Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 52 Nolan Adler Brighton


__ADS_3

Tepat bulan ke sembilan, Zarina berhasil melahirkan anak bungsunya yang di beri nama Nolan Adler Brighton. Semua orang tampak bersuka cita menyambut kelahiran Nolan. Zarina sendiri menciumi putra tampannya bergantian dengan sang suami tercinta.


Ravella langsung mendekat dan menciumi pipi adik bungsunya. Remaja itu begitu bahagia memiliki adik selain Erland dan Essie. Zarina mengulas senyumnya, melihat putri sambungnya tampak menerima kehadiran Nolan.


Kini keluarga kecil Zarina dan Morgan telah lengkap sekarang. Morgan mengambil alih putranya yang tertidur kemudian menaruhnya di dalam box bayi dengan hati hati.


Fokus pria itu kembali pada istri dan putrinya. Ravella mendekati sang mommy, mengenggam tangan Zarina lalu menciumnya. "Mommy pasti lelah, sekarang mommy istirahat. Biar adik bayi yang jaga aku dan daddy. " ucap Ravella sambil tersenyum.


"Terimakasih sayang. " Zarina mengulas senyumnya, dia lekas berbaring kembali di ranjangnya. Ravella sendiri duduk di sofa di temani sang daddy. Morgan asyik mengobrol dengan putrinya dengan santai.


Sore harinya keluarga kecil itu pulang ke rumah. Zarina menginginkan untuk cepat cepat pulang bersama si kecil. Pasangan suami istri itu lekas pergi ke kamar lebih dulu. Ravella menghampiri oma dan opanya di ruang tamu.


"Oma, Opa ada apa ini? " tanya Ravella.


"Sayang, mommy Agista ingin bicara sama kamu. " ujar oma pada sang cucu.


"Untuk apa Oma, Mommy Agista kemarin saja marah marah sama aku. Mommy lebih baik fokus saja pada Grace, putri kesayangan mommy. " cetus Ravella. Dia meluapkam apa yang di rasakan nya selama ini saat tinggal bersama ibu kandung dan keluarga baru ibunya.


Semua orang tercengang mendengar pernyataan Ravella barusan. Agista langsung melototi putri kandungnya itu yang membuat Vella memalingkan wajahnya. Remaja cantik itu mengusap wajahnya lalu melirik sang mommy.


"Tolong jangan buat keributan mommy, adik bayi tentu saja akan terganggu nantinya. " sahut Ravella.


"Sekarang kamu sudah berani sama mommy, apa ini semua karena pengaruh ibu sambungmu itu? " tuduh Agista dengan tatapan tajam nya.


Ravella tentu saja takut dengan tatapan sang ibu sambung. Oma Amel langsung menegur mantan menantunya itu.

__ADS_1


"Jika hanya membuat keributan sebaiknya pergi dari sini Agista. Ravella sudah menemukan kebahagiaan di sini. " geram nyonya Amel pada mantan menantunya itu.


"Tante, Vella tetaplah putriku dan akulah yang melahirkannya dulu. " sahut Agista tak mau kalah.


"Cukup mommy, sebaiknya mommy pergi saja. " pekik Ravella. Gadis remaja itu beranjak dari sana dan pergi meninggalkan kedua nenek dan mommy nya. Dia mengabaikan teriakan Agista yang memanggil namanya.



cklek


Ravella masuk ke dalam kamarnya yang serba berwarna merah muda. Gadis remaja itu langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Hiks


Ravella tentu saja sangat kecewa dengan nada bicara sang ibu kandung padanya. Kini dia menangis sesegukan di dalam kamarnya. Beberapa saat berlalu Vella menghapus air matanya. Kali ini dia hanya memendamnya sendirian tanpa berbicara pada mommy Zarina dan daddy nya.


tok


tok


"Masuk. "


Essie memasuki kamar kakak sulungnya. Gadis cilik itu lekas naik ke atas ranjang, duduk di sebelah sang kakak. Vella lekas bangun, duduk dengan tetap menghadap kearah adiknya. Essie pun memperhatikan kakaknya dengan lekat.


"Ada apa dek? "

__ADS_1


"Ini kak, kotak musik punya kakak berwarna pink sedangkan aku berwarna oranye. " jawabnya sambil menyerahkan kotak musik.


Vella menerimanya, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dia langsung memainkan kotak musiknya. "Kamu dapat dari mana? " tanya Vella.


"Dari om Marco. Om tampan datang bareng tante Sasha mengantarkan undangan pesta pernikahan. " jawab Essie dengan ceplas ceplos.


 "Kotak musiknya bagus. " sahut Vella yang di angguki Essie. Keduanya kembali berbaring sambil memainkan kita musik. Dua bocah beda usia itu asyik mengobrol ringan di dalam kamar. Celotehan


Essie mampu menghibur Vella yang tengah bersedih. Tawa renyah terdengar dari bibir Ravella.


Dia merasa gemas dengan adik perempuannya itu. Ravella mematikan kotak musiknya kemudian memeluk erat tubuh Essie dengan gemas. Essie terkekeh pelan, membalas pelukan sang kakak tercinta.


"Maafin kakak ya dek, dulu kakak nakal sama kamu dan Erland. " bisik Ravella menyesal.


"Ish kakak. " Essie melepaskan pelukannya. Bibirnya mengerucut sebal menatap kakaknya itu.


"Kak Vella sudah minta maaf, kenapa di ulangi lagi sih. " protesnya yang mendapat tanggapan tawa oleh Ravella. Keduanya lekas bangun, memutuskan ke kamar sang adik bayi.


Zarina meminta kedua putrinya diam, lalu menyuruh Vella dan Essie mendekat. Kedua bocah itu mendekat, memperhatikan adik mereka yang terlelap dalam box bayi.


"Mommy, aku harap Nolan tidak menyebalkan seperti kak Erland. " ucap Essie pelan. Zarina tertawa mendengar omelan putrinya. Ravella sendiri mengusap kepala sang adik penuh kasih sayang.


"Yuk ke luar, kita temani Erland yang kesepian. " ujar Vella dengan jahil. Essie mengangguk, masing masing mencium pipi sang mommy kemudian ke luar dari kamar Zarina.


Zarina hanya menggeleng melihat kelakuan kedua putrinya yang jahil. Meski begitu dia sangat bahagia lihat mereka akur satu sama lainnya. Fokusnya kembali tertuju pada si tampan yang tertidur di box bayi.

__ADS_1


"Lihat sayang ketiga kakak kamu sangat jahil, mommy harap kelak kamu juga akur dengan ketiga kakak kamu! "


__ADS_2