
Beberapa tahun kemudian
Seorang pria berdiri di balkon, menatap pemandangan dari balik kaca yang membatasinya.
"Ada yang kau pikirkan Rav? " ujar seorang pria.
"Sudah lima tahun berlalu, apa keluargaku akan mengenali diriku Lex? "
Pria itu Ravindra alias Morgan yang telah selamat. Dia terpaksa operasi pada bagian wajahnya yang rusak. Alex lekas bangkit, dia menghampiri temannya itu lalu menepuk pundak Ravindra.
"Sudah saatnya kau kembali Gan! "
Morgan terdiam, dia sangat takut jika semua orang tak mengenali dirinya terutama istri dan kedua orang tuanya. Alex terus memberikan nasehatnya pada sang sahabat.
Pria itu mengangguk, berjalan ke luar dari Mansion mewahnya. Dia berhasil mendirikan perusahaan barunya berkat dukungan Alex.
Kini Morgan melajukan roda empatnya. Tiga puluh menit pria itu menghentikan mobilnya di luar kediaman Brighton. Pria itu turun segera turun, dia menatap Zarina yang asyik menyiram tanaman.
"Zarin. " gumam Morgan dengan mata berkaca kaca.
"Istrinya semakin cantik dan seksi. " batin pria itu. Morgan kembali ke mobil, memasuki halaman luas kediaman Brighton.
Tin
tin
Zarina mengerutkan kening melihat mobil asing di depannya. Wanita itu lekas mematikan kran air, Morgan berjalan mendekatinya.
"Maaf Tuan, Anda cari siapa ya? " tanya Zarina dengan nada ketusnya.
"Tentu saja mencarimu Zarina. " sahut Morgan dengan senyuman miringnya.
Zarina merasa tak mengenali pria di depannya ini. Terbesit ada ide gila dalam otaknya. Entah apa yang ingin hot mommy itu lakukan.
"Maaf Tuan, saya harus masuk. Sepertinya suami saya telah menunggu saya. " ujar Zarina dengan raut paniknya.
Morgan membulatkan mata, pikiran buruk mulai bermunculan dalam kepala pria itu. Pria itu menatap lekat wajah istrinya dengan tatapan tajam nya.
"Sial jangan bilang Zarina menikah lagi. " batinnya dalam hati.
Zarina lekas masuk ke dalam mansion. Morgan lekas menyusulnya hingga ke dalam. Wanita itu berusaha mengusir pria gila yang menganggunya itu.
"Kau ini siapa, berani beraninya masuk ke mansionku? " pekik Zarina mulai jengkel.
"Kau tak mengenalku sayang? "
__ADS_1
"Tidak. " ketus Zarina dengan jengkel.
Morgan menghela nafas panjang. Keduanya pun lantas duduk berhadapan di sofa. Zarina melipat tangannya di dada, menatap pria asing di depannya dengan pandangan curiga nya.
"Aku Morgan sayang, suamimu. " ungkap Morgan.
"What? "
"Haha gila kamu ya, jangan halu tuan. " pekik Zarina emosi. Wanita itu tentu saja emosi, mana ada pria yang mengaku sebagai suaminya.
Memang gila bukan?
Morgan berusaha menjelaskan apa yang terjadi beberapa tahun lalu pada sang istri. Zarina tentu saja tak mudah percaya begitu saja dengannya.
"Harusnya aku dapat kecupan, atau paling tidak jatah ranjang. Ini malah dapat omelan dan tuduhan. " gerutu Morgan dalam hatinya.
Sore harinya si kembar pulang,kedua bocah itu menghampiri sang mommy tercinta.
Deg
Morgan tertegun melihat duplikat dirinya berada di depannya. Dia menyadari jika kedua bocah di depannya ini memang anak anaknya.
"Mom, siapa uncle tampan ini? " tunjuk gadis manis dengan kepang duanya itu.
"Dia bukan siapa siapa Essie, sini sayang. " Zarina menarik putrinya, menciumi sang anak dengan penuh kasih sayang. Si tampan juga memilih duduk di sebelah sang mommy sambil menatap lurus kearah Morgan.
Matanya membulat sempurna, dia hendak berbicara namun anak anaknya justru memeluk Morgan.
"Anak anak gak bisa di ajak kerjasama. " omelnya.
"Siapa nama kalian sayang? " Morgan pada kedua anaknya.
"Aku Erlando Brighton, dan si bungsu ini Esther Brighton Dad. " cetus Erland tanpa basa basi.
Morgan menciumi kedua anaknya secara bergantian. Esther memiliki nama panggilan manis yaitu Essie. Bocah cantik itu menangis dalam pelukan daddy kandungnya. Merasakan bahunya basah, Morgan melepaskan pelukannya pada Erland lalu menjauhkan tubuh Essie.
"Kenapa kamu menangis Essie sayang? "
"Sudah sangat lama kami ingin bertemu dengan daddy. Apa yang terjadi daddy, kenapa daddy meninggalkan kami? " tanya Essie dengan polosnya.
"Maafin Daddy nak, kejadian besar membuat daddy sempat mengalami luka parah bagian wajah hingga harus operasi seperti sekarang. " ungkap Morgan.
Morgan merasa sesak mendengar setiap kalimat yang di ucapkan sang anak. Dia merasa sangat bersalah pada twins E yang kurang kasih sayang darinya.
Pria itu kembali menatap kearah istrinya. Zarina memilih bangkit, dia meninggalkan ruang tamu. Terdengar suara helaan nafas panjang.
__ADS_1
"Sebaiknya Daddy bujuk mommy, kami akan ke kamar dulu. " sahut Erland. Pria kecil itu menarik adik lalu mengajaknya ke lantai dua.
Morgan lekas bangkit, menyusul istrinya ke teras samping. Pria itu menghampiri istri tercintanya, wanita yang sangat dia rindukan. Morgan berlutut di depannya, menggenggam tangan sang istri.
"Enggak usah sentuh! "
"Kau telah ingkar janji Tuan Mor eh Tuan Ravindra. " sinis Zarina.
"Seharusnya kau tak perlu kembali, aku sudah bahagia dengan Erland dan Essie. "
Morgan mengatupkan bibirnya. Terlihat jelas di mata sang istri terlihat ada kemarahan di dalamnya.
"Aku minta maaf, maaf tidak berada di sisimu saat berjuang melahirkan twins. " sesal Morgan. Zarina menarik tangannya dengan cepat. Dia sangat marah dengan pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Tetaplah jadi Ravindra, lagipula semuanya telah berubah. Selama lima tahun hanya ada mommy dan Daddy serta sahabatku yang selalu mendukungku. " ungkap Zarina dengan tatapan datar nya.
Zarina lekas bangkit, dia memilih menghindari pria yang merupakan suaminya namun dengan wajah berbeda. Morgan sendiri duduk di kursi, menatap kepergian sang istri dalam sendu.
Tampak rasa bersalah kini bersarang dalam benaknya. Dia tahu jika istrinya itu akan sangat sulit untuk memaafkan dirinya.
Morgan bangkit, menyusul istrinya ke ruang tamu. Zarina memeluk kedua mertuanya yang datang berkunjung. Kedua paruh baya itu terkejut dengan sosok asing yang mendekati mereka.
"Rin, siapa pria itu nak? " tanya Mommy Amelia.
"Dia Ravindra. " ucap Zarina singkat tanpa menjelaskan siapa Ravindra sebenarnya.
Morgan sendiri langsung menjelaskan kebenaran pada kedua orang tuanya. Dia tak membiarkan sang istri menyelanya saat ini. Setelah melihat bukti video yang ditunjukkan Morgan, Mommy Amel langsung menangis. Dia tak menyangka sang anak masih hidup dan telah kembali.
"Maaf mom, dad aku telah membuat kalian semua menderita. " sesal Morgan.
Mommy Amel menoleh kearah sang menantu. Zarina hanya diam saja tak mengatakan apapun, raut wajahnya tampak datar.
"Aku sudah nyaman dengan kesendirianku mom, sekarang dia hanyalah orang asing. " ceplos Zarina dengan nada penuh kebencian.
Morgan tertegun, dia tentu saja tertampar dengan pernyataan Zarina barusan. Dia hanya diam saja saat wanita nya meluapkan emosinya. Wanita itu mengangkat tangannya, tak ada cincin pernikahan di jadi manisnya.
"Cincin itu sudah aku buang, jadi aku tak ada urusannya dengan Ravindra atau siapapun itu. " sahutnya.
Zarina lekas bangkit, meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Wanita itu langsung menangis di dalam sana, meluapkan kesedihan dan kekecewaan yang dia rasakan.
Erland dan Essie datang menghampiri sang mommy. Kedua bocah itu tampak memeluk mommy mereka.
"Kenapa menangis mommy? " tanya Essie dengan polosnya.
"Apa Daddy yang membuat mommy menangis? " kini giliran Erland yang bertanya.
__ADS_1
Zarina hanya diam saja, wanita itu menangis tergugu. Erland memeluk sang mommy tercinta. Kedua bocah itu tak suka melihat sang mommy menangis.