
Saat ini keluarga besar Brighton dan keluarga besar Romanov telah berkumpul pagi ini. Mereka semua memberikan selamat atas kehamilan Zarina saat ini. Morgan memeluk posesif sang istri, pria itu tampak bahagia.
Suasana tampak ramai apalagi kehadiran dan tingkah lucu Ravella dan Alister. Para wanita di bantu pelayan tengah sibuk membuat makanan dan minuman segar seperti waffle strawberry, puding, pancake, ayam goreng, nasgor dan beberapa minuman segar.
Morgan dan istrinya memilih duduk di sofa. Pria itu menoleh ke samping menatap lekat wajah cantik istrinya. Merasa di perhatikan Zarina menoleh, bibir keduanya bertemu dan saling memagut satu sama lain.
Morgan mengakhiri ciumannya, hatinya membuncah bahagia setelah kehamilan istrinya di umumkan.
"Mulai sekarang jangan melakukan pekerjaan berat baby, kalau ingin sesuatu bilang sama aku. " ucap Morgan sambil tersenyum.
"Iya sayang aku mengerti! " sahut Zarina dengan senyuman tipisnya.
Zarina sendiri kini menikmati puding buatan sang mommy. Perhatiannya teralihkan, wanita itu tak menemukan sosok sang sahabat. Dia berhenti makan, lalu meraih ponsel nya. Zarina berusaha menghubungi nomor Fafa namun tak bisa di jawab.
Monica datang bersama Samuel. Morgan langsung menatap tajam pria yang datang bersama adik perempuannya itu.
"Tatapan mu seperti ingin menelan aku calon kakak ipar. " celetuk Samuel dengan tampang lempengnya.
Morgan mendengus pelan, dia benar benar curiga dengan pria yang menjadi kekasih adiknya itu. Zarina langsung menegur sang suami, wanita hamil itu mengobrol dengan Monica sambil makan.
"Aku akan terus mengawasimu. Jika kamu menyakiti adikku, awas saja kamu Sam! " geram Morgan dengan wajah datarnya.
"Kak Morgan, aku sudah besar ya. " protes Monica pada kakaknya itu.
"Aku hanya ingin melindungimu gadis manja. " sahut Morgan. Orang tua mereka hanya menggeleng melihat perdebatan Morgan dan Monica. Monica berdecak pelan, dia memilih bersandar di tubuh sang kekasih.
Samuel terkekeh pelan, dia sama sekali tak takut dengan tatapan calon kakak iparnya. Pria itu lekas bangkit, mengajak sang kekasih pergi ke taman samping.
cr pinterest
Mereka duduk di Gazebo, Monica bersandar di dada bidang Samuel. Keduanya tengah mengobrol ringan membahas masa depan.
"Gimana kalau kita menikahnya bersamaan dengan pernikahan kakak kamu? " tanya Sam meminta pendapat gadisnya.
__ADS_1
"Aku sih setuju aja, tinggal kak Sam sendiri yang minta izin pada daddy dan mommy. " balas Monica dengan santai.
"Oke nanti aku akan bilang sama calon daddy mertua. " sahutnya.
Monica sendiri sebenarnya belum ingin terburu buru menikah. Sudah tiga kali Samuel mengajaknya menikah, dengan alasan konyol yang membuatnya bergidik.
Sam tak sabar ingin unboxing
dirinya.
Monica tak bisa membayangkan hal itu. Selama berpacaran, keduanya juga hanya berciuman dan sebatas menyentuh buah persik Monica. Monica begitu pintar menjaga dirinya, dia terinspirasi dengan sang kakak ipar Zarina.
Bercint4 setelah resmi menikah.
Cup
Samuel mencium kening gadisnya dengan penuh kelembutan. Keduanya saling berpandangan satu sama lain kemudian berciuman dengan mesra.
Pria tampan itu mengakhiri ciumannya, mengusap lembut bibir Monica. Monica kembali membenamkan kepalanya di dada calon suaminya yang terbalut kemeja.
"Ya, karena kamu calon istriku yang berharga Sweetie. Aku telah berjanji pada Morgan agar menjaga kamu hingga pernikahan kita tiba. " sahut Samuel.
Monica terharu dengan ucapan Samuel barusan. Gadis itu memeluk erat tubuh sang kekasih. Samuel membalas pelukan sang kekasih dengan mesra. Setelah puas, dia melepaskan pelukannya dan mengajak Monica kembali ke dalam.
