
Beberapa hari kemudian
Theo mengajak keluarga kecilnya liburan ke pulau. Saat ini mereka telah berada di dalam pesawat. Vivian sempat mengirimkan beberapa botol asi ke villa keluarga Brighton seperti biasanya sebelum mereka berangkat.
Tiba di negara N, mereka langsung pergi ke Resort mewah yang terletak di dekat pantai.
Setelah sampai mereka langsung istirahat. Theo juga mengundang dua sahabatnya yang tinggal di negara N.
Siangnya, Vivian tampak bermalas malasan di atas ranjang. Wanita itu memeluk tubuh kekar Theo, suaminya.
"Istirahat saja sayang. " ucap Theo dengan lembut.
"Huum. "
"Kau tahu Vi, selama ini aku mencintai kamu. Aku tak berani mengungkapkan perasaanku padamu. "
Vivian kembali membuka matanya. Wanita itu lekas bangkit, terkejut mendengar pengakuan sang suami. Theo sendiri mengaruk tengkuknya yang tak gatal. Pria itu tampak salah tingkah di perhatikan istrinya.
"Kau mencintai wanita yang salah Theo. " ucap Vivian.
Theo justru menggeleng, dia menerima Vivian apa adanya. Pria itu berusaha menyakinkan istrinya jika dirinya benar benar tulus. Vivian mengangguk, dia mencoba menerima Theo dan akan menjadi istri yang baik untuk sang suami.
"Ya sudah kita ke luar yuk. " ajaknya. Keduanya ke luar dari kamar dan turun ke bawah. Dia tak mendapati Kenzo di ruang tamu, Theo segera memeriksa ponselnya.
"Rachel dan Gio mengajak Kenzo dan Syera ke pantai. " ujar Theo memberitahu sang istri.
Vivian merasa lega mendengar pernyataan sang suami. Keduanya memilih ke luar dari sana dan bersantai di teras. Keduanya membahas mengenai masa masa kuliah mereka dulu.
"Oh ya Theo, kapan kapan antar aku ya menemui Essie untuk meminta maaf padanya. " ujar Vivian.
"Kau yakin? " tanya Theo yang di angguki istrinya. Pria itu akan selalu mendukung keputusan istrinya. Vivian membalas genggaman sang suami lalu beranjak dan mengajaknya ke luar.
cr pinteres
__ADS_1
Di pantai, keduanya saling kejar kejaran. Seperti biasa Theo akan menjahili Vivian dalam situasi apapun.
Theo berhenti dengan nafas ngos ngosan. Vivi langsung mencubiti lengan suaminya itu. Tawa renyah terdengar dari bibir keduanya. Mereka langsung duduk di atas pasir, menatap lurus kearah pantai.
"Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin lebih dulu mencintai kamu Theo. " ucap Vivian sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana perasaanmu terhadap Erland? " tanya Theo.
"Aku sudah melupakannya. Dia hanya ayah kandung dari putriku Anyelir. " ungkap Vivian.
Theo tidak akan memaksa istrinya untuk mencintai dirinya. Lagipula dia sangat tahu siapa pemilik hati Vivian saat ini. Dia akan menjadi obat untuk setiap luka yang di rasakan Vivian.
"Aku ingin berubah Theo. Tak ingin mengunakan egoku hanya demi kesenangan diriku sendiri. "
Theo menanggapinya dengan senyuman. Pria itu hanya bisa mendukung apapun yang di inginkan Vivian. Dia langsung merengkuh tubuh istrinya dari samping.
Tak lama Rachel dan lainnya datang menyusul. Mereka duduk di dekat Vivian dan Theo. Vivian sendiri mengusap kepala putra angkatnya penuh kasih sayang.
"Tak perlu bersedih terus Vi, semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua. Oh ya gimana kalau besok kita shopping bareng. " ajak Rachel.
Sementara para pria memilih mengawasi anak anak masing masing. Samar samar suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Vivian mengeluarkan benda itu dari dalam tas kecilnya.
Deg
From xxx
Aku kasih kau pilihan?
Temui aku besok siang, maka aku izinkan kamu bertemu Anyelir atau jika menolak aku akan membawa Anyelir pergi jauh!
from Erland
Vivi langsung mengigit bibirnya. Wanita itu tampak dilema setelah membaca pesan dari Erland. Semua orang tampak memperhatikannya. Theo mengambil alih ponsel istrinya, turut membaca pesan itu.
"Si..- "
__ADS_1
"Jangan mengumpat Theo. " tegur Gio dengan raut datarnya.
Theo mengatupkan bibirnya rapat. Dia mengembalikan ponsel milik sang istri. Kini Rachel dan suaminya hanya bisa melempar lirikan satu sama lain.
"Sebaiknya kita kembali saja ke Villa. Kita bicarakan masalah ini di sana. " ujar Gio dengan bijak. Mereka semua lekas bangkit dan beranjak dari sana.
Skip
Villa
Dua pasangan itu tengah berbicara di ruang tamu. Sementara anak anak berada di dalam kamar masing masing. Theo kembali melirik istrinya dengan tatapan lekat.
"Sayang, apa keputusan Kamu? " tanya Theo.
"Entahlah, aku bingung. " gumam Vivian lirih. Wanita itu benar benar dilema saat ini. Di satu sisi dia ingin bertemu dengan Anyelir namun di sisi lain enggan menemui Erland.
Rachel beranjak pergi meninggalkan mereka. Tak lama wanita itu kembali membawakan minuman, menaruh nya di atas meja. Vivian segera meminum tehnya sambil berpikir dengan tenang.
Setelah beberapa saat dia pamit pergi ke kamar. Tiba di kamar wanita itu meraih kembali ponselnya. Dia langsung menghubungi Erland tanpa basa basi.
"Sebenarnya apa mau kamu Er, kenapa kamu membawa Anyelir dalam masalah kita? " cecar Vivian dengan tatapan datarnya.
"Kau ingin tahu, apa yang aku mau hm? " tanya Erland dengan seringai liciknya.
"Kalau kau ingin tahu, temui aku besok. " tegas Erland.
"Maaf tapi aku tidak lagi di
mansion. " ujar Vivian.
Setelah itu dia mengakhiri sambungan. Wanita itu terlanjur kesal dengan sikap plin plan yang di perlihatkan Erland. Vivian menutup wajahnya mengunakan telapak tangannya.
"Aku harus apa sekarang. " ujar Vivian lirih. Dia merasa hidupnya seakan tenang, Erland terus mengusiknya meski keduanya telah bercerai. Vivi merasa ada yang salah dengan mantan suaminya itu.
"Kenapa kamu seperti ini Erland, bukankah kau membenciku? "
__ADS_1