahkan hingga titik terendah.
"Mami tidak akan pernah setuju jika kamu menikahi wanita murahan itu Marco. " tegas nyonya Imelda.
"Apalagi harus menerima anak dari wanita murahan itu. " pekik nyonya Imelda lagi dengan emosi tertahan.
"Cukup. " Sasha tak tahan dengan kata kata kasar dari nyonya Imelda. Jika dirinya di hina, dia akan tahan namun tidak dengan membawa putri kecilnya.
__ADS_1
"Marco, kita batalkan pernikahan kita. Aku tak sanggup menikah dengan kamu apalagi ibu kamu telah menghina Terry. " tegasnya. Sasha lekas bangkit, dia pergi meninggalkan ruang tamu.
Marco berniat mengejarnya namun di tahan sang mami. Pria itu menghempas tangan sang mami kemudian mengusirnya. Nyonya Imelda melayangkan ancamannya namun tak di pedulikan oleh Marco. Wanita paruh baya itu meninggalkan penthouse sang anak dengan emosi meledak ledak.
Skip
Hiks
hiks
Sasha menangis sesegukan di dalam kamarnya. Dia tentu saja sakit hati saat ada orang menghina putri kecilnya yang tak bersalah sama sekali. Wanita itu segera mengambil tas dan mengemas pakaiannya ke dalam koper.
"Rasanya sangat sakit sekali saat nyonya Imelda menghina putriku. " gumam Sasha lirih.
Usai berkemas wanita itu kembali duduk di atas ranjangnya. Dia pun mengabaikan gedoran dari luar pintu. Beberapa menit berlalu Sasha ke luar dari kamarnya sambil menarik koper.
Sasha menepis tangan Marco yang mencekal tangannya. Wanita itu menatap kecewa kearah sang kekasih. Tak di pungkiri Marco sakit melihat calon istrinya menangis seperti sekarang ini.
"Apa yang di katakan ibumu benar Marco. Hanya saja aku tak terima saat dia menghina Terry dengan kata kata kotornya. " geram Sasha.
"Mengenai rencana pernikahan kita, sebaiknya batalkan saja. Aku tak akan sanggup jika putriku berada di bawah kebencian ibu kamu! "
"Sayang, aku mohon jangan gegabah mengambil keputusan. Kita masih bisa menikah tanpa restu mami, setelah menikah kita bisa pindah. " bujuk Marco.
Sasha menggeleng, wanita itu tetap kekeh dengan keputusannya. Dia tak ingin egois, demi kebaikan bersama Sasha memilih mundur. Dia lantas memasuki kamar putrinya, wanita itu membereskan pakaian sang anak.
__ADS_1
Marco semakin frustrasi, pria itu menarik calon istrinya. Lalu memeluk Sasha dengan erat mengabaikan penolakan dari Sasha. Tubuh Sasha seketika lemas, wanita itu terisak dalam pelukan Marco.
Pria tampan itu menggendong wanitanya kemudian membawanya ke atas ranjang. Keduanya masih saling melirik satu sama lain.
"Hatiku sakit Marco, aku tak terima saat ibu kamu menghina Terry. Putriku tidak salah apa apa, semuanya salahku. " racau Sasha.
"Maafin sikap Mami barusan sayang, aku juga sangat marah dan kecewa dengan sikap mami! "
Marco mengeratkan pelukannya, dia hanya bisa mengumumkan kata maaf pada calon istri nya.
"Mama! "
Keduanya melepaskan diri. Sasha menoleh, segera merentangkan tangan saat putrinya mendekat. Hot mommy itu langsung memeluk sang anak dan menciumi nya.
"Kenapa mama menangis? " tanya Terry dengan polosnya.
"Mama tak apa apa sayang. " balas Sasha berbohong. Sasha kembali menciumi pucuk kepala putri tersayangnya. Marco memeluk dua orang tersayang nya itu.
Mereka lekas melepaskan pelukannya. Marco memperhatikan saat Terry menghapus air mata Sasha dengan lembut. Pria itu tersenyum tipis, dia merasa bangga dengan sikap manis Terry barusan dan ini semua berkat didikan Sasha.
"Mama lupa ya, bukankah mama pernah bilang jika tak akan menangis lagi tapi ini apa? " omel Terry dengan bibir mengerucut.
Sasha menghapus air matanya, tersenyum tipis mendengar omelan sang anak. Wanita itu merasa gemas dengan tingkah putri kecilnya. "Maafin mama ya sayang, mama telah ingkar janji! "
"Iya Terry maafin. " Sasha pun membantunya duduk di ranjang. Ketiganya sudah seperti keluarga kecilnya. Kedua mata Sasha kembali berkaca kaca sambil memperhatikan sang anak.
__ADS_1
Wanita itu berusaha menghalau rasa sesak dalam dadanya. Dia harus kuat demi sang anak dalam menghadapi cemoohan orang orang padanya. Marco sendiri merasa sesak melihat calon istrinya saat ini tengah rapuh. Pria itu segera mengenggam tangan Sasha dan berusaha menguatkannya.
Keduanya kembali memperhatikan si kecil Terry yang tengah bicara.