"Tante, Om rencananya saya ingin menikahi Monica berbarengan dengan pesta pernikahan Morgan dan Zarina. " ungkap Samuel.
Daddy Kenzo dan nyonya Amelia saling melirik satu sama lain. Mereka tentu saja setuju dengan ide yang di sampaikan Samuel barusan.
"Kami setuju Sam. Tante dan om akan menyiapkan pestanya segera. " ujar nyonya Amelia sambil tersenyum. Monica mengucapkan terimakasih pada kedua orang tuanya.
Samuel tentu saja tersenyum lebar, dia telah mendapat persetujuan dari kedua calon mertuanya. Zarina tentu saja bahagia dengan rencana pernikahan sang adik ipar.
Mereka kembali menikmati hidangan yang tersedia. Zarina asyik memakan buah apel yang telah di kupas dan di potong segiempat. Dia hanya diam saja saat orang tuanya tengah asyik mengobrol.
Sore harinya, Zarina pergi ke kamar. Tubuhnya terasa lengket saat ini. Wanita itu lantas masuk ke dalam kamar mandi di susul suaminya.
__ADS_1
Kedua insan itu asyik bermain di dalam jakuzi. Suara merdu itu menggema di dalam sana. Satu jam berlalu keduanya ke luar dan segera memakai pakaian.
"Nyebelin kamu sayang. " Zarina mencubit perut sang suami. Morgan terkekeh pelan, pria itu membawa istrinya ke dalam pelukannya. Tangan pria itu menyentuh perut rata sang istri, mengusapnya dengan lembut.
Zarina menikmati sentuhan tangan sang suami di atas perutnya. Morgan menyusupkan kepalanya di leher sang istri, menikmati aroma mawar dari tubuh wanitanya.
"Kita ke luar lagi yuk sayang. " ajak Zarina pada suaminya.
"Hm. " Morgan menjauhkan wajahnya lalu menurunkan sang istri. Mereka memutuskan ke luar dari kamar, menuruni tangga dan pergi ke ruang tamu.
Teringat sesuatu Morgan pergi ke dapur dan membuat susu ibu hamil. Setelah selesai pria itu kembali dan membawanya ke ruang tengah, menyerahkan pada sang istri. Zarina lekas meneguk susu yang di bawakan suaminya.
Di taruhnya gelas kosong di atas meja. Zarina memperhatikan keluarganya satu persatu. Sebelum pulang, mommy dan lainnya membereskan meja.
"Sayang sisa puding dan waffle mommy taruh dalam kulkas. " ungkap mommy yang di angguki oleh Zarina.
"Kami semua pulang dulu ya
sayang. "
"Hati hati mommy. " ucap Zarina yang di tanggapi Mommy dengan senyuman. Wanita hamil itu mengantar keluarganya hingga ke depan. Setelah kepergian keluarganya, dia kembali ke dalam.
Wanita itu duduk berseberangan dari suaminya. Zarina tampak mengulas senyumnya memperhatikan interaksi Morgan dan Ravella. Morgan mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Daddy, apa mommy Agista masih marah sama aku? " tanya Ravella dengan polosnya.
Morgan mengatupkan bibirnya. Terdengar suara helaan nafas panjang. Dia berusaha memberikan pengertian untuk sang anak dengan sabar.
"Daddy juga enggak tahu sayang, apa kamu ingin bertemu dengan mommy Agista? " tanya Morgan.
Ravella menggeleng pelan. Entah apa yang di pikirkan bocah manis itu. Zarina langsung bangkit, duduk di dekat putrinya itu.
"Kalau ingin bertemu dengan mommy Agis, mommy Zarin bisa menemani kamu sayang bagaimana? " tawar Mommy Zarina dengan lembut.
"Enggak usah mommy, Vella masih takut jika mommy Agis marah marah sama Vella lagi seperti dulu. " ungkapnya.
__ADS_1
Hati Morgan berdenyut nyeri mendengar pengakuan putrinya. Pria itu langsung memeluk putrinya itu, berusaha menahan rasa amarahnya dalam dada terhadap Agista. Zarina sendiri berusaha menghibur putri sambungnya, dia tak ingin putrinya itu membenci ibu kandungnya.