Nona Galak & Tuan Posesif

Nona Galak & Tuan Posesif
Bab 88 Season 2 Part 26 Kekhawatiran Savero


__ADS_3

Sementara itu Chelsea menemui kakaknya dan menjelaskan apa yang terjadi semalam di hotel. Savero tentu saja merasa bersalah pada Essie atas tuduhannya yang tak berdasar.


Chelsea langsung pergi dari penthouse kakaknya. Savero mengusap wajahnya kasar, pria itu lekas mengeluarkan ponselnya.


"Dia tak bisa di hubungi, jangan jangan? - " Pikiran buruk kini terbayang dalam kepalanya. Pria tampan itu lekas bangkit dan ke luar dari penthouse.


Brum


Lamborghini merah itu melaju dengan kencang membelah jalanan yang terasa ramai.


"Aku harap Essie tak melakukan hal gila. " gumamnya penuh harap.


Tiba di apartemen Essie, pria itu segera turun dari mobilnya. matanya membuat sempurna melihat seorang pria berusaha menarik Essie pergi. Savero lekas mendekat, mencengkram kaos pria tersebut kemudian menghantam nya dengan tinjuannya.


Essie terkejut melihat kehadiran Savero lagi. Wanita itu lekas menghentikan perkelahian tersebut. Dia langsung memeluk Savero, Savero seketika diam namun tatapan nya tetap tajam.


"Hentikan Vero, kau justru akan menambah masalah baru jika berurusan dengan Dion dan keluarganya. " gumam Essie.


Wanita itu melepaskan pelukannya. Savero lekas menariknya masuk ke dalam. Pria itu langsung memeluknya dengan erat. Essie tentu saja terkejut dengan apa yang di lakukan Savero.


Essie membalas pelukan Savero tak kalah eratnya. Dia masih takut dengan tindakan nekat dari Dion tadi.


Savero meregangkan pelukannya, menatap lekat wajah cantik Essie kemudian mendaratkan ciuman tepat di bibirnya. Essie memejamkan mata, membalas ciuman dari Savero.


Tak lama pria itu mengakhiri ciumannya, dia lekas membawa Essie ke ruang tamu.


"Siapa pria itu Essie? " tanya Savero.


"Mantan teman kencanku. Aku mengakhiri hubungan kami karena dia ketahuan lari dari tanggung jawabnya menikahi perempuan yang di hamilinya. " ungkap Essie.


"Aku takut, hal itu terjadi padaku. " ucap Essie dengan tatapan sendunya. Savero mengenggam tangannya erat, dia berusaha menenangkan Essie.


"Besok, kita temui orang tua kamu. " ujar Savero. Essie terkejut mendengar pernyataan Savero barusan. Wanita itu menggeleng, dia tak sanggup melihat kemarahan daddy Morgan. Namun Savero tetap meyakinkan jika semuanya akan baik baik saja.


Savero menariknya ke dalam pelukannya. Pria itu menciumi pucuk kepala Essie. Essie hanya mampu menangis dalam dekapan Savero.


"Maafin aku Daddy, aku telah mengecewakan kamu dan


mommy. " batin Essie.

__ADS_1


Savero merutuki kebodohannya.Dia telah menghancurkan kehidupan wanita yang tak bersalah. Harusnya dia bisa menahan nafsunya akibat obat sia4l4n yang di masukkan ke dalam minuman oleh Tara. Pria itu melepaskan pelukannya, menghapus air mata Essie.


"Kita akan sama sama menghadapi orang tua kamu. " tegas Savero. Essie menghela nafas panjang kemudian mengangguk kecil. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan nyaman.


Sore tepat pukul tiga, Essie memilih berenang bersama Savero. Wanita itu masih menjaga sedikit jarak dari pria yang menjadi calon suaminya. Dia membenamkan tubuhnya ke dalam air kemudian muncul ke permukaan. Essie tampak tenang setelah berenang.


Kini dia berada di sudut kolam dengan Savero memeluknya dari belakang.


"Bagaimana perasaanmu


sekarang? " tanya Savero.


"Jauh lebih baik, hanya saja dari mana Dion tahu apartemen aku? "


Savero menciumi bahu polos wanitanya. Pria itu kini bercerita membahas mendiang kekasihnya pada Essie.Essie menoleh, menatap lekat wajah tampan di hadapannya saat ini.


"Aku enggak yakin bisa membantumu melupakan Anya! " ucap Essie penuh keraguan.


"Mungkin bisa, setelah kejadian kemarin di mana kita menyatu, pandanganku terhadapmu


berubah! "


"Anya tetaplah Anya dan aku tetaplah aku. Dua wanita yang memiliki karakter berbeda Vero. Aku harap kau tak menyamakan aku dengan mendiang Anya! "


"Beri aku kesempatan Essie, aku akan berusaha mencintai dan melindungi kamu. Kita buka lembaran baru bersama sama! " bisik Savero.


Essie hanya diam saja. Banyak keraguan di dalam dirinya. Setelah beberapa menit dia mengangguk sebagai jawaban. Savero bernafas lega mendapati Essie memberinya kesempatan.


Keduanya segera naik ke atas. Essie segera memakai jubahnya setelah melihat arah mata Savero tertuju pada tubuhnya yang memakai bikini.


Savero hanya bisa mengumpat pelan dalam hatinya. Dia telah candu dengan apa yang dia rasakan pada Essie.


"Baiklah sebaiknya kita masuk ke dalam. " ucap Savero. Essie mengangguk, segera saja pergi ke kamarnya. Sementara Savero mengambil pakaian ganti dari dalam mobil membawanya ke kamar mandi.


Tepat pukul empat sore, Erland datang menemui Essie, saudara kembarnya. Essie mengenalkan Savero pada sang kakak.


"Ada apa kakak datang ke sini? " tanya Essie.


Erland menyerahkan kartu undangan pada saudarinya. Essie langsung menerimanya, dia lekas memberikan selamat untuk sang kakak.

__ADS_1


"Lusa aku pasti akan datang ke pertunangan kakak dan perempuan itu. " ujar Essie dengan santai.


"Apa kamu masih marah sama kakak, Essie? " tanya Erland.


"Tidak ada kak, lagipula mau berhubungan dengan siapapun. Sebagai adik, aku hanya bisa mendukungmu. " ujar Essie.


Erland cukup lega mendengar pernyataan adiknya. Pria itu langsung berterima kasih dan mengobrol dengan sang adik. Kedua adik kakak itu saling memaafkan satu sama lainnya.


Savero sendiri memilih diam, memperhatikan adik dan kakak di hadapannya saat ini. Erland menoleh kearah Savero dengan tatapan datarnya.


"Sekali saja kau menyakiti adikku, kau akan berhadapan langsung denganku. " desis Erland dengan sorot tajamnya.


Essie tertegun mendengarnya. Dia berusaha tetap tenang agar sang kakak tak curiga padanya. Savero mengenggam tangan Essie dengan erat.


"Kakak pulang dulu ya Essie, jaga dirimu baik baik. " ucap Erland sambil tersenyum.


"Hati hati di jalan kak. " Essie menatap kepergian saudara kembarnya. Wanita itu menghela nafas lega sekaligus khawatir. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kakak dan keluarganya mengenai dirinya yang ternoda.


"Apa yang kau pikirkan Essie? " tanya Savero.


"Aku telah mengecewakan banyak orang terutama daddy dan mommy. Aku belum sanggup melihat raut kekecewaan mereka. " jawabnya dengan jujur.


"Sudah aku bilang, aku siap menerima resikonya dan kamu harus tetap tenang. " sahut Savero dengan serius.


Tepat pukul lima Savero pamit pulang. Apartemen kembali terasa sepi, bambi berjalan menghampiri Essie.


guk


guk


Essie lekas mengusap kepala Bambi dengan lembut. Saat ini tak ada yang bisa dian lakukan. Essie hanya bisa pasrah dan menerima kemarahan dari orang tuanya.


"Kau tahu Bam, aku mengecewakan semua orang. " gumamnya pada Bambi, si anjing poodle berwarna putih.


guk


guk


Essie tersenyum, kembali mengusap bulu halus Bambi. Wanita itu menghempaskan tubuhkya di sofa. Kepalanya mulai terasa pusing memikirkan masalahnya saat ini.

__ADS_1


Dia berharap akan ada solusi dari masalahnya besok, Essie hanya berharap kedua orang tuanya mau memaafkan kesalahan dirinya yang fatal.


"Ini sungguh rumit! "


__ADS_